Senin, 29 Mei 2017

Opini Antalogi Rasa





Mengingat beberapa hal yang perlu gue kerjain lebih dulu dan bahkan buku Shopaholic yang beli dari kapan tau itu belom rampung juga sampai sekarang, sebetulnya gue menghindari untuk meminjam bacaan apapun di iJak. Tapi karena di timeline iJak yang iseng gue buka-buka kalau lagi gabut di kantor gue selalu menemukan Antalogi Rasa di-add seseorang dan jumlah kopiannya tersedia banyak, ya udah gue borrow juga deh tuh.

Seperti yang pernah gue singgung waktu gue mengulas In a Blue Moon sebelum ini, sebetulnya gue juga udah download AR yang akhirnya gue balikin sebelum tuntas. Waktu itu gue bilang gue udah nyampe di halaman seratusan, eh pas gue borrow ulang ternyata gue baru nyampe 70 an halaman aja. Hahaha. Yang gue ingat kenapa gue nggak gitu tertarik baca AR karena capek banyak kalimat miring-miring via hape. Udah gitu, astaga, itu umpatan 'anjis' bikin gue... hadeeehhh!! *apasih*

Tapi akhirnya gue baca lagi (nerusin, bukan diulang) mungkin sekitar 3 mingguan sejak pengalaman pertama, dan yah, selesai juga. Gue berkali-kali mengecek berapa halaman lagi untuk sampai di ending, dan bahkan sudah cheat baca bab terakhirnya, karena yaa kok panjang juga nih novel.

Dan apa kesan gue setelah baca AR?

Thank God karena lanjutan ceritanya ga ada kata 'anjis'. Hahaha. Dan, ketimbang Critical Eleven gue lebih suka AR. Faktor yang menentukan adalah writing style Ika dan pemilihan diksinya yang oke. Dari samar-samar yang gue ingat tentang CE, narasi di AR lebih bagus meski cara penceritaannya sama, dibagi-bagi per tokoh. Tapi di AR, penggalian emosinya lebih padat dan konstan walau ya, seperti CE, konfliknya ya mbulet di situ-situ aja.

Di luar komentar orang-orang yang menilai karakter Keara yang self centered dan egois banget, gue menemukan ya, karakter ini sebenernya menarik. Menarik asal,

1. Dibikin konsisten. Jadi maunya dibikin gayanya selangit, sosialita abis, ngelabelin rakyat jelata dan cheap food, yah sok lah. Tapi kemudian si Key yang ogah banget jalan kaki buat makan siang, manjanya ga ketulungan, malah... eng ing eng megang-megang tangan nenek-nenek tukang jualan kerupuk di Bali. Like, hey, where's ur attitude, girl? Misalkan ada penjelasan kalau itu spik-spik dia doang di depan Ruly sih gue jadi lebih paham. Tapi ini maunya gimana? Udah gitu hobi ngebolang ke Pasar Subuh Senen dan Pasar Ikan buat motret, yang pastinya banyak rakyat jelata yang dia alergi banget sampe-sampe mencak-mencak pas diajakin ke Tanah Abang. Jadi ini sebenernya maunya gimana loh? Kenapa harus selalu ada dua dualisme yang nggak singkron di novel Mbak Ika seperti halnya di CE? Konsistenlah bikin Keara gayanya selangit karena stereotip cewek high class gitu bukannya ga bisa dibikin adorable kan-seperti yang diniatkan penulisnya tentang tokoh ini-meski tanpa adegan bertentangan begitu. Kalau mau motret kan bisa ke deket bandara gitu biar ga deket-deket rakyat jelata. Why, author why?
2. Kenapa sih tokoh ceweknya harus senarsis itu? Mengaku-aku I am hot! Serius nih? Dan, ya ampun, ratu pesta tetep punya IPK 3,5 dari Stern! Hebat banget emang.

Kenapa gue bisa bilang sebenernya Key itu menarik asal sedikit dipreteli beberapa sifatnya yang ga relevan adalah, menurut penuturan Ruly, Key itu carefree aja bawaannya. Key ga akan membiarkan dirinya sendiri terjebak sesuatu yang ga dia banget, misalkan stuck di Bali untuk pekerjaan. Dengan salah satu cara si Key bakal mengubah suatu keadaan supaya suitable buat dirinya yang maunya fun mulu. Dia bisa-bisanya gitu nyolong-nyolong kesempatan buat having fun di antara padatnya jadwal meeting kantor. See? Menurut gue sih itu udah cukup kok buat bikin seseorang tampil menarik. Dia begitu alive-nya, sangat liveable dan menyenangkan. Tidak untuk dijadikan pasangan hidup mungkin, tapi seru kan kalau punya temen gila kayak gitu? Jadi apalah itu nambah-nambahin adegan baik banget sama tukang kerupuk cuma supaya terkesan unpredictable.

Karakter ke dua adalah Harris. Dari CE sampai AR, gue ga bisa jatuh cinta atau at least simpati sama tokoh cowok yang sama-sama bernama belakang Risjad ini. Karena mereka ini berlebihan banget memuja karakter ceweknya. Apalagi si Harris ini, aduh, awal-awal suka banget ngomong 'anjis' meski ini selera pribadi saja aja sih hehehhe. Dan demiapa kepedulian dia tentang hidup ini cuma soal kejantanannya dan Keara doang? Berkali-kali bilang begini begitu yang dia anggap banci dan dia jijik harus mengatakan itu tapi ya maaf semakin dia insecure sama kelaki-lakiannya, semakin dia keliatan loser banget. Dan narsisnya sebelas-dua belas sama Keara. Gue pikir mungkin insafnya seorang playboy-Harris-akan lebih mengundang simpati misalkan cewek yang bikin dia mau serius itu tipe lurus, sederhana dan bersahaja. Seolah setelah petualangannya selama ini akhirnya dia menemukan sosok 'rumah' yang mungkin mengingatkan dia akan sosok ibunya. Klise? Iya. Kayak drakor? Iya. Tapi bukankah lebih make sense? Eh, malah jatoh juga ke tipe-tipe cewek mantannya juga-Keara. Karena Keara hot abis, gitu? Aduh duh, kalau cantik doang mah pasti bakal ada yang lebih cantik lagi, kali. Why, author why?

Lalu Ruly, tokoh yang digambarkan alim sama semua temennya (mirip-mirip Ale) tapi begitu cerita beralih ke POV-nya sendiri langsung bubar karakter lurusnya. Full of mouth juga. Ngehina-hina diri kacung juga. Dan kenapa sih dia nggak logis banget jadi laki? Udahlah, itu si Denise udah jadi bini orang.

Dan resiko menulis POV masing-masing karakter ya jadi suka rancu dan ga keliatan bedanya. Bagaimana pun tiap orang punya kekhasannya sendiri. Pemilihan kata untuk menunjukan sesuatu bagi tiap orang pun berbeda-beda.

Dari penjelasan soal karakter di atas mungkin kesannya gue ga suka bukunya. Padahal gue suka, paling nggak sama cara bertuturnya yang ngalir dan diksi-diksi yang pas. Salah satu part yang gue suka pas si Harris ngebayangin Keara jadi Godzilla dan menyembur-nyemburkan api ke Denise. Hehehe. I like this book. Tapi emang pake modul "asalkan begini" dan "asalkan begitu" sih. Contohnya referensi film dan quote yang begitu banyak dan malah menghilangkan maknanya karena porsinya yang berlebihan. Sebegitu banyaknya referensi internasional sampe pas ada bagian itu gue baca sambil lalu aja, percuma, ga bakal inget juga. Kecuali diambil satu-dua yang paling related sama ceritanya mungkin bakal lebih memorable.

Catatan terakhir, untuk gue amini juga sekalian, membaca karya seorang penulis yang enggan membendung egonya sendiri dan tampil menyuarakan pikiran-pikirannya padahal ini bukan autobiografi memang agak annoying ya. Seperti dalam salah satu part ada tulisan begini, "izinkan aku mengutip satu lagi bla-bla-bla", oh, wow, yah, bisa dinilai sendirilah. Memberi empati sang penulis sih ya nggak bisa dihindari tapi ya porsinya juga ditakarlah.


P.S : Kalau benar AR mau dibikinin film, gue rasa penulis skripnya harus lebih bijaksana menggambarkan tokoh Keara. Kalau tetep dibikin songong dan dikit-dikit nyeplak ‘rakyat jelata’ dan bla-bla-bla, wah, bikin ga simpati banget nantinya. #sekedarInput