Selasa, 25 April 2017

Tahun 2016 Part 3




Mungkin agak terlambat untuk flashback tahun 2016 di bulan April 2017. Tapi karena edisi 2016 part 3 saya maksudkan untuk mengulas dari sisi pikiran dan pendapat politik, maka menulis tentang hal ini sekarang seharusnya nggak telat-telat amat.

Jadi Pilgub Jakarta periode 2 baru aja berakhir. Tanggal 19 April tempo hari merupakan hari bersejarah yang menandai Jakarta bakal punya Gubernur baru. Anies Baswedan dan Sandiaga Uno bakal jadi orang nomor 1 dan 2 di Jakarta mulai Oktober depan.

Sesuai prediksi banyak lembaga survei, Ahok memang kalah. Persentase tingkat kepuasaan masyarakat terhadap kinerja Ahok terbilang tinggi, tapi lucunya warga DKI enggan memilih beliau lagi. Ini adalah sebuah anomali. Tapi pada periode pertama pun, seperti yang pernah dibilang Anies kalau nggak salah, warga DKI memang menginginkan gubernur baru. Indikatornya? Total pemilih Agus dan Anies jika digabung lebih besar ketimbang jumlah pemilih Ahok.

Saya ber-KTP kabupaten Tangerang, tapi Pilgub Jakarta adalah isu nasional. Dan sebagai daerah yang tetanggaan langsung pastilah Tangerang akan terkena dampak dengan apapun yang terjadi di Jakarta. Jadi bersikap masa bodo tenrang Pilgub DKI bukanlah pilihan bijak. Walau ya, makin mendekati tanggal 19 April kemarin, saya mulai jengah dengan segala drama pilkada ini.

Saya setuju dengan closing statement Ahok di Debat Final Periode 1 bahwa paslon lain seperti Om dan Tante yang mau merusak aturan rumah yang dibikin orangtua. 


Tapi saya juga setuju dengan statement Anies bahwa isu penistaan agama juga dipicu omongan Ahok yang sebetulnya nggak perlu. Soal Al Maidah di Kepulauan Seribu, soal password Wifi... itu semua memang nggak perlu diomongin oleh Ahok. Pilgub Jakarta ini, betapapun bagi saya sangat krusial untuk Indonesia, sungguh sangat melelahkan. Bikin muak. Bikin jengah.

Oleh karena itu, karena sudah ketahuan siapa yang terpilih, ayo, sudahi drama ini. Kembalilah jadi warga Indonesia yang bersatu. Sudahi permusuhan ini. Nggak perlu ada omongan: ternyata biarpun ibukota, warga Jakarta tetep aja kurang pinter, mau-maunya dikasih janji bombastis rumah DP 0%! Atau, yang belakangan ini saya suka lihat di Instagram, ada orang-orang yang mendaftar nama-nama artis dan tokoh politik yang mendukung Ahok. Astaga, mau ngapain coba kayak gitu? Karena paslon dukungannya menang, lantas merasa di atas angin? Tiap orang punya kebijaksanaannya sendiri-sendiri dalam menentukan pilihan. Kita nggak perlu menghakimi atau merasa paling benar.

Ayolah, cukup! Kita nggak mesti buang tenaga buat politik doang. Sudahi sikap-sikap ektrem yang cuma memicu perpecahan bangsa. Kita nggak perlu menjadi terlalu kiri atau terlalu kanan. Kita mesti cerdas. Kalau kita gampang diprovokasi untuk bersikap begini-begitu, gampang dipengaruhi dan dibentur-benturkan oleh isu sentimen agama, maka sudah saatnya berubah. Kita mesti cerdik berpolitik. Dan yang perlu diingat, kita ini saudara sebangsa dan setanah air. Jadi buat apa kita mencerai-beraikan sesama saudara sendiri?

Cukup!


Gue dan Hallyu... (Part 2 : Kpop)

Beberapa minggu sebelum ke Bali, entah dapet ilham dari mana, gue mulai browsing soal Lalisa Manoban. Ujung-ujungnya gue menonton...