Sabtu, 04 Juli 2026

Tiga Review Drama Korea yang Yahhh Begitulah...


Ada beberapa drama Korea yang nggak bikin saya tergerak untuk menulis ulasannya dalam postingan tersendiri. Kadang karena saya drop dramanya di pertengahan atau bisa juga ditonton sampai beres tapi nggak menimbulkan kesan yang khusus buat saya. Kali ini saya mau nulis tiga drama sekaligus. Alasannya? Yahhh begitulah...

 

Lovestruck in The City (2020)


Awal Juni kemarin, saya nonton film Colony di bioskop. Salah satu pemerannya adalah Ji Chang-wook. Dan begitu aja saya jadi keingetan drama Lovestruck in The City yang doi bintangi. Dulu sekali saya pernah ikutan berkaca-kaca pas ada video editan pendek dari drama ini di mana di situ Chang-wook lagi nangis dengan ekspresi terluka dan putus asa banget. Jadi pulang nonton Colony, saya sudah fix bakal coba nonton drama ini.

Jujur nggak terlalu berharap banyak sama drama ini karena beberapa review bilang drama ini jelek dan cuma ngandelin adegan mesra-mesraan pemeran utamanya. Surprisingly saya malah suka di awal, sampe langsung beres 4 episode sekaligus. By the way, drakor ini ada 17 episode dengan durasi sekitaran 30 menit per episodenya. Jadi, kalau saya langsung beres 4 episode dalam sehari itu berarti setara 2 episode rata-rata drakor normal umumnya.

Drama ini sendiri mengambil konsep separo dokumenter. Jadi ceritanya lagi ada penelitian tentang perilaku muda-mudi saat berkencan. Dan enam pemeran drama ini menjadi objek penelitiannya. Jadi masing-masing bakal secara kontinu ngomong ke kamera.

Konsep 6 karakter ini mengingatkan saya sama drama Because This is My First Life. Pasangan utama adalah yang paling emejing kisah kasihnya, yang kedua bermasalah dengan perspektif tentang pernikahan, sementara pasangan ketiga berpusat pada karakter cewek tipe girl crush.

Alkisah, Park Jae-won (Ji Chang-wook) bertemu dengan Lee Eun-o (Kim Ji-won) di lokasi pantai wisata. Jae-won terpesona dengan karakter Eun-o yang saat itu mengenalkan dirinya sebagai Yoon Sun-ah yang ceria, percaya diri dan sedikit eksentrik. Singkat cerita sejoli ini jatuh cinta, masuk ke fase kasmaran, sampe ngadain acara pernikahan ala-ala sendiri. Cerita berlanjut ketika Jae-won mesti kembali Seoul untuk urusan pekerjaan, sementara Eun-o tidak datang ke lokasi dan waktu yang mereka janjikan. Eun-o cuma meninggalkan pesan suara sebagai tanda berpisah, lantas meninggalkan Jae-won dalam kebingungan begitu saja.

Ternyata, diri Eun-o di pantai hanyalah pelarian dari keputusasaan Eun-o setelah hidupnya diterjang badai. Ia yang asli adalah pribadi yang biasa-biasa saja, dan bahkan cenderung kaku dan membosankan. Berbeda dengan diri Yoon-ah yang coba ia hidupkan. Karena sudah membohongi Jae-won inilah makanya Eun-o tidak berani bertemu lelaki itu lagi, meski di dalam hati ia pun tidak bisa menyangkal bahwa ia pun sungguhan mencintai Jae-won.

Sampai setengah lebih drama ini saya merasa nyaman-nyaman aja nontonnya. Meski memang banyak banget adegan dimabuk asmara dari sejoli ini, saya masih merasa proses jatuh cinta mereka bisa diterima. Saling jatuh cinta karena pesona fisik dan penampilan? Di dunia nyata begitu juga kok. Saya mulai merasa janggal dan sebal malah gara-gara adegan dari pemeran pendukung drama ini. Tepatnya ketika second couple ngamuk-ngamuk ke customer Jae-won sampe nyiram pake cola di kantor Jae-won. Heh?

Bahkan di drama pun yang kayak beginian nggak bisa saya terima. Bisa-bisanya ngamuk ke pelanggan kerjaan temen sendiri di kantor pula. Saya jadi kek... apaan sih? Mau bikin cerita loyal ke temen yang dibalut suasana komedi juga nggak begini juga kali ah! Males. Pun sebenernya begitu diceritakan Jae-won rujuk lagi sama Eun-o juga memang nggak ada cerita yang bisa diceritakan gimana-gimana lagi juga sih. Dan saya berani taruhan episode 17 cuma tambahan akal-akalan tim produksi dengan maksud entah apa. Tebakan saya sih sebagai promosi si mbak artis yang banyak dipuji visualnya itu.

 

We Are All Trying Here (2026)


Ini adalah drama ketiga dari penulis Park Hae-young yang saya tonton. Dua lainnya adalah My Ahjussi dan My Liberation Notes. Genre dramanya masih sama yaitu slice of life, mencakup kepahitan, tragedi, dan rasa frustasi. Dan sungguh, Jakka-nim satu ini punya gaya sendiri untuk menyodorkan plot masalah para pemerannya yang berbeda dengan penulis drakor lain yang selama ini saya tonton. Dan benang merah yang saya notis dari ketiga karya sang penulis adalah perihal mengedepankan rasa kemanusiaan dan kepedulian antar sesama manusia.

Ceritanya sendiri tentang Hwang Dong-man (Koo Kyo-hwan) seorang pemimpi yang sudah 20 tahun nggak pernah debut sebagai sutradara film. Meski begitu, Dong-man ke sana kemari berkomentar jelek tentang setiap film yang dihasilkan teman-temannya sesama sineas. Mayoritas teman se-gank Dong-man sudah gerah dengan kelakuan nyinyir lelaki itu dan pengin mengeluarkan Dong-man dari lingkaran pertemanan mereka. Di lain pihak ada Byeon Eun-ah (Go Youn-jung), seorang produser film yang terkenal dengan kemampuannya mengkritisi naskah, justru melihat potensi Dong-man. Keduanya bahkan punya satu kesamaan sejak lama; sama-sama menjadi sukarelawan penelitian emosi manusia via jam tangan emosi.

Seringnya, saya kepikiran My Liberation Notes setiap melihat hubungan Dong-man dan Eun-ah. Memungut satu manusia yang dianggap pecundang oleh seluruh dunia? Tidakkah mengingatkan kita pada Yeom Mi-jeong yang minta dipuja oleh Mr.Gu si pemabuk? Tapi jujur, kalau hubungan Mi-jeong dan Mr.Gu tuh masih bisa saya terima karena dua-duanya punya karakter yang meski berlabel orang kalahan tapi mereka nggak ngusik orang lain. Sementara itu sampai akhir saya nggak bisa terima kenapa Eun-ah membuka tangannya lebar-lebar menerima Dong-man yang emang beneran ngeselin? Meski kemudian diceritakan pula, meski antik dan nyusahin, Dong-man ini rupanya adalah inspirasi karakter yang dimanfaatkan teman-temannya sebagai bagian dari naskah karya mereka.   

Satu hal janggal lain yang menganggu kenikmatan saya nonton drama satu ini adalah kebiasaan karakter Eun-ah pada saat mimisan. Jadi diceritakan si Eun-ah ini bakal mimisan tiap kali batinnya terguncang karena konflik. Dan dia begini sudah sejak kanak-kanaksejak orangtuanya meninggalkan dia sendirian. Dan di situlah letak janggalnya buat saya. Untuk orang yang "rutin" mimisan, masak iya Eun-ah nggak teredukasi tentang apa yang harus dilakukan seseorang ketika keluar darah dari hidungnya? Sebagai orang yang sudah kurang lebih lima kali mimisan dalam satu setengah tahun terakhir, saya beneran terganggu melihat Eun-ah cuma menempatkan sapu tangan di bawah hidung tiap kali mimisan. Busett mbakk, apa nggak ngocor terus itu darah dari hidung??? Dijepit hidungnya loohhh! Lagi-lagi, mau bikin adegan dramatis pun ada batas logikanya!

By the way, drakor ini sempet bikin heboh waktu ada adegan Eun-ah membungkus Dong-man dengan cardigan yang dipakainya lalu memeluk lelaki itu bak ibu kangguru melindungi anaknya di dalam kantong. Konon, penonton lelaki suka karena terlihat intim dan romantis. Sebaliknya, penonton perempuan meradang karena dianggap melanggengkan stereotip perempuan harus menjadi sosok "ibu" yang merawat dan melindungi lelaki, bahkan ketika si lelaki bermasalah secara emosional. Saya sendiri nggak bisa bilang ikut merasa tidak nyaman, tapi saya nggak akan coba-coba menolak kecaman netizen perempuan Korea mengingat betapa patriarkinya negara itu. 

Drama ini saya tonton sampai kelar walau gara-gara kejanggalan-kejanggalan di atas saya nggak terlalu excited lagi buat buru-buru nonton begitu nongol di Netflix.

 

My Royal Nemesis (2026)


Ini adalah drakor yang jadi heboh di Twitter sampai melesatkan sang pemeran utama cowoknya ke puncak popularitas. Saya mulai ikut nonton seminggu setelah tayang perdana. Genre drakor ini romcom, sementara para aktor utamanya langganan peran antagonis. Awal-awal tayang banyak banget yang nge-jokes soal para bintangnya yang bertampang bengis, makanya tambah lucu ketika ada adegan komedinya.

Ceritanya sendiri tentang Kang Dan-sim (Lim Ji-yeon), seorang selir istana dari jaman Jeoseon yang tiba-tiba terbangun di era modern. Dan-sim terbangun di tubuh Shin Seo-ri, seorang aktris figuran yang struggle dengan karir aktingnya meski dulu ia dikenal sebagai aktris cilik berbakat. Ia lantas bertemu dengan Cha Se-gye (Heo Nam-jun), cucu pengusaha besar Korea alias chaebol, yang kemudian naksir berat dirinya. Di sisi lain ada Choi Mun-do (Jang Seung-jo), sepupu jauh Se-gye yang berusaha keras menjegal apapun usaha Se-gye untuk sukses berbisnis.

Kata netizen, romcom di sini nge-romcom banget alias lucu konyolnya dapet. Akting pemerannya lucu meski mukanya bengis kayak villain. Ya bener sih, setidaknya saya merasa terhibur sampai kira-kira episode ke 6 dengan cerita dan akting pemainnya. Tapi makin ke jauh, saya merasa drama ini nggak sebagus yang digaung-gaungkan orang-orang. 

Pertama, penampilan pemeran utamanya. Sorry to say, Ji-yeon keliatan kayak noona di sini alias keliatan lebih tua disandingkan dengan Nam-jun padahal ceritanya mereka seumuran. Ji-yeon cantik tapi riasannya di sini kayak nggak berhasil memancarkan kecantikannya itu. Pas plot dia jadi model iklan pun nggak keliatan cantik anggun sebagaimana seharusnya. Tapi sebenarnya yang paling mengganggu adalah dinamika hubungan sejoli ini. Ketertarikan keduanya kayak agak dipaksakan. Se-gye kayak cinta banget sampe terima-terima aja diketusin Seo-ri melulu. Ada di sebuah episode yang ngeributin si Se-gye red flag, padahal di adegan yang sama dia abis ditampar Seo-ri. 

Sudah begitu Seo-ri yang diceritakan dulunya sebagai selir cerdik dan kuat, lama-lama malah jadi beban. Ya pertahanin restoran neneknya lah, dikibulin temen kerjanya sampe terkurung di gudang lah, sampe tau-tau pingsan pas mau menghadang buldozer. Semuanya mesti diselamatkan Se-gye mulu. Sungguh nggak konsisten dengan karakterisasi awal. Dan jangan lupakan soal adegan nyasar di hutan. Emmm kayaknya saya udah pernah liat adegan begini tapi di mana yaa? Ah, Winter Sonata! Gila sih, adegan nyasar di hutan diulang-ulang sejak jaman Winter Sonata! 

Sama kayak We Are All Trying Here, saya juga nggak excited buat segera nonton episode terbaru MRN. Malah mulai episode 10 ke atas, saya nonton sambil ngerjain hal lainindikasi saya sudah nggak begitu tertarik lagi menyimak baik-baik cerita dan akting pemain. Selanjutnya saya nonton drama ini pakai kecepatan 1,5, lalu di episode ending saya lompatin bermenit-menit. Sekedar mau tau aja gimana endingnya. Sudah nggak peduli lagi soal tukar jiwa, reinkarnasi atau apalah. Trus Se-gye yang udah nangis-nangis kangen gara-gara Seo-ri koma, tetiba aja Seo-ri siuman dan bisa nyusulin dia sampe ke museum. Hadah!

 

Recommended?

Entah ya. Buat saya Lovestruck in The City dan My Royal Nemesis masih lumayan enak ditonton sampai separuh pertama, sementara We Are All Trying Here cukup solid asal kamu bisa terima dengan karakter Dong-man yang bacot. Kesimpulannya? Yahh begitulah...


  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar