Pagi ini mungkin adalah salah satu pagi paling keos yang pernah terjadi. Tentu ini kejadian di tengah trip commuter line alias KRL yang menjadikan usaha mencari nafkah menjadi semakin semati-matian itu.
Seperti biasa, saya sampai stasiun mepet-mepet jadwal kereta pukul 06.12. Tapi tidak seperti hari-hari biasanya, stasiun lebih ramai dari keadaan normal. Setelah mendengar pengumuman dari pengeras suara, tahulah saya kalau ada semacam gangguan di persinyalan di stasiun sebelum stasiun saya. Kemudian dari cuitan orang-orang di Twitter—masih menjadi sumber info ter-update—saya mengambil kesimpulan ada 2 jadwal kereta yang hilang gara-gara gangguan ini.
Ketika akhirnya kereta diumumkan akan datang sekitar 10 menit kemudian, saya sudah bersiap kalau tidak bisa masuk karena sudah kunjung padat dari stasiun sebelumnya. Untungnya saya masih bebas melenggang masuk. Tapi tentu, saya tetap mesti bersiap dengan kerumunan di stasiun-stasiun berikutnya.
Mungkin ini akan terdengar seperti hater yang membenci orang-orang yang berusaha tetap having fun di tengah kesusahan hidup, tapi saya sungguh annoy dengan penumpang yang berseru-seru dan mengeluarkan suara keras di dalam kereta. Sejak dua stasiun setelahnya, beberapa penumpang tampak berseru-seru cempreng dan cukup ribut ketika melihat calon penumpang di sebuah stasiun. Sepertinya mereka berkomunikasi dengan temannya yang senasib. Seolah sedang bercanda di dalam sirkel, "Hahaha sama ya lu juga telat gara-gara kereta."
Di stasiun-stasiun berikutnya, kelompok yang sama kena semprot seorang penumpang gara-gara menyemak di dekat pintu sehingga menghalangi calon penumpang yang hendak naik.
"YANG TURUN DI RAWA BUNTU ITU KELUAR DULU, INI TENGAH MASIH KOSONG LOH! KASIAN ITU ORANG-ORANG MAU BERANGKAT KERJA JUGA MALAH DIDORONG KELUAR! JANGAN EGOIS!"
Teriakan si ibu yang beneran kerasa emosi ini terbukti manjur karena orang-orang beneran bergeser ke tengah yang memang masih muat. Jadi ini memang situasi klasik setiap pagi, di mana beberapa penumpang menyemut di dekat pintu karena takut terdorong terlalu ke dalam sehingga sulit keluar padahal trip mereka cuma sampai setengah rute. Jadilah mereka tetap bertahan di dekat pintu hingga menghalangi calon penumpang yang mau masuk. Saya sudah hapal sekali kelakuan kayak begini. Alasan mereka masuk akal, tapi si ibu yang menghardik mereka juga bakal saya dukung di tengah gangguan begini. Malah ribut banget lagi pas lagi berusaha bertahan di dekat pintu. Serasa lagi naik wahana di dufan, jujur aja. Ketawa-ketiwi di suasana keos ini.
Saya ngerasa beberapa orang suka bertingkah heboh tidak pada tempatnya. Kalau saya bilang saya kesal dengan suara-suara keras dan kehebohan di transportasi umum, apakah itu menjadikan saya seorang hater?
Sesuai dugaan, kereta hari itu lebih keos dari biasanya. Saya yang bergelayut di tengah lorong sudah pasti berusaha keras untuk tetap berdiri dan nggak jatuh ambruk di pangkuan penumpang duduk. Literally saya berdiri dengan gaya dorong mobil, menekan jendela kereta karena terdesak oleh penumpang di belakang saya. Untunglah pagi ini penumpang duduk di depan saya nggak aneh-aneh; nggak ribet gerak-gerakin kaki atau berdecak-decak kesal karena terimpit kaki penumpang berdiri. Pun penumpang berdiri di sekitar saya bukan tipe yang lunglai lemesin badan alias bertopang sepenuhnya sama penumpang sekelilingnya. Jujur, berdiri di tengah penumpang yang bertenggang rasa begini sudah sebuah anugerah yang pantas disyukuri. Tapi, masih ada satu yang jadi dilema tadi pagi; saya dilematis antara pasang masker atau tidak. Kalau pakai masker jadi agak sesak di situasi padat kayak begitu, tapi kalau lepas masker takut terinfeksi penumpang yang bersin-bersin dan batuk. Ugghh, dilema sehari-hari.
Sama halnya seperti pilihan antara berdiri mepet pintu seberang yang bukan bakalan ngebuka tapi dijamin tergencet sampe nempel kaca atau bergelayutan di tengah lorong dengan jaminan susah berdiri. Nggak ada yang enak!
Di tengah-tengah kehimpitan hidup ini saya teringat cuitan saya semalam sehabis menonton video seorang ibu yang terus-menerus mencoba membesarkan hati anaknya yang dijauhi teman-temannya karena punya penyakit langka. Saya tersentuh bagaimana sang ibu mencurahkan seluruh kasih sayangnya yang besar kepada sang anak. Saya seketika mellow dan mencuit suara hati agar diberi kesempatan memiliki keluarga kecil saya sendiri karena saya yakin saya punya cinta yang besar untuk diberikan.
I'm begging You, Ya Allah...


Tidak ada komentar:
Posting Komentar