Tentang Jawaban Belum


Konon ada tiga jawaban dari Tuhan atas do'a-do'a hambanya: ya, tidak dan belum. Dan kali ini do'a saya pada-Nya sepertinya dijawab "belum".


Saya pernah menulis wanita tidak boleh (begitu saja) percaya pada naluri. Tapi berulang kali saya berintuisi bahwa situasi yang saya hadapi sekarang belum saatnya menjemput titik temu. Belum saatnya. Seperti lagu Glenn Fredly.

Saya sedang membicarakan tentang jodoh. Tentang perasaan yang terpendam. Tentang momen ketika kata "sah" sangat ditunggu-tunggu. Tentang gerak hati yang melumpuhkan lidah.

Belum saatnya. Itu intuisinya. Ini perkara waktu yang belum tepat.

Dan apakah saya harus kalut ketika diberi jawaban "belum"? Tentu saja tidak. Coba kita tengok apa yang bisa dilakukan selama masa tunggu itu? Ahh, rasanya saya ingin tetap bebas menginap di kamar kos teman, tidur lurus berhimpitan di kasur single, mengobrol sampai midnight, mengikik geli atas celetukan-celetukan konyol masing-masing, makan dimsum pinggir jalan dan mencoba-coba sepatu di toko Elizabeth. Atau naik motor berboncengan dengan teman saya yang satu lagi, lalu kami nongkrong di Starbucks seperti remaja gaul, ngobrol tentang kisah  cinta monyet yang tak kunjung kelar, kemudian belanja roti untuk dimakan di rumah. Atau juga nge-trip rame-rame ke sebuah kota wisata, berfoto-foto centil seperti tante girang, berburu kuliner khas, lalu menunggu giliran difoto di atas rumah pohon selama 3 menit setelah menunggu 2 jam. Semua momen itu spesial. Sederhana dan karenanya membekas di hati. Bahagia itu sederhana. Dan saya percaya hal-hal kecil nan sederhana yang justru mampu menyentuh hati.

Poinnya, ada banyak yang bisa dilakukan selama masa tunggu itu. Salah satunya menghabiskan waktu bersama teman. Plus berikhtiar menggapai cita-cita, tentu saja.

Ketika kau mendapat jawaban "belum", santai saja. Ketika "pria"-mu demikian sulit mengungkapkan perasaannya, cukup kita liatin aja sambil makan gorengan. Hahahaha.

Postingan populer dari blog ini

Film Filosofi Kopi... Sebuah Review dan Opini