Minggu, 01 Mei 2016

Tentang Relativitas Jodoh


sumber



Waktu SMA salah seorang teman saya pernah menyanggah ungkapan bahwa hidup adalah pilihan. Argumennya, kita tidak bisa memilih terlahir menjadi laki-laki atau perempuan. Saya lupa apa tepatnya kata-kata balasan saya pada dia dulu. Saya cuma bisa berpikir kalau argumen itu terlempar ke depan muka saya hari ini saya akan bilang, selama masih di perut anggap aja belum hidup, jadi belum ada PILIHAN untuk MEMILIH. Hah! Argumen macam apa itu?? Tapi sudahlah.

Saya sedang berpikir, semenjak membaca sebuah thread di Kaskus, bahwa ya, hidup adalah tentang pilihan. Hidup merupakan sebuah kehendak bebas. Kita bebas memilih ingin apa, bagaimana, kapan, kemana dan kenapa. Tapi jangan salah sangka, saya begini bukan berarti tidak percaya yang namanya takdir. Takdir itu di tangan Tuhan, saya jelas percaya. Ada beberapa hal yang kita usahakan sampai jungkir balik tapi tetap juga tidak bisa kita raih. Itu yang dinamakan takdir. Sesuatu yang ditakdirkan untukmu, sampai seribu tahun pun tidak akan pernah menjadi orang lain. Sebaliknya, sesuatu yang tidak ditakdirkan untukmu, sampai seribu tahun pun tidak akan pernah menjadi milikmu. Saya percaya itu. Tapi, Tuhan memberi ruang seluas-luasnya bagi hambanya untuk berusaha dan memilih. Ia Maha Berkehendak. Bukankah sudah jelas difirmankan oleh-Nya bahwa Ia tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri mengusahakannya? Itulah yang disebut nasib-sesuatu yang masih bisa diubah melalui usaha.

Hidup adalah pilihan. Contoh kecilnya saat kita makan di restoran; ada banyak varian menu, mau pilihan yang mana? Tiap makanan akan berdampak berbeda bagi pencernaan. Terutama jika kita punya masalah dengan sistem pencernaan atau alergi dengan beberapa jenis makanan. Kamu alergi seafood, alih-alih memilih menu ayam, kamu malah memilih memakan udang; boleh-boleh saja. Itu pilihanmu, kamu bebas berkehendak. Yang harus kamu sadari adalah sebuah pilihan selalu datang sepaket dengan konsekuensinya. Kamu sudah tahu udang akan menyebabkan kulitmu gatal dan memerah tapi kamu tetap bersikukuh; fine! Faktor akibat memang datang sepaket dengan penyebab.

Itu contoh kecilnya saja untuk membuktikan bahwa hidup memang merupakan serangkaian pilihan. Jika ada yang bilang bahwa kita hanya menjalani skenario yang dibuat Tuhan, saya kurang sependapat. Seolah-olah kita tidak bertanggung jawab akan masa depan karena toh kita cuma tinggal berlakon saja. Jika kamu berdiri di tengah jalan raya lalu tertabrak mobil, itu bukan skenario takdir yang Tuhan buat. Itu pilihanmu (yang buruk dan keliru). Kita tidak bisa memakai narkoba lantas berharap tubuh kita tetap segar bugar. Hal-hal yang terjadi di masa depan tidak lepas dari perbuatan kita di masa lalu. Kita punya kuasa untuk menentukan arah hidup sendiri, namun tetap segalanya akan berpulang kembali kepada-Nya.

Thread di Kaskus yang menjadi pemicu saya membuat tulisan ini adalah tentang relativitas jodoh. Dan tulisannya membuat saya berpikir tentang konsep jodoh yang sering digaung-gaungkan bahwa di luar sana ada seseorang yang tercipta untuk kita. Sebagai pribadi romantik, gagasan itu masih saya percaya. Saya pun percaya bahwa jodoh saya telah tertulis namanya di Lauful Mahfudz.

Namun thread tersebut juga membawa perspektif baru bagi saya berkaitan dengan jodoh. Rupanya ini juga merupakan sebuah pilihan. Sebuah keputusan. Kita memilih dan Tuhan telah menyiapkan konsekuensi atas pilihan tersebut di masa depan.

Dan ujung-ujungnya saya merelasikannya dengan kamu. Saya melewati banyak episode sejak saya sakit karena kamu. Saya pernah menjadi sangat marah, sangat sakit, sangat down dan hal-hal lain yang tidak menyenangkan. Dan kesemuanya itu sedikit banyak masih saya rasakan sampai sekarang. Lalu tibalah saya pada hari ini, waktu di mana saya kembali menyelipkan namamu di dalam doa-doa saya.

Ya, setelah lama absen, saya kembali menyebut namamu dalam permohonan saya kepada-Nya. Tapi kali ini lain, alih-alih meminta kita dijodohkan, kali ini saya meminta kepada-Nya agar kamu diteguhkan hatinya. Agar kamu berpegang kepada keputusan yang sudah kamu buat.

Kamu sudah memilih gadis itu. Perkara kamu punya rasa kepada saya atau pernah atau masih-itu tidak lebih penting dari fakta kamu telah memilih gadis itu. Dan saya mendoakan agar kamu teguh pada pilihanmu dan sadar sepenuhnya akan konsekuensinya. Saya mengenal gadis ini. Dia baik dan pintar, walau saya bisa ceritakan beberapa hal menjengkelkan tentang dia. Jangan salah sangka. Saya berusaha memisahkan urusan hati dalam berteman dengan gadis ini. Hal-hal annoying tentang gadis ini tetap saya rasakan sekalipun tidak ada kamu di belakang dia. Dan saya tidak bilang gadis ini buruk; saya hanya tidak punya cukup tenggang rasa untuk beberapa sifatnya. Namun kamu tentu lebih memahami dia daripada saya, kan? Dan karena kamu sudah memilih dia, saya akan anggap kamu punya toleransi yang cukup atas bagaimanapun karakter gadis ini.

Bohong kalau saya bilang saya sama sekali sudah tidak mengharapkan kamu lagi. Bahkan belakangan lagu inilah yang saya dengar,



Saya tidak akan menyangkal bahwa ada sebagian dalam diri saya yang tidak bisa berhenti berharap ada masa depan untuk kita. Tapi saya selalu mengingatkan diri sendiri bahwa pribadimu yang teguh memegang prinsiplah yang menjadikan kamu spesial di mata saya. Karena itu saya berdoa agar kamu teguh pada pilihanmu. Saya berusaha ikhlas.

Ikhlas adalah usaha terus menerus. Ia adalah proses, bukan hasil. Saya percaya ini.

Girl Group Kpop In My Opinion

Right now it’s SNSD, tomorrow it’s SNSD, forever it’s SNSD, I love You. I won’t let you go, Mamamoo. Familiar dengan slogan in...