Sabtu, 31 Januari 2026

Job Market



Kemarin, seorang manajer sales yang baru bergabung sekitar satu bulan, memuji saya pintar dan profesional. Jika boleh sedikit membanggakan diri, gestur-gestur puas dengan pekerjaan saya seperti ini sering saya dapatkan.

 

Sama seperti yang ada di pikiran sebagian besar karyawan di Indonesia, saya sedang berancang-ancang untuk ganti pekerjaan setelah Lebaran bulan Maret nanti. Tentu, menunggu dapat THR dulu. Satu tahun sudah lebih dari cukup untuk berjuang setengah mati setiap berangkat dan pulang kerja di atas gerbong kereta yang penuh sesak. Empat jam habis untuk commuting. Dan lebih dari itu, perusahaan tidak punya uang; sesuatu yang sangat fundamental untuk suatu entitas bisnis. Para petinggi pun tidak terlihat punya gebrakan untuk mengatasi ini semua. Krisis kepemimpinan.

Tapi, keinginan untuk ganti pekerjaan dan ganti perusahaan ini nggak pernah mudah untuk saya. Sepuluh tahun lalu saya pernah menulis dalam keputusasaan saat menjadi job-seeker setengah tahun. Sepuluh tahun lalu, ketika ekonomi belum semorat-marit sekarang saja mencari kerja yang layak sudah sesulit itu. Apalagi sekarang?

Sekarang adalah masa ketika jutaan sarjana menganggur, tapi di lain pihak ada sebuah institusi yang anggotanya dibikinkan peraturan supaya bisa rangkap jabatan. Sudah berseragam, digaji dari pajak rakyat, punya tupoksi sendiri, namun masih boleh mencaplok jabatan-jabatan ranah sipil. Pucuk-pucuk jabatan pun diisi keluarga dan kerabat. Nepotisme yang sudah tidak malu dipertontonkan.



Job market sedang jelek. Lapangan pekerjaan menyusut. PHK di mana-mana. Sementara yang sudah bekerja pun mesti bertahan dengan gaji ala kadarnya. Tak ada pilihan; lebih baik underpaid daripada no paid at all. Pastinya bukan cuma saya aja yang berpikir "cari duit begini amat" setiap kali kejepit di gerbong kereta, atau tiap kali menemukan hal-hal nonsens di kantor.

Kembali ke persoalan pribadi, saya sedang sering memikirkan ini: betapapun saya sangat andal dan diandalkan di kantor sekarang, saat dibawa keluar, nyatanya, skill saya tidak se-valuable itu di atas kertas CV. Tidak cukup menjual. Tidak cukup stand out di antara para pelamar lain saat bersaing untuk mendapat sebuah pekerjaan. Dan lagi, seperti pernah saya tulis di awal-awal tahun lalu, saya sudah ditarik mundur ke antrian belakang lagi. Mungkin hanya ada pekerjaan level staf yang bisa menampung saya. Sementara di level tersebut acapkali mensyaratkan minimum usia pelamar. Sudah begitu, gaji di level ini pun "paling tinggi" cuma UMR. 

Begitulah realitanya.

 

Gue sepenuhnya sadar kalau kehidupan romansa gue nggak akan sedramatis dan seindah di film-film. Tapi apakah juga berlebihan jika meminta pekerjaan dengan gaji yang cukup untuk membiayai hidup?

-- sebuah konten di media sosial 

 

 

     

Tidak ada komentar:

Posting Komentar