Rabu, 18 Maret 2026

IRAN: Resistensi


Hari ke-28 bulan Ramadhan 1447 Hijriah. Minggu ketiga sejak Zionis Israel dan US melakukan serangan ke Iran. Per hari ini Ali Larijani, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, dinyatakan tewas di kediaman putrinya dalam serangan Zionis Israel. What a time to be alive! 

 

Sebelum perang ini bergulir, pengetahuan saya, dan mungkin sebagai masyarakat awam di Indonesia, mengenal Iran sebagai negeri syiah. Dan jujur saja, pembicaraan tentang Iran selalu dalam tone negatif. Mereka syiah, sholatnya beda dengan kita yang Islam sunni. Mereka sholatnya pakai batu di ujung sajadah. Mereka memfitnah istri Nabi, mereka membantai kaum sunni. 

Saya jelas tidak akan membahas soal sejarah karena memang bukan ahlinya. Satu hal yang saya yakini adalah tidak seorang pun putih sempurna; apalagi sebuah kelompok atau negara. Terlebih politisi. Setiap perang adalah politik. Oh, satu hal lagi yang saya yakini: perpecahan sunni dan syiah terus dipelihara dan dibesar-besarkan supaya umat muslim tidak bersatu.

Iran, saat ini, barangkali menjadi negara paling banyak dibicarakan dan disorot. Sebuah negara teokrasi yang diembargo US hampir lima dekade tapi di bulan suci ini mengejutkan seluruh dunia. Mereka melawan! Ketika Supreme Leader-nya, Ayatollah Ali Khamenei, dirudal sampai meninggal di hari pertama perang, nyatanya negara ini tidak serta-merta kolaps. Bagaimana bisa? Ini negara yang dikucilkan dan disabotase (bukan kata yang berlebihan) perekonomiannya kanan-kiri. 

Perang ini membuka mata dunia--saya--tentang Iran. Segala demonisasi apakah benar? Apakah benar mereka tidak memperbolehkan wanitanya sekolah? Apakah rakyatnya merepresi masyarakatnya di bawah tiran agama? Mungkin saja. Saya tidak bisa berkomentar banyak tentang itu. Saya hanya mampu membaca fakta bahwa Iran adalah salah satu negara paling teredukasi di dunia. Para perempuannya? Melek huruf di atas 90 %.

Begitu banyak propaganda di dunia ini. Kata orang, pemenang perang adalah yang mampu memenangkan narasi. Sentimen dunia seperti apa? Apakah perang ini dibenarkan karena POTUS had a good feeling kalau Iran bakal menyerang aset dan personel US di regional. Apakah sekarang masyarakat dunia, masyarakat US khususnya, akan langsung menelan bulat-bulat narasi bahwa US menyerang sebuah negara karena negara tersebut menyimpan senjata pemusnah massal, alih-alih mengincar minyaknya? Apakah benar Zionis Israel menduduki tanah Palestina karena tanah itu dijanjikan kepada mereka ribuan tahun yang lalu?

Lalu, di tengah keos ini, di mana saya--salah satu masyarakat dunia sebetapapun insignifikannya--berdiri? Di pihak Iran tentu saja! Makin hari malah semakin jijik dengan kelakuan Zionis. Sungguh menyakitkan mata kalau ada sebuah akun Twitter berbahasa Indonesia yang mencela Iran, dan menjunjung Orange Man dan Satanyahu. Sama muaknya kepada rezim lokal yang masih ngotot gabung BOP di saat kapal minyak dalam negeri nyangkut di Selat Hormuz

Pun jika tanpa narasi di belakangnya, juga tanpa sentimen syiah dan sunni, sesimpel Iran sedang membela diri karena duluan diserang. Bahkan terjadi ketika Iran dan US sedang dalam masa perundingan damai. Saya akan selalu mengagumi sikap resisten dari masyarakat tertindas!

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar