Senin, 28 Maret 2016

Buyar


Saya kenal gadis ini saat masih berseragam abu-abu. Saya suka lagunya sejak itu. Tapi baru merasakan relevansinya saat ini.

Namanya Jojo. Ia baru 13-14 tahun saat lagu Leave-nya menjadi hits. Lalu menyusul lagu Too Little Too Late di tahun 2016 yang juga sangat populer.

Tapi saya tidak ingin membahas soal gadis ini walaupun ya, seminggu terakhir ini lantunannya terus saya putar via MP3 dan belum ada tanda-tanda saya akan berhenti. Sudah pasti Jojo membutuhkan selusin infus seandainya ia menyanyi live untuk saya. Karena saya memutar ulang, berulang dan terus-menerus dua lagu gadis ini. Tak pernah terbayang dua lagu dari masa lalu ini mendadak jadi original soundtrack of my life. Perasaan saya sedikit banyak terwakili oleh dua lagu ini.




Ini tentang kamu dan harapan saya kepada kamu. Semua buyar. Saya diempaskan sebuah kenyataan pahit. Sepertinya ada ganjalan besar di ujung tenggorokan yang buru-buru minta dikeluarkan dalam bentuk tangis. Kamu, telah berhasil meluluh-lantakan hati saya. Pedihnya masih terasa sampai detik ini. Dan saya hanya bisa tertawa sinis tiap kali teringat apa yang pernah kamu lakukan kepada saya. Bagi kamu ini mungkin hanya sebuah permainan. Dan bagi saya sekarang, ini semua juga tak lebih dari sebuah lelucon.

Saya berhenti bertanya mengapa. Mengapa kamu pernah begini kepada saya? Mengapa kamu dulu begitu kepada saya? Saya tidak begitu ingin tahu lagi. Ada alasannya, pasti, dan saya bisa menduga satu-dua alasan, tapi saya ingin berhenti mempersoalkannya. Sudah tidak lagi signifikan-kamu dan segala perbuatanmu. Sekarang, saya lagi-lagi hanya bisa menyeringai melihat tingkah kamu yang belum juga berubah. Oh, please, saya tahu lebih banyak dari yang kamu kira. Tapi silakan lanjutkan teribble game-mu jika maumu begitu, saya sudah berhenti peduli.

Segalanya sudah buyar. Saya tidak ingin mendahului takdir, tapi jika bicara hari ini dan detik ini, saya tidak ingin saya dan kamu menjadi kita.


Saya sudah tahu tentang dia-perempuan itu.