Pertengahan bulan Mei lalu, di hari libur nasional Kenaikan Isa Al-Masih, saya pergi berlibur ke Magelang. Ini adalah liburan pertama semenjak liburan terakhir saya ke Singapura dan Malaysia. Dang! I'm really busy surviving!
Waktu saya makan chicken rice di food court Changi Airport seharga SGD 9, yang terlintas di pikiran saya adalah jika 2 - 3 tahun mendatang saya beli menu ini lagi di tempat yang sama, kemungkinan besar harganya masih 9 SGD. Well, Singapura adalah negara anomali di tengah negara-negara Asia Tenggara yang absurd, sementara Malaysia adalah kawan serumpun dalam episode benci tapi cinta yang tak kelar-kelar.
Beda dengan Singapura, saya nggak buat itinerary di Kuala Lumpur. Selain karena perkiraan waktu yang beneran singkat, cuma sekitar satu setengah hari, saya juga berekspetasi KL mirip-mirip Jakarta. Saya berencana makan-makan aja di sana.
Semua orang tau kalau Singapura itu negara mini. Kecil dan mungil. Di hari kedua begitu banyak tempat yang saya datangi. Bermodal MRT dan dua kaki sendiri, saya pun sempat terheran-heran, kok bisa sempat ke semua tempat ini?
Tanggal 7 Juni tengah malam, akhirnya saya nyampe di negara orang untuk pertama kalinya. Pesawat Jetstar yang konon bakal segera cabut dari Changi Airport itu mendaratkan saya lebih cepat sekitar 30 menit dari estimasi di tiket. Saya yang memang berniat nunggu sampai terang di bandara jadi sedikit ngeluh juga. Waduh, kecepetan ini mah!
Setelah bolak-balik cek Traveloka, tanya-tanya ke HR soal cuti bersama, maju-mundur soal tanggal berangkat, akhirnya saya jadi juga ke luar negeri! Woohooo!!! Berangkat di malam Idul Adha tanggal 6 Juni 2025, saya terbang ke Singapura, lalu kembali ke Indonesia dari Kuala Lumpur, Malaysia di tanggal 10 Juni 2025. Dan inilah sepotong ceritanya.
Saya baru pulang liburan. Tiga hari tiga malam. Ke kota asal penguasa Konoha alias Surakarta alias Solo; satu-satunya kota di Indonesia yang punya dua nama. Sudah lama kota ini menjadi destinasi liburan saya, dan alhamdulillah awal Agustus kemarin kesampaian juga ke sana.
Baru awal tahun tapi postingan sudah berbau galau hehehe. Tapi sebetulnya saya malah mau membahas acara pulang kampung sebagai penutup tahun 2022, yang alhamdulillah-nya memberi efek segar untuk batin. Setidaknya sampai hari ini. Hmmm.
Sebetulnya di part ini banyak yang mau diceritakan. Sudah ada banyak narasi di kepala. Tentang gimana saya sengaja memutus akses medsos sewaktu jalan-jalan kemarin, dan tentang gimana saya yang sangat menikmati acara melarikan diri sejenak dari rutinitas.
Temanggung merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Tengah. Tahun 2018, saya ke Temanggung via Purwokerto. Tahun ini, berdasarkan petunjuk orang marketing Omah Yudhi, saya pergi menuju Stasiun Semarang Tawang. Sebetulnya paling rekomendasi itu naik bus, tapi berhubung saya pergi sendiri, saya pikir naik kereta lebih aman.
Salah satu destinasi liburan yang paling berkesan buat saya itu Temanggung. Saya suka sama vibe pedesaannya yang masih lekat. Tempatnya pun di dataran tinggi yang adem. Ketika merencanakan liburan untuk menepi sejenak dari segala kegelisahan hidup yang kadang bikin gerah, Temanggung masuk top list. Beberapa kota lain sempat jadi perbandingan; kenapa nggak ke tempat yang belum pernah disinggahi sama sekali? Tapi akhirnya saya memutuskan untuk ke Temanggung lagi.