Sabtu, 08 Maret 2025

Panjang Umur Perjuangan


Hari kedelapan bulan Ramadhan. Dua minggu setelah aksi #IndonesiaGelap. Apa yang terjadi akhir-akhir ini? Apakah kita harus bersabar dan menghentikan perlawanan? Saya pikir ada alasannya kenapa orang-orang mengatakan "panjang umur perjuangan". Nafas aksi perlawanan memang mesti panjang.

 

Sambil menamatkan Tokyo Love Story, saya sering selang-seling nonton ulang Mr. Sunshine. Masih teguh dalam benak bahwa serial ini saya akan tonton ulang bersama my own sunshine. Tapi di sini saya sedang tidak ingin menulis tentang harapan kisah romansa pribadi. Saya ingin bicara tentang perlawanan.

Mr. Sunshine mengambil setting waktu di masa-masa pergolakan. Masih sekitar setengah abad lagi sebelum akhirnya Korea Selatan menyatakan kemerdekaan. Dan itu yang membuat saya berpikir; menghubungkannya dengan masa sekarang di negeri sendiri.

Kata mereka, tidak ada perlawanan yang sia-sia. Tidak ada perlawanan yang terlalu kecil. Setiap perlawanan bagaikan akar yang mengular di bawah tanah. Mereka bilang kalau menengok Twitter, seolah negara akan bubar besok. Mereka juga bilang lingkup Twitter itu kecil. Apa yang ramai diributkan warganet di Twitter tidak benar-benar terjadi di dunia nyata.

Negara ini, hari ini, sungguh carut-marut. Kasus terakhir yang bikin heboh seantero negeri adalah tentang korupsi Pertamina yang orang-orangnya disinyalir mengoplos pertamax dengan pertalite. Sebagai penduduk negara yang sistem transportasi umumnya jelek alias kebanyakan dari kami adalah pengguna kendaraan pribadi, jelas berita korupsi ini menyita perhatian banyak orang. 

Bobrok luar biasa. Setiap hari disuguhi berita korupsi yang nominalnya semakin gila-gilaan. Lalu ada efisiensi di semua lembaga kepemerintahan dan kampus negeri yang ternyata ujung-ujungnya untuk ngasih duit ke Danantara. Ngoceh efisiensi tapi kabinet obesitas dan hobi melantik stafsus nggak jelas. Berkoar soal efisiensi tapi hobinya main retret tentara-tentaraan yang menghabiskan dana puluhan milyar dalam sekejab. Urgensinya apa selain yang punya kuasa tergila-gila sama sistem satu komando.

Mungkin inilah puncaknya. Dengan segala macam badai PHK dan pengangkatan CPNS yang ditunda, lalu ada bencana banjir yang lokasinya cuma sejengkal dari pusat pemerintahan alias Bekasi, pucuk tertinggi negeri ini malah sama-sama sekali tidak menunjukkan wibawa. Bicaranya ngawur, dan bahkan sampai nyinyir sekaligus menghina.

NDASMU!!!

Siapa sangka kita akan ada di masa punya presiden yang mengumpati rakyatnya sendiri di podium formal??? Kalau kepalanya saja begini, mana mungkin mengharapkan bawahannya akan menjaga mulut! Bisa dilihat sekarang-sekarang ini banyak pejabat yang asal bunyi mengeluarkan pernyataan. Mereka seolah ingin berkata, "gue mau ngomong apapun, emang lo bisa apa???"

Lalu saya membawa diri lagi ke realita setelah lama terbenam di Twitter, dan mendengar seorang rekan kerja berkata bahwa Sritex bisa pailit karena salah mereka sendiri yang tidak bisa berinovasi dan mengikuti perkembangan jaman. Apa kabar dengan kebijakan pemerintah yang membuka keran impor tekstil seluas-luasnya sehingga dalam negeri dibanjiri barang murah impor? Sebelum ini, orang yang sama berkomentar bahwa harga-harga barang pokok naik karena momen Imlek dan Ramadhan berdekatan, jadi wajar kalau naik. Satu orang lainnya berkomentar gara-gara sering ada aksi demonstrasi makanya pabrik-pabrik gulung tikar.

Itulah yang saya pikirkan. Perjuangan memang butuh nafas panjang. Kebanyakan dari masyarakat kita tidak bisa menghubungkan hal-hal rusak dalam setiap aspek hidup kita tak lepas dari keputusan pemerintah. Segala hal dalam kita sebagai warga negara sangat terkait dengan politik. 

Rasanya kita warga Indonesia yang sudah dewasa sudah pernah dipalak wercok dan punya persepsi negatif atas bapak-bapak coklat itu. Coba pikir, berapa banyak dari kita yang senang jika berjumpa bapak coklat selagi kita berkendara di jalan? Bahkan saat kita mengalami kecelakaan lalin yang tidak menyebakan kehilangan nyawa pun kebanyakan dari warga bakal buru-buru "membersihkan" TKP sebelum wercok muncul. Karena kalau mereka sudah muncul dan ikut campur, orang yang sudah terkena musibah kendaraannya rusak bakal kena jackpot tertimpa tangga lagi. Paling sering terdengar adalah dipalak duit untuk menebus kendaraan yang dibawa ke mabes oknum.

Tapi, dengan semua borok yang sudah diketahui secara umum itu, berapa persen yang mampu berpikir bahwa pemerintah sangat berandil atas buruknya kualitas institusi ini? Berapa banyak dari kita yang mampu dan mau menghubungkan peristiwa nembak SIM dan bayar pas ketilang di jalan, itu pangkalnya adalah dari korupnya rejim? Yang saya rasakan dari interaksi dengan orang-orang, mereka cenderung menyalahkan per individu yang melakukan, alih-alih sistemnya.

 

 

Jika kebanyakan masyarakat begini, sudah jelas ini merupakan sebuah perjalanan panjang. Kita belum satu suara, belum satu pikiran. Masih belum bersatu karena kebanyakan dari kita masih berkeyakinan bahwa hidup yang terus dicurangi dari segala sisi ini masih tetap harus disyukuri; bahwa ini adalah ujian hidup semata.

Negara ini pernah punya tiran selama 32 tahun. Berkaca dari negara-negara lain pun diktator mereka punya masa berkuasa yang panjang sebelum akhirnya dilengserkan. Dalam kurun waktu tersebut sudah pasti mereka menumpuk harta. Cukup untuk hidup sejahtera, dan mungkin juga untuk kembali berkiprah di panggung politik dua atau tiga dekade mendatang ketika orang-orang mulai lupa.

Perlawanan ini butuh waktu dan makan waktu. Peristiwa tahun 1998 pun tidak terjadi dalam semalam; konon dimulai dari aksi-aksi kecil. Dan saya, yang sudah di late 30 ini mungkin, mungkin saja, harus mengikhlaskan jika seandainya tidak sempat merasakan Indonesia sebagai negara maju dan beradab. Mungkin pada masa ini adalah masa merebut kembali negara, sedangkan membangun negeri dan memakmurkannya akan terjadi di generasi setelah saya. 





Tidak ada komentar:

Posting Komentar