Minggu, 22 Februari 2026

Tentang Pertemanan



Hari keempat bulan puasa di tahun ini. Seharusnya saya menulis ini kemarin, di hari ketiga, sesuai dengan jumlah "bestie" yang saya punya. Mengapa ditulis dengan tanda petik? Apakah mereka bukan benar-benar sahabat? Jadi, begini ceritanya...

 

Sepanjang yang saya ingat, saya tidak pernah punya geng pertemanan besar. Pun saya bukan manusia gaul yang punya teman di mana-mana. Tapi, biasanya, di setiap periode hidup saya, ada satu-dua orang yang kemudian awet berlanjut berteman bahkan ketika satu periode itu selesai. Singkat cerita, di usia yang sudah banyak ini, saya end up punya 3 bestie yang masih rutin jalan bareng. Tentu, definisi "rutin jalan bareng" buat orang dewasa adalah ketemu di mal setiap 4 sampai 6 bulan sekali.

Awal tahun ini, saya jalan bareng dengan seorang bestie yang saya kenal di kampus. Kami sudah kenal lebih dari sedekade, dan saya lebih tua 6 tahun dari dia. Meski begitu saya berkali-kali menemukan orang ini lebih dewasa dan visioner dalam merencanakan masa depan ketimbang saya. Saya merasa selalu mendapat insight tiap kali meet up dengan dia.

Tapi pertemuan di awal tahun itu agak berbeda. Pertemuan terakhir kami berakhir―setidaknya saya merasa begitu―seperti podcast satu arah; dia banyak meng-update kabar dirinya, tentang akuisisi perusahaannya terutama. Saya mendengarkan dan bertanya untuk menggali lebih jauh sambil mengingatkan diri sendiri supaya jangan sampai melempar pertanyaan yang bestie saya ini sudah speak up bahwa dia terganggu kalau saya menanyakan itu.

Seingat saya, saya tidak banyak bercerita tentang diri saya sendiri. Saya menahan diri untuk tidak bercerita tentang pengalaman jalan-jalan ke LN untuk pertama kalinya karena dia tidak bertanya. Saya pernah posting stori tentang itu, namanya tidak ada di daftar viewers, tapi WA memungkinkan untuk menyembunyikan jejak orang yang sudah melihat stori orang lain. Apapun, I won't make a scene about it, walau di dalam hati saya tetap kepikiran mengapa ada orang yang berusaha keras untuk terlihat tidak peduli-peduli amat kepada teman sendiri―baik ia melihat atau tidak melihat. Well, mungkin saya harus bertanya kepada diri sendiri karena saya pun pernah melakukannya.

Pengalaman ini bikin saya kurang antusias saat dia mengajak meet up, walau akhirnya saya pergi juga. Saya berpandangan, pertemanan low maintenance sekalipun perlu dijaga dengan silaturahmi rutin. Dan semua berakhir dengan saya yang bad mood sampai besoknya. Terjadi lagipodcast itu. Komunikasi satu arah dan menjadi pembicara utama―untuk tidak mengatakannya sebagai pembicara tunggal. Saya pun tidak suka responnya yang tidak empati sewaktu saya baru bicara tentang rumah saya yang bocor.

Menyebut hari itu sebagai trauma rasanya tidak berlebihan. Di dalam benak saya berpikir untuk speak up di pertemuan kami selanjutnya; bahwa saya merasa dia hanya mau didengarkan, dan tidak sebaliknya. Dan kalau dia mengelak, mungkin memang lebih baik kami sudahi saja pertemanan ini.

Lalu, trauma ini saya bicarakan dengan bestie saya yang satu lagi saat kami meet up sekitaran akhir Januari lalu. Kami sudah berteman sejak SMA. Dia, seperti biasa, mendengar cerita saya dengan empati. Sebenarnya, bestie saya ini adalah favorit saya. Ia pendengar yang baik. Namun, satu fakta mengejutkan ia sampaikan.

Perkara menyudahi pertemanan pun sempat ia pikirkan, karena ia mengakui―saya simpulkan―merasa lelah dengan saya dan segala keluh-kesah saya selama ini. Saya rasa dia mau bilang kalau saya membawa negative vibes yang berdampak pada mentalnya sendiri. Dia pernah terpikir untuk tidak menemui saya lagi. Tapi dia urung melakukan itu ketika di satu momen, di matanya, saya mulai memandang hidup ini secara positif.

Dengan si bestie ini, saya sering bertanya-tanya, apakah saya sudah menjadi teman yang baik―yang tidak hanya sibuk curhat sana-sini tapi juga mau mendengarkan sama banyaknya? Tapi ternyata saya sudah berbuat lebih dari itu; saya bikin anak orang kelelahan secara mental setiap menghadapi saya.

What a surprise!

Dengan seseorang, saya merasa kena mental karena merasa tidak didengar. Tapi bagi orang lain rupanya saja juga menjadi pelaku masalah mental orang lain. Sungguh ironis.

Tapi sesungguhnya saya tidak bisa mengelak dari anggapan itu. Bahkan di pertemuan siang itu pun saya, dengan sangat egois, sudah merencanakan untuk curhat tentang ini-itu, dan juga mengajukan pertanyaan untuk tahu bagaimana responnya tentang hal itu, untuk kemudian berkeluh-kesah lagi. Lihatlah bagaimana saya menyiapkan luapan emosi untuk ditumpahkan kepada seseorang. What a jerk!

Dengan dia sebenarnya saya sudah terpikir untuk membatasi pertemanan karena tahun kemarin dia menikah. Jelas, prioritas kami sudah jauh berbeda setelah itu. Saat ini, setelah dia bilang tidak terpikir untuk menjauhi saya lagi, saya sudah mengingatkan diri sendiri untuk tidak banyak bercerita di pertemuan kami selanjutnya. Saya tahu dia dari dulu tipe yang memilih untuk positive vibes; pun dia datang dari keluarga yang bisa dibilang cukup cemara―setidaknya itulah yang saya lihat. Kalau saya kesal dan marah, atau kecewa, atau sedih dengan struggle hidup sehari-hari, baiknya saya menulis saja di sini. Seperti biasa. Jangan membebani orang lain dengan emosi sendiri. Saya mungkin sulit menjadi orang yang always see on the bright side, tapi saya tahu saya mampu memilah-milah cerita.

Kemudian bestie saya yang ketiga, yang bisa dibilang paling sering ketemuan daripada dua lainnya, karena kesamaan jalur rutinitas sehari-hari. Dengan dia, beberapa tahun belakangan ini, saya merasa take for granted. Saya mengamati interaksinya dengan teman kantornya; terlihat lebih baik daripada caranya memperlakukan saya―setidaknya akhir-akhir ini. Lagi-lagi perkara mendengarkan dan didengarkan. Dia sering melakukan sesuatu yang saya tidak sukai: memotong pembicaraan. Ia suka membuat apapun tentang dirinya. Bahkan ketika ia bertanya tentang sesuatu, jawaban saya sudah dipotong sebelum benar-benar tuntasi―bahkan sebelum saya memulai. Kalau kami bicara, seakan bukan untuk saling memahami, tapi untuk saling merespon. 

Beberapa waktu lalu, saya memaksanya untuk menjawab mengapa ia mengabaikan chat saya, padahal itu perkara penting untuk saya. Saat itu rasanya saya benar-benar terperangah bagaimana ia dengan kasual membuat topik baru sedangkan bubble pertanyaan saya persis di atasnya. Saya terperangah, walau rasanya tidak benar-benar kaget. Lama membalas chat atau tidak sama sekali, sudah pernah terjadi. Saya bahkan sudah hapal kalau dia bakal benar-benar lama membalas chat di waktu libur kantor. Ketika akhirnya ia mengungkapkan pandangannya tentang itu saat kami meet up, saya sudah tidak peduli lagi.

Saya tidak ingin menjadi kekanakan dengan menilai sebuah pertemanan dari lihat-lihatan stori WA, tapi jujur saja―di situasi begini―namanya jarang muncul sebagai viewers stori WA saya yang bahkan jarang-jarang itu, lagi-lagi membuat saya bertanya-tanya mengapa ada orang yang berusaha keras untuk terlihat tidak peduli-peduli amat kepada teman sendiri.

Saya sedang membayangkan skenario untuk melakukan konfrontasi: "kalau lo temenan sama gue karena cuma ada gue, mendingan nggak usah aja sekalian, karena gue nggak mau diperlakukan kurang dari seharusnya."

Entah mampu atau tidak saya melakukan itu. Kata orang, tidak ada closure itu brengsek. Tapi yang mungkin sekali menjadi pilihan saya hanyalah membatasi diri dari interaksi dengan dia. Saya sudah mulai melakukannya dengan tidak menceritakan update apapun tentang saya―toh dia tidak bertanya juga! Mungkin juga dengan sedapat mungkin menolak ajakan bertemu. Juga tidak bersikap antusias-antusias amat setiap dia bercerita. Pelan-pelan menjauh. Jika ia benar seperti sangkaan sayatidak peduli-peduli amat dengan saya, rasanya ia juga tidak akan ngeh atau mencoba berbuat sesuatu untuk menggandeng saya kembali. Yaudah aja gitu... 

Huftt, lihatlah bagaimana hidup saya akhirnya menjadi begini. Sungguhlah payah dalam hal berelasi. Saya bukannya benar-benar memutuskan untuk lebih baik tidak punya teman sama sekali. Seintrovert apapun saya, saya tahu tetap butuh teman dekat. Saya tidak setegar itu. Tapi keadaan yang memaksa saya begini. Untuk melindungi diri sendiri dan orang lain.

 

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar