Selasa, 29 Desember 2015

Tentang Limit


Mari kuberitahu satu hal tentang diriku. Ini sebuah rahasia kecil yang bahkan diriku pun baru menyadarinya. Kamu tahu, jemari kakiku akan menekuk ke bawah saat aku merasa tidak nyaman di sebuah tempat.


Akhir-akhir ini aku memang sering merasa tidak nyaman berada di sebuah tempat. You know where, tempat banyak orang yang sinyal-sinyalnya tidak tertangkap olehku. You know where, right?

Kadang, saat harus pergi lagi dari rumah setelah dua malam menginap, aku ingin memberontak. Rasanya baru sebentar perasaan secure ini kucecap, baru sekejap perasaan bebas dan hangat ini kusemai, tapi kemudian aku diempas lagi. Aku dipaksa lagi menjejakkan kaki ke dunia yang dingin. Ke dunia yang membuat jari-jari kakiku mengkerut ke bawah.

Aku tidak sedang mengeluh. Aku berusaha tidak. I am just describing what I feel.

Dan kamu tahu apa yang membuatku menahan diri? Aku tidak langsung pergi meski ingin~mengapa? Karena, sejak dulu, aku menetapkan limit. Aku mengiming-imingi diriku sendiri batas waktu.

Tenanglah, tidak akan lama lagi.
 
Sabarlah, sebentar lagi.
 
Bertahanlah, hal-hal baik itu akan segera datang.

Aku seperti KD yang menghitung hari. Aku menahan diri dan membujuk diriku sendiri untuk bertahan lagi. Bahwa hari-hari yang kurang menyenangkan ini punya batas akhir. Ini tidak akan lama, tidak boleh berlama-lama dan tidak untuk selamanya. Hang on, tough girl! Hari-hari yang lebih baik itu sudah di depan mata. Aku hanya perlu bertahan sebentar lagi. Ini tentang limit. Ini tentang batas waktu.