Kamis, 09 Juli 2026

Sick in The Throat: Fragile



Niat awalnya cuma cocoklogi, tapi siapa sangka serial "sick" malah udah masuk ke edisi ke empat dalam 3 bulan! Itulah makanya saya mulai berpikir, tubuh saya lebih rentan stres dari yang saya sangka sebelumnya.

 

Hari ini saya ijin nggak masuk ke kantor karena sakit pilek dan batuk. Sebenarnya sudah sejak Selasa pagi. Kemarin pas mau wudhu sholat Shubuh, saya bahkan mimisan. Tapi mengingat setumpuk kerjaan yang mesti selesai di hari itu juga, saya memaksakan diri untuk ngantor juga. Padahal hidung tersumbat, tenggorokan sakit, kepala pusing, dan punggung linu-linu. Beginilah keadaannya. Makanya, meski sebetulnya jika dibandingkan dengan dua hari ke belakang, hari ini saya justru merasa paling sehat, saya tetap ijin nggak masuk. Kerjaan yang urgent-urgent pun saya pastikan aman.

Belakangan saya suka mikir, memang apa sih masalah saya? Masalah yang kayak orang-orang gitu loh; nyelesein skripsi, kelilit utang, atau kejebak hubungan toksik. Ya betul, saya punya utang KPR, yang pas saya cek di aplikasi BTN lumayan bikin nyesek karena setelah lebih dari lima tahun nyicil 2 jutaan sebulan, pinjaman pokoknya cuma bekurang dikit. Tapi, syukur alhamdulillah selama masih bekerja, utang cicilan ini masih bisa saya kontrol.

Lalu hubungan? Hmm yahhh, saya agak merasa saya lebih ringkih dari sebelumnya salah satunya karena saya nggak punya seseorang yang bisa saya ajak bertukar pikiran. Ya, minggu lalu saya baru makan-makan all you can eat bareng sebelas orang rekan kerja. Suasana ramai, hangat dan ceria. Mood saya bagus, dan juga semua orang. Malah saya juga merasa lambung saya "tiba-tiba" jadi sehat karena saya menikmati kebersamaan yang menyenangkan malam itu. 

Sungguh, saya bersyukur atas hubungan baik antar rekan kerja ini. Jika menoleh ke belakang tentang bagaimana interaksi sosial saya di lingkungan kerja, kali ini bisa dibilang salah satu yang terbaik. Tapi, nggak seperti dulu, sekarang ini rekan kerja yang menyenangkan pun hanya sebatas itu. Dulu, paling nggak saya menemukan 1 bestie di kantor, yang artinya walau nantinya kami nggak sekantor lagi, kami masih keep in touch dan suka jalan bareng. Sekarang nggak begitu. Teman kantor, yang paling akrab sekalipun, akan berakhir begitu saja kalau salah satunya resign. Paling jauh kami hanya saling menontoni status WhatsApp masing-masing.

Teman-teman untuk bersenang-senang. Hubungan baik yang melancarkan koordinasi pekerjaan. Nggak ada yang salah dengan itu. Hanya aja saya merindukan seseorang tempat saya bisa menumpahkan isi hati dan berbagi keresahan hidup. Satu teman membatalkan janji temu kami Ramadhan lalu dan meski sempat bertukar kabar via chat beberapa minggu lalu, saya masih enggan mengajaknya main keluar. Dan mungkin dia pun begitu; tau saya kecewa karena janji batal tempo hari, jadi berhati-hati untuk mengajak saya main lagi. Kemudian satu teman yang lain rupanya masuk rumah sakit dilihat dari status WA-nya. Saya sudah tanya dia kenapa, dan melihat jawabannya pendek-pendek dan tidak to the point, saya pun mengakhiri percakapan kami dengan doa semoga ia lekas sembuh. Chat kami berakhir hanya dengan 6 bubble pendek-pendek. Saya tidak lagi punya banyak kesabaran dan toleransi untuk orang ini. Sambil motoran tadi pagi, saya berpikir, toh waktu kami masih sering hang out bareng pun saya justru sering merasa lebih kesepian ketimbang sewaktu benar-benar sendirian, so what's the point? Sementara bestie satu lagi... saya merasa saya harus benar-benar dalam keadaan siap (siap mendengar podcast dan tidak ditanyai update kehidupan sendiri) jika mau jalan bareng.

Salah satunya kenapa saya rentan stres, saya pikir, adalah karena saya tidak punya seseorang untuk berbagi isi kepala dan isi hati. Dan melihat bagaimana saya jatuh sakit berturut-turut dalam waktu berdekatan ini, saya berpikir bahwa sebenarnya saya lebih rentan stres dari yang saya sangka. Saya pikir saya aman; pikiran aman dan semua di bawah kendali, saya pun mampu tetap fokus ke rutinitas kerja sehari-hari, tapi rupanya organ-organ tubuh saya yang lain punya isunya sendiri. Umpamanya, seperti lidah yang masih mampu makan ayam geprek sambal level 3, tapi lambung memberontak. Casing tetap tenang terkendali, tapi lambung dan organ lain mengernyit menahan tekanan psikologis.

Tapi, memang apa masalah saya? Bertahan hidup. Lengkap dengan segala dinamikanya. Ya menjaga tubuh tetap kokoh dipakai commuting empat jam sehari, ya menghadapi bangunan rumah yang keropos di sana-sini, ya bertahan dari rasa sepi yang menggerogoti jiwa. Dan akui saja, salah satu masalah yang paling bikin saya stres adalah kalau air di rumah bermasalah. Saya membayangkan nggak bisa minta tolong ke tetangga karena saya hidup tanpa membaur di komplek ini.

 

Jilat Ludah Sendiri

Apa nggak sakit itu tenggorokan, jilat ludah sendiri terus-terusan?! Wkwkwk. Dulu, saya pernah bersabda, kalau pakai ragi instan itu sudah jaminan roti-rotian pasti jadi. Pagi ini, saya baking rustic bread pakai ragi instan, dan hasilnya bantet alias masih padat basah di dalam. Wkwkwk. Kepedean!

Pernah juga saya ngejulid teman kerja yang mendadak resign dan dengar-dengar mau coba jadi caregiver di Malaysia. Hemm, itu pun nggak semudah itu, kan? Sudah harus ada perjanjian kerja dengan majikan dulu baru bisa berangkat pakai visa kerja. Sekarang? Belakangan saya malah mulai berpikir, kalau negeri ini kenapa-kenapa dan berdampak ke saya sampe sulit cari nafkah, saya bakal cuss jadi pembantu di Singapura atau Hongkong. Saya ngerasanya perlu betul-betul #KaburAjaDulu dari negeri anomali ini.

Kita tuh memang nggak bisa benar-benar yakin akan sesuatu. Duh, sok iya banget saya. Sombong. Astagfirullahaldzim.

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar