Tahun 2016 Part 2


Kalau di postingan sebelumnya saya membahas tubuh secara lahiriah, sekarang giliran batiniah. Yep yep!


Badewe mp3 saya lagi muterin lagu Selamanya Cinta-nya Yana Yulio.

Andaikan kudapat
mengungkapkan
perasaanku
Hingga membuat
kau percaya...

Huhuhu.

Sebelum merambah ke soal asmara pribadi, saya mau bilang tahun ini masih seperti dulu, saya masih gelisah tiap kali ke mal. Ngeliat sekuriti, penjaga pintu dan SPG; bawaannya nggak nyaman; terpikir betapa bosannya melakoni pekerjaan mereka. Berdiri menjaga atau menunggu. Apalagi kalau kerjanya di mal yang sepi macam mal depan kantor itu. Hahaha.  Satu profesi di antaranya pernah pula saya lakoni. Semoga mereka disabarkan; terlepas mereka suka atau tidak menjalani pekerjaannya. Ya dong, kita kan emang kudu sabar di berbagai periode kehidupan.

Lalu saya juga suka mikirin pedagang pinggir jalan yang keliatan minim pembeli. Duh, gimana hidup mereka ya? Kalau nggak laku gimana? Apalagi kalau yang dijual itu makanan atau buah yang punya masa basi dan busuk. Duh! Lagi-lagi saya juga pernah dalam kondisi subjek. Trus apalagi kalau yang jualnya udah tua. Nah ini, antara kasihan dan patah hati. Masalahnya, melihat seorang tua yang masih mau bekerja, saya teringat Papa yang... ahhhh.... Beribu tanya "mengapa" yang tak kunjung usai. Mungkin pengabaian memang solusi termoncer untuk menghindarkan hati dari retakan lebih dalam.

Lalu belum lama ini saya melihat anak laki-laki berumur sekitar 10 tahun yang duduk mengupas bawang di depan kantin ibunya. Bajunya jersey, celana pendek dan rambut tersisir rapi, tapi anak itu nggak gengsi duduk mengupas bawang. Pengen peluk rasanya. Manis sekali punya anak yang nggak malu bantuin ibu.

Masalah dengan teman-teman adalah masalah penting yang kadang, kalau lagi select, memicu saya buat jalan-jalan sendirian alias solo traveling. Pingin melipir sejenak dari tempat dan orang-orang yang membuat saya sesekali menyamakan suhu antara bokong dan jidat... masih waras nggak ya?

Memang hubungan antar manusia itu nggak ada yang mulus-mulus aja. Ada yang tadinya akrab banget jadi berjarak karena satu pihak tersinggung dengan kata-kata si pihak lainnya. Tahun ini jadi saksi perubahan respek saya ke satu orang gara-gara dia ngotak-atik hape saya secara kurang ajarnya. Langsung ilfil sampe sekarang nggak ilang-ilang.

Lalu saya juga jadi dingin dan berjarak dengan seorang teman yang dulunya lumayan akrab. Pemicunya banyak dan dalam satu kesempatan memunculkan momen untuk meledak. Plus ada persoalan lain yang membuat saya berpikir tidak terlalu dekat teman yang satu ini adalah jalan terbaik.

Hancurnya harapan adalah sisi lain dari episode patah hati. Kali ini saya dibuat mesem nyaris tak tertarik tiap kali orang-orang bertanya tentang "calon" atau berusaha menjodoh-jodohkan dengan yang lain. They don't know and don't need to know. Intinya, seperti lagu dangdut, jatuh-bangun saya menata hati lagi dan lagi.

Tak mengapa. Peristiwa ini memberi saya banyak ilmu dan sudut pandang. Sedihnya pun membuat saya semakin pandai merasa untuk kemudian berlapang dada. Rasa itu mengajarimu soal menerima karena itulah satu-satunya yang bisa kamu lakukan: menerima.

Orang ini spesial, karena mampu membangkitkan intuisi primitif saya sebagai perempuan. Saya pernah pingin begini-begitu seandainya kami bersanding, tapi ya sudahlah. Saya hanya mesti lebih kuat lagi. Bulan Desember ini malah saya sering merasa sudah terlalu capek menangisi dia.

Lalu di penghujung tahun ada seorang pencuri perhatian. Tepatnya, pengalih perhatian. Saya ingin mengucapkan terima kasih karena ia membuat saya tersadar saya mampu move on. Ia adalah pembuktian. Itu saja. Saya mungkin tidak bisa dan tidak mau terlalu jauh. Ada banyak yang tidak sejalan dan tidak boleh. Begitulah. Tapi, terima kasih, dengan saya tersipu melihat tingkahmu sudah menandakan saya bisa move on. Itu saja.

Postingan populer dari blog ini

Film Filosofi Kopi... Sebuah Review dan Opini