Jutek. Satu kata ini terdengar lagi oleh saya sekitar semingguan lalu. Sepanjang yang saya ingat, saya tak pernah marah saat dituding begini. Kenyataannya, saya justru merasa saat ini, jutek is understatement.
Pada minggu yang sama, saat bergulat dengan rutinitas, tiba-tiba timbul pikiran bahwa saya--sepertinya--tidak menyukai manusia. Generally. All of them are demanding and freak (look, who said this). Saya gampang jengkel dengan tingkah orang lain yang agak lain. Hanya kepandaian menutup mulut lah yang menghindarkan saya dari banyak konflik.
Atau mungkin tidak sampai seperti itu. Saya mungkin seperti Nami, yang baik hanya kepada sesama perempuan dan anak-anak. Ahh, that's right! Saya baik-baik saja dengan teman-teman perempuan. Tetapi lelaki lain soal. Sering saya merasa, lelaki mengharapkan perempuan untuk senantiasa manis, lunak, ceria dan merah muda. Kami hanya boleh membawa pelangi dan menebar bunga. Kami hanya boleh tertawa manja ketika digoda. Kami harus tetap tersenyum menghadapi nonsens mereka. Sikap keras dan tajam are not allowed.
Kata orang, hati-hati dengan kesunyian. Sekali kau merasa nyaman, kau tidak lagi bisa menoleransi kebisingan.
Dengan pendapatan yang masih bisa mencukupi segala kebutuhan, saya seringnya meringkuk di dalam rumah jika tidak ada urusan di luar. Saya membenarkan diri dengan berkata sudah lelah 5/7 bekerja di luar. Tidak punya tenaga lagi untuk bergaul dengan tetangga. Sebenarnya, saya takut juga. Hidup di tengah masyarakat kolektif di negara bromocorah ini, sikap saya ini sesungguhnya berbahaya.
Dulu di tempat kerja, betapapun tertutupnya saya, paling tidak saya bakal punya satu bestie; seseorang yang bisa saya sebut teman, alih-alih sekadar coworker. Tapi makin ke sini, sepertinya, saya terlalu menghayati nasehat untuk mencukupkan diri untuk sekadar punya hubungan baik dengan semua orang, dan tidak perlu sampai berteman di luar urusan profesional. Saya merasa tidak perlu mengakrabkan diri. Saya juga semakin malas berbasa-basi. Ketika saya menangkap kesan menjaga jarak dari orang lain, respon pertama saya adalah turut menghindar. Kalau sesuatu bisa dijalani sendiri, maka ya sudah, sendiri saja.
Tapi sekali lagi, gaya hidup individualistis seperti ini tidak cocok di negara ini.
Seandainya saya 10 tahun lebih muda. Seandainya pinggang, punggung dan betis ini tidak segampang itu pegal-pegal. Seandainya uang saya lebih dan lebih banyak, mungkin saya bisa mengurangi sedikit kekhawatiran tentang masa depan. Saya akan bayar apapun barang/jasa yang dibutuhkan.
Bahkan ketika sudah setua ini, saya masih mengharapkan ada seseorang yang mengurus perkara bergaul dengan sekitar, sementara saya bisa meringkuk nyaman di bawah selimut; mengabaikan dunia yang menuding saya asosial.
Tapi, entah masa depan cerah atau suram, entah maju atau jalan di tempat, entah penuh petualangan atau mundane, entah terus berjuang sendiri atau berpasangan, entah tetap jutek atau melunak; tak mengapa, asal tidak jadi beban keluarga dan jahat ke orang-orang. Bisakah saya tetap dengan mindset ini?
But for today, let's celebrate just for being exist. To the companion who never leaves, a speck of dust within the galaxy... whatever is wrong inside you, happy birthday!
![]() |
| TA WAN's Birthday Treat |


Tidak ada komentar:
Posting Komentar