Senin, 04 April 2016

When I could (not) give you all I have


Sudah bulan 4 dan blog ini masih saja tentang kamu.

You know what, like Jojo said, I know I have so much to give. Just for you. Only you. I did.


Saya pernah jadi perempuan yang ingin menitipkan jiwanya kepada kamu. My soul-that means everything I have. Saya pernah merasa sangat siap dan ikhlas menyandang status yang sejak dulu saya pikirkan dengan amat hati-hati. Hei, man, banyak hal yang ingin saya beri kepada kamu. And those came from the bottom of my heart. It was.

Tapi semua luruh dan buyar. Everything has changed. Jangan tanyakan apa-apa yang saya ingin dan bisa saya berikan kepada kamu. Itu dulu. Sekarang saya bahkan merasa tidak mampu membuka tangan untuk uluran persahabatan dari kamu. Tolong jangan seegois itu. Tanpa niat pertemananmu pun situasi saya sudah sulit. Dari seseorang yang pernah ingin memberikan dunianya menjadi seseorang yang bahkan tidak sanggup untuk membuka tangan-itu tidak mudah. You can't even imagine what I've been through. This feelings, this pain, this scar, this tears. Tolong jangan menuntut banyak.

Berteman.

Dalam pikiran pendek saya, bagaimana saya bisa berteman dengan kamu? You stare at me with eyes, I stare at you with feelings. Tell me, how can I? So please, don't ask for more.