Selasa, 23 Februari 2016

Tentang Sebuah Lukisan Besar

sumber


Dulu sekali saya pernah menonton sebuah film. Bukan sebuah film dengan cerita yang luar biasa bagus,  tapi ada satu hal yang masih sangat kuat melekat di ingatan bahkan ketika lebih dari satu dekade telah berlalu. Seorang pemeran di film itu mengandaikan orang yang ia cintai bak sebuah lukisan besar di depannya. Sebuah lukisan besar yang menghalangi pandangannya kemana-mana. Kemana pun ia menatap, hanya wajah kekasihnya yang nampak.


Dan begitulah saya mengumpamakan sosokmu: sebuah lukisan besar di depan saya. Saya tidak bisa melihat pria lain. Hanya kamu yang terlihat.

Dalam satu percakapan kasual sore tadi di kantor, seorang teman bilang bahwa untuk bertemu jodoh kita harus banyak bersilaturahmi. Kita harus banyak berkenalan dan banyak ngobrol dengan siapa pun. Siapa yang menyangka ia yang hanya sambil lalu berbincang dengan kita karena sama-sama menunggu antrian di bank ternyata adalah jodoh kita? Atau seperti teman saya itu yang suaminya ternyata seseorang yang "sebatas tau nama" di kantor lama. Who knows?

Untuk seseorang yang sudah cukup usia untuk menikah dan bahkan belum lama ini memandang lemari sehabis rapi-rapi dengan sebuah pernyataan yang terbetik di kepala bahwa hidup ini tidak lagi layak untuk dijalani sendirian-mestinya, saya mengamini saran itu.

Tapi, saya harus berkata tapi. Bukan lagi alasan bahwa saya seorang introvert yang hampir mustahil SKSD ke orang baru, tapi ini mengenai kamu. Bagaimana saya bisa mencari peluang dengan orang-orang lain jika hati saya selalu tertuju kepada kamu? Jika yang selalu saya dengung-dengungkan adalah bahwa kamu sosok yang paling mendekati atas apa yang saya pikir akan menjadi jodoh saya.

Kamu adalah lukisan besar di depan saya. Saat ini dan entah sampai kapan, saya hanya bisa melihat kamu. Tidak peduli ada seorang pria tampan lewat di depan saya, saya cuma ingin kamu.

Orang-orang berdoa semoga dipertemukan dengan jodohnya, tapi saya berkeyakinan bahwa saya telah bertemu dengan jodoh saya yaitu kamu. Dan lantas saya berdoa untuk dipersatukan dengan kamu di waktu yang tepat. Ini sebuah keyakinan yang saya tanggapi dengan hati-hati nan penuh waspada. Saya tidak ingin mempermainkan hati sendiri dengan perasaan semu bernama angan. Tapi harus saya katakan keyakinan bahwa ada jodoh di antara kita tetap menggelora di dada saya.

Jika melihat kita hari ini sebetulnya agak meragukan bahwa nantinya pasfoto kita akan tertempel bersisian dalam dua buku yang dikeluarkan oleh KUA. Bukannya mengobrol secara intens mulai dari sekarang, kita malah jamak menghindari satu sama lain. Saya malah menebar kesan kalau saya benci kamu. Saya mendadak diam dengan mimik bete jika ada kamu. Ironis, ya? Kamu sendiri suka menghindar untuk berada di satu ruangan dengan saya-di lift, misalnya. Saya bisa katakan kapan-kapan saja kamu menghindar untuk satu lift dengan saya. Kita menghindari satu sama lain. Tapi seperti kamu yang seperti orang bodoh dengan datang ke depan meja saya hanya demi melihat apa yang saya lakukan, saya pun selalu ingin melihat kamu ~~ untuk kemudian saya palingkan muka seolah tidak peduli. Hahaha. Kita sepertinya dua orang yang benar-benar payah dalam hal ini.

Ya, saya sedang membicarakan kamu. Kamu yang selalu ingin tahu apa yang saya pandangi di layar komputer. Jika kamu membaca ini, ketahuilah saya tidak terkesan dengan ungkapan sayang yang tertulis di atas kertas yang kemudian diacungkan sambil berpose di depan menara Eiffel. Pun dengan surprised party di depan banyak orang. Sungguh, siapa pun bisa pergi mengelilingi separuh bumi lantas mengacungkan poster bertuliskan I love you lalu mengabadikannya dalam sebuah frame foto. Tapi hanya orang-orang yang bernyali yang mampu duduk di sebelah orang yang disukainya lalu menatap langsung matanya dan berkata secara jelas tentang sesuatu yang selama ini menyesakkan dada.

Ini ironis. Tapi katanya memang begitulah sebuah keyakinan yang sehat; selalu menyisakan sebuah pertanyaan. Di satu sisi saya yakin kamulah orangnya, tapi di sisi lain saya meragu. Benarkah saya ~~ ataukah saya hanya sebuah pilihan untuk kamu? Jika bukan begitu mengapa kamu berlama-lama membiarkan saya sendirian? Tidak kah kamu takut status saya mendadak berubah menjadi taken?

Hei, halo, lukisan besar! Saya sepertinya tahu apa yang bisa saya lakukan untuk mengetahui apakah saya berarti untuk kamu. Tapi sesuatu itu mesti menunggu. Dan jika, hanya jika, bahwa ternyata selama ini "kita" hanya ada dalam pikiran saya saja, mungkin saya sudah agak lebih leluasa untuk menggeser kamu si lukisan besar di depan saya - ketika momen sesuatu itu sudah tiba. Hingga saya pun bisa melihat orang-orang lain.

Tapi jika kita bicara hari ini, maka jelas bahwa saya hanya ingin kamu.