Senin, 01 Mei 2017

Mempertanyakan Keamerikaan In A Blue Moon Karya Ilana Tan


In a Blue Moon karya Ilana Tan berkisah tentang Sophie Wilson dan Lucas Ford yang dijodoh-jodohkan oleh kedua kakek mereka. Tapi "perjodohan" mereka tidak berjalan mulus karena Sophie membenci Lucas. Lucas adalah orang yang membuat masa SMA Sophie seperti neraka.


Saya memanfaatkan aplikasi Ijak untuk membaca IBM. Ini adalah novel kedua yang berhasil saya pinjam setelah Antalogi Rasa-nya Ika Natassa. And I have to apologize to Ika, AR saya kembalikan sebelum selesai. Kalau tidak salah saya baru sampai di halaman seratus sekian. Dan saya putuskan menyerah menyelesaikan 200 halaman lagi yang sudah pasti tetap penuh dengan kalimat berbahasa Inggris dan ceracauan tokoh-tokohnya tentang Zirca, F1 dan adegan-adegan film Hollywood. Maaf Mba Ika, baca tulisan miring-miring via hape itu lelahnya dua kali lipat ketimbang baca via fisik buku loh (alasan aja!). Hehehe. Dan kalau sampai saya membaca lagi umpatan "anjis" dari tokoh Harris, bakal saya banting hape saya! Hmm. Next time lah saya coba lanjut lagi baca AR.

Kembali ke buku IBM. Ini adalah rekor saya yang baru. Maksudnya, udah cukup lama saya nggak membaca buku tanpa mengulik-ulik bocorannya di Goodreads atau review mandiri para blogger lebih dulu. Pokoknya saya bertekad nggak akan sedikit pun buka Goodreads sebelum rampung baca dan menulis review-nya di sini. Bahkan saya nggak baca sinopsis utuh. Dulu pernah sih baca-baca sinopsisnya pas maen ke Gramedia, tapi udah lama dan saya lupa persisnya bukunya bercerita tentang apa. Pokoknya kali ini saya mau bikin diri saya "no have idea" tentang IBM.

And here this.

Ini adalah karya ketiga Ilana yang saya baca. Saya udah baca Winter In Tokyo dan Sunshine Becomes You. Dan seperti halnya buku-buku itu, IBM juga bersetting luar negeri. New York, sama seperti SBY (singkatannya anjirr!). Dan seperti buku-buku lainnya juga, IBM tetap bercitarasa buku terjemahan.

Jadi menurut saya ya IBM sederhana aja. Ini tentang kisah dua orang di New York dengan percakapan mereka yang tarik-menarik, benci jadi cinta, dan berusaha memandang hubungan mereka secara dewasa dengan menanggalkan rasa curiga dan prasangka.

Kalimat-kalimat yang dilontarkan tokoh-tokohnya sangat Amerika. Sangat free sebagaimana budaya di negeri itu. Ilana pintar merangkai percakapan semua orang. Tapi, maaf, saya meragukan interaksi semacam itu dilakukan orang Amerika, New York khususnya.

Saya bukannya nggak tahu pada umunya orang Indonesia suka apapun yang luar negeri, termasuk setting luar negeri di dalam sebuah buku. Tapi sebetulnya apa tujuan Ilana bikin buku rasa terjemahan dengan tokoh-tokoh asli sana dengan salah satu tokohnya (biasanya heroine) punya keturunan Indonesia? Karena jujur aja untuk novel IBM saya akan lebih bisa menerima kalau tokoh-tokohnya orang Indonesia yang migrasi ke sana. Dengan rangkaian cerita semacam itu, orang Indonesia dengan segala kebudayaan yang kita anut akan lebih pas. Tapi New Yorker?

Bukannya saya ngerti banget soal New Yorker. Toh pengetahuan saya semuanya berasal dari buku dan film (Hmm, kalimat ini saya ambil dari sebuah blog, hehhee). Tapi, jujurlah, apa yang kita pikir tentang New York, tentang orang-orangnya? Saya nggak akan protes tentang Ilana yang mencomot nama-nama jalan di New York dengan begitu aja tanpa penjelasan lebih lanjut, saya udah cukup terbiasa dengan gaya Ilana yang menjadikan luar negeri sebagai setting cerita tapi pas baca bukunya malah dikisahkan secara umum aja. Saya nggak akan protes soal setting, tapi orang-orangnya?

New Yorker itu bebas. Kita bolehlah percaya orang-orangnya berkencan sesering ia berganti pakaian (Ya? Ya? Ya? Percaya aja ya!). Semua orang tiba-tiba berakhir di ranjang setelah acara minum-minum di bar. Tapi di IBM diceritakan bahkan untuk memperoleh status bersama aja, Miranda Young harus bermain-main dengan kalimat yang berputar-putar. Kalau memang Lucas itu penakluk wanita seperti yang digambarkan, seorang Miranda mungkin akan menjadi salah satu perempuannya untuk One Night Stand alias berdiri semalaman, betapapun Lucas sama sekali tidak menaruh hati.

Bukannya saya kepingin cerita soal ranjang, tapi, ayolah, apa orang-orang New York menjalin hubungan ala Sophie dan Lucas? Agak terlalu "sopan" menurut saya. Makanya saya bilang akan lebih masuk akal kalau ini tentang orang Indonesia yang migrasi ke New York. Kita akan lebih permisif soal tatakrama yang memagari tokoh-tokohnya. Tapi Lucas dan Sophie adalah New Yorker sejati. Sophie memang anak adopsi berpenampilan Asia yang bolehlah kita asumsikan dia asli Indonesia karena hei, ini kan bukunya Ilana, tokoh keturunan adalah hal wajib! Tapi se-Asia-Asia-nya Sophie, tetap aja dia tumbuh dengan kebudayaan Barat. Atau kalau emang harus di luar negeri juga ya pindahin ke negara Asia aja kan bisa, di Korea Selatan atau Tokyo (lagi) gitu. Toh karakter-karakternya lebih kayak karakter drama Korea ketimbang New Yorker.

Jangan lupa untuk menghitung beberapa kata kerja yang sering muncul. Kalau dulu di SBY saya sering membaca tentang tokohnya yang sering memberengut, maka di IBM saya menemukan Sophie sering menyipitkan matanya. Juga cewek ini suka menggerutu dan mendesah dalam hati.

Lucunya, pada awal-awal baca, saya suka mempraktekan bahasa tubuh tokohnya: mengangkat alis, tersenyum lebar, mengangkat sebelah bahu, setengah mendengus setengah tertawa.

Yang cukup mengganggu juga soal sikap protektif kedua abang angkat Sophie. Ya kali ah, salah satu abangnya bilang ke Sophie bahwa Sophie tetap orang terpenting di hidupnya. Dan abangnya itu bilang begitu di pesta pernikahannya sendiri! Wow banget! Jangan segitunya lah buat bikin si heroine sangat lovable.

Oh, satu lagi, dalam salah satu atau dua bab, kita akan menemukan nama Lucas Ford disebut lengkap. Entah apa maksudnya, seakan ada Lucas lain di dalam buku hingga penulis khawatir kita mengasumsikan Lucas selain Ford jadi harus selalu dituliskan lengkap dengan nama keluarganya.

Oke, demikian review saya *buru-buru buka Goodreads*