Sabtu, 31 Desember 2016

Tahun 2016 Part 1


Hai, halo, sebentar lagi Insha Allah 2016 akan berlalu. Ada apa sepanjang tahun ini?


Jadi, kita mulai dari mana? Beberapa waktu lalu saat saya sedang ngobrol dengan seorang teman, saya bilang tahun 2016 lebih banyak sedihnya. Tidak salah juga, walau di bulan ke dua belas ini saya semakin jago menyingkirkan rasa-rasa sedih akibat patah hati yang belum tuntas bahkan sampai hari ini.

Tahun ini saya banyak sakit; terbanyak dari tahun-tahun sebelumnya. Saya dua kali keracunan makanan, masuk angin parah setelah siang kemarinnya donor darah untuk pertama kalinya, dan batuk yang lumayan bikin frustasi. Tubuh begitu rentan terpapar penyakit; yang kemungkinan imbas dari rusuhnya hati. Bukan cuma soal cinta, tapi hubungan antar teman dan hubungan keluarga. Semuanya memberi sumbangan rusuh di hati dan kisruh di otak.

Tapi tahun ini juga saat-saat saya semakin rajin mengonsumsi buah-buahan. Sekarang sarapan standar saya adalah dua pisang. Sesekali, kalau stok pisang habis, saya beli sarapan di luar atau makan popmie. Yang disebut terakhir malah hampir seminggu sekali jatahnya. Hehehe. Ga pa-pa lah yaa, perut dijaga, bukan dimanja. Yang penting tau batasan.

Selain pisang, sekarang abis makan malam saya juga makan buah. Biasanya pepaya dan sesekali melon. Dari satu biji pepaya California yang ternyata asli Indonesia itu saya bagi 3. Jadi biasanya sepertiga buah sekali makan. Lumayan, abis nasi sepiring, tambah buah potong juga sepiring.

Kebiasaan ini bermula dari saya yang pengen lanjut ngunyah setelah makan malam. Terpikir daripada ngemil keripik atau cemilan berminyak lainnya, ya mending makan buah. Sehat! Sebelum ini saya juga suka ngemil edamame yang direbus sendiri. Tapi karena terakhir kali sakit perut berat abis makan edamame, saya belum tergerak beli lagi. Just info edamame yang saya makan terakhir kali itu dikemas press dan tertinggal di kulkas seminggu lebih sampai plastiknya menggembung. Saya nekat tetep ngerebus dan makan beberapa potong sebelum akhirnya nyerah karena rasanya yang udah nggak karuan. And the rest is just a history...

Selain itu juga saya lagi ngurangin kacang-kacangan. Karena dari pemeriksaan gratis di acara seminar kesehatan kantor November lalu, saya didiagnosa punya kadar asam urat 9 dari range normal 5,8 sampai 6 untuk perempuan. Dari kegiatan browsing kalau sendi kita nggak kerasa sakit sih berarti nggak perlu melakukan langkah pengobatan. Tapi ya sadar diri aja. Nggak ada salahnya mengurangi resiko dengan jaga makanan.

Semenjak cek saya belum pernah lagi makan cumi, udang, sarden kalengan dan teri. Jeroan juga baru sekali itu pun dikit. Daun singkong dimakan kalau lagi ke warung Padang, yang harus diakui terbilang sering (hee...). Dan saya sangat bersedia meninggalkan tempe (emang dasar nggak suka hehehe) tapi menolak menjauhi tahu. Nggak bisa! Plus kebiasaan makan pisang dan minum teh hijau menurut beberapa sumber ternyata baik untuk mengontrol kadar asam urat.

Kata temen, saya itu pilih-pilih makanan. Nggak sepenuhnya salah walau sebetulnya ini karena saya banyak nggak doyannya. Ini-itu nggak doyan. Belum lagi makanan yang doyan tapi malas makannya. Wah, banyak. Terutama buah-buahan, banyak banget yang saya nggak suka. Apel, semangka, pear dan nangka adalah segelintir buah yang saya bisa makan tapi bener-bener pilihan terakhir. Dan amat jarang saya akhirnya memilih untuk memakan buah-buahan itu, terutama pear. Tapi nggak apa-apa, paling penting saya picky bukan pengen makan yang mahal-mahal, masalah nggak doyannya aja sih. Plus saya juga berpikir semakin tua baiknya menu makanan kita semakin sederhana. Nggak nafsu lagi makan ini-itu. Prinsipnya makan untuk hidup, bukan hidup untuk makan.

Belakangan badan suka pegel-pegel yang saya asumsikan manifestasi PMS. Tapi tertarik juga sih suatu saat punya sepeda statis. Biar sendi lutut nggak gampang pegel gitu. Sekarang palingan memotivasi diri untuk lebih sering senam biar nggak kaku.

Tahun depan harus lebih sehat dan lebih bugar lagi. Semangat!