Senin, 31 Agustus 2015

Tentang Kesiapan dan Keikhlasan

Aku sedang mengingat-ingat apa rencanaku dulu. 


Begini, aku ingin 2 tahun mengabdi di kantor sekarang. Aku akan langsung mengambil les Bahasa Inggris sekaligus melanjutkan pendidikan ke Strata 1. Kurencanakan dalam 2 tahun semua itu akan beres. Ada embel-embel S.Ikom di belakang namaku. English-ku pun meningkat pesat. Bolehlah kuajak bule di Bali bercas-cis-cus ria. Kemudian aku akan berburu beasiswa S2 ke luar negeri. Amerika... New York, Los Angeles, Kansas. Aku akan pergi. Aku akan semakin cerdas. Kecerdasan adalah harga diriku. Sesuatu yang membuatku percaya diri. Sesuatu yang membuatku merasa punya arti.

Aku berusaha mengingat-ingat. Dan ya, begitulah rencanaku. Tidak perlu ditanyakan di mana letak "hubungan" dalam hidupku. Aku menginginkannya tapi sadar betul, setelah melihat kenyataan bertahun-tahun lamanya, melengkungkan janur di depan rumah amat tidak mudah bagiku. Hal-hal romantis macam itu lebih mudah kubuatkan buku. Aku terbuka terhadap setiap kemungkinan cinta muncul di berbagai sudut-seperti orang-orang bilang. Tapi aku tahu lebih mudah meraih cita-cita. Kerja keras, isn't it? Tapi cinta? Sulit. Karena itulah tidak semua orang berhasil melakukannya.

Tapi semuanya berubah sekarang. Hei, jangan ge-er dulu. Aku ini lumayan impulsif dan tipe nekat pengambil resiko. Perubahan mendadak tidak membuatku takut.

Hanya saja... aku juga tidak mengira bakal sejauh ini. Aku masih ingin jadi lebih pintar, bertitel, memangku jabatan mentereng, dan sebagainya, dan sebagainya. Tapi di satu siang yang awkward tempo hari, aku menemukan diriku "siap". Ikhlas.

Aku ingin menyiapkan piring makanmu, lengkap dengan sendok-garpu, gelas... di depanmu. Aku ingin menyendokkan nasi ke piringmu. Sayur dan lauknya juga. Kamu tinggal makan saja. Dan oh ya tentu saja, sudah ada segelas air juga di samping piringmu. Aku yang menyediakan tentu saja.

Aku juga ingin sekali setiap malam menyiapkan baju dan celana kerjamu. Hei, maukah kamu kupilihkan baju kerja? Aku hanya sedikit terganggu melihatmu memakai celana krem untuk dipadankan dengan kemeja biru navi. Hahaha. Aku tidak modis, tapi memadankan warna, yaahhh, bolehlah.

Sebagai informasimu saja, Sigmund Freud membuatku kesal. Dia bilang memang pada dasarnya pria mengingkan sosok ibu sekaligus pelayan dari seorang istri. What the fuck! Aku toh wanita cerdas. Jadi mengapa aku harus mau jadi pelayan?!

Makanya aku agak terkejut dengan... naluri? Boleh kusebut begitu? Tiba-tiba saja aku ingin melakukan semua itu. Hal-hal yang dulu membuatku kesal tiap kali kakak-kakak perempuanku melakukannya untuk suami-suami mereka.

Aku ingin saja. Merasa rela jika itu untukmu. Aku yang agak feminis kali ini ingin jadi wanita rumah yang tradisional saja. Tentu saja jika nanti sudah terlalu repot, akan kita pekerjakan seorang asisten untuk melakukannya. Lagipula, kamu tidak akan menganggapku pelayan, bukan? Kamu adalah pria moderat yang tahu caranya menghargai wanita. Kamu boleh sedikit berbangga karena mampu menerbitkan naluri mengurus rumah dari perempuan yang dari dulu berpikir tentang hubungan fifty-fifty. Kesetaraan.

Aku masih ingin mengejar cita-cita. Tak pernah berubah. Tapi mungkin aku bisa melakukannya lebih dekat dari sini. Tidak perlu lah belajar ke Seattle tempat Grey's Anatomy shooting. Cukup dekat-dekat sini saja. Supaya bisa kusiapkan pula sarapan dan baju kerjamu selagi aku menimba ilmu.

Aku tergerak menulis ini sehabis membaca artikel tentang menua bersama. Rasanya nyata. Dekat, nyaris persis. Aku ingin menua bersamamu. Kata "selamanya" belum pernah tidak menakutkan seperti ini. Selamanya belum pernah semenjanjikan ini. Mempercayakan hidup kepada seseorang belum pernah terasa seringan ini. Asal bisa menjadi "kita" rasanya aku ingin menguatkan diri untuk apapun tantangan di depan mata. Aku ingin berusaha dan berpayah melincinkan kemeja dan celana poliestermu-persis seperti kata artikel itu.

Hei, aku sudah ikhlas. Jadi maukah kamu menjadi "kita"?

Girl Group Kpop In My Opinion

Right now it’s SNSD, tomorrow it’s SNSD, forever it’s SNSD, I love You. I won’t let you go, Mamamoo. Familiar dengan slogan in...