Where Have You Been?

Satu kalimat yang paling mungkin aku katakan padamu, saat kita menjadi kita, adalah, hei, kemana aja sih kamu?

Hei kamu yang masih tersembunyi di masa depan, tahukah kamu hari-hari seperti apa yang aku lalui selama ini?

Aku seringkali harus menutup mata dan telinga. Mereka semua bicara tentang apa yang harusnya aku punya di umurku sekarang.

Abai.

Abai.

Jika aku terlalu peduli apa tuntutan mereka, niscaya aku hari ini hanya akan beredar di seputar kamar rumahku saja. Tidak berani bertemu siapapun, sekalipun matahari.

Tutup mata. Tebalkan telinga. Abai. Pura-pura tidak terjadi apa-apa. Sejujurnya aku takut menjadi terlalu ahli untuk tak peduli.

Seandainya tak ada tuntutan itu, tak ada aturan konyol itu, jika mereka diam-diam saja, mungkin, sekali lagi hanya mungkin, aku tidak akan sekhawatir ini. Sehingga akhirnya aku terus saja memikirkan rencana untuk lari, entah sejenak, atau menetap. Aku ingin lari ke tempat orang-orang tak membuat aturan-bodoh-tak tertulis tentang cinta, pasangan dan kesepian.

Aku tidak naif. Tidak mencari penghiburan atau pembenaran dari petuah si bijak. Tidak berusaha membesarkan hati dengan artikel motivasi.

Tapi, apapun adanya, aku akan lebih senang jika kamu dekat. Dan ada. Sehingga aku bisa mencicipi peran lain dari yang kujalani selama ini.

Postingan populer dari blog ini

Film Filosofi Kopi... Sebuah Review dan Opini