Jumat, 20 Maret 2026

Journaling



Beberapa kali membaca anjuran kepada orang-orang yang mengidap gangguan kecemasan, stres, hampa, dan gangguan pengelolaan emosi lainnya untuk menulis jurnal. Sementara itu, 13 tahun yang lalu, saya menamai blog ini, dengan kesadaran penuh, Jurnal Novia. Dan memang dimaksudkan untuk menuangkan pikiran, emosi, opini, dan ide-ide secara jujur. Lebih jauh, blog ini adalah medium monolog ketika tidak ada telinga yang bersedia mendengar.


Hari ini, Jumat, 20 Maret 2026. Hari ketiga puluh bulan Ramadhan 1447 Hijriah. Seperti biasa, saya ikut lebaran sesuai jadwal Pemerintah. Hari ketiga libur kerja, yang mayoritasnya saya pakai untuk rebahan sambil scroll Twitter dan Youtube. Saya memutuskan akan pergi ke rumah saudara besok selesai Sholat Eidpertama kalinya sejak Mama pergi dan saya tinggal sendiri. Ada satu insiden mengecewakan terkait bukber keluarga yang membuat saya berat untuk berangkat lebih awal seperti tahun-tahun sebelumnya. Satu hal yang tidak saya sesali adalah keberanian untuk menjawab lugas ketiga sekali lagi mendengar kata-kata menyepelekan kondisi saya yang masih lajang. Tidak pertemanan, tidak persaudaraan, saya menolak diperlakukan kurang dari seharusnya. 

Surprisingly, belakangan saya jarang merasakan gejala gangguan emosi. Setiap pagi di hari kerja, terutama di bulan Ramadhan ini, saya masih membatin bahwa saya bukan morning person tapi mesti berangkat ketika langit masih gelap. Tapi hari-hari ini saya jarang merapal mantra "I can do this all day". Ini sama sekali tidak ilmiah, tapi saya punya teori Vitamin IPI punya pengaruh atas hal ini.

Pertama kali tertarik beli karena sekilas melihat review tentang Vitamin D3 yang membantu menurunkan tingkat kecemasan dan depresi. Berhubung belakangan saya curiga suplemen yang selama ini saya minum setidaknya lima kali seminggu turut mempengaruhi kenaikan berat badan dan durasi haid yang makin singkat, jadilah saya memutuskan untuk ganti vitamin ke merek IPI. Sejauh ini saya punya empat jenis: Vitamin B Complex, Vitamin C, Vitamin D3 + K2, dan Magnesium.  

Sekali lagi, ini tidak ilmiah, tapi saya jadi teringat sebuah buku yang pernah saya baca bertahun-tahun lalu tentang manusia yang sebenarnya adalah serangkaian reaksi kimia. Jadi, selain dipengaruhi peristiwa dan pengalaman, emosi manusia juga dipengaruhi oleh nutrisi yang diserap tubuh.

Apapun, saya cukup hepi dan bersyukur. Ketika prinsip tidak mau siapapun take me for granted dipegang, kesendirian menjadi keniscayaan.




Anyway, hal yang membuat saya tetap kalem mungkin juga adalah obsesi terbaru yaitu sourdough. Mula-mula saya suka bikin bagel, akhirnya lanjut bikin rustic bread. Semuanya pakai ragi instan, dan semuanya berhasil. Lantas kemudian saya mengenal sourdough; sebuah roti klasik yang hanya pakai ragi alami sebagai pengembang.

Obsesi bukan kata yang berlebihan karena untuk feeding starter saya sampai rela repot bawa starter saya ke kantor demi jadwal feeding tepat waktu. Saya masih ingat saya mengaduk starter di Stasiun Tanah Abang! Wkwkwk. Atau waktu saya terburu-buru feeding starter di pantry kantor sementara bos menelepon menanyakan nomor rekening vendor yang keliru.

Hari ini saya sudah sampai di percobaan keempat. Pertama, adonan flat dan asam. Kedua, saya dengan bodohnya menambahkan ragi instan ke adonan yang sedang fase fermentasi saking frustasinya adonan terlalu basah dan tidak mengembang. Ketiga, insiden mati listrik ketika saya siap memanggang, saya pikir kali ini nggak akan gagal-gagal amat, tapi akhirnya adonan tetap flat dan asam. Keempat, roti sudah mengembang bagus, punya "telinga", garing di luar, tapi bagian dalam masih seperti adonan bantat. Semua percobaan ini saya lakukan di akhir pekan.

Setelah mengamati adonan saya yang keempat, saya meyakini fase shaping pun berpengaruh terhadap tekstur adonan. Adonan yang tadinya flat, setelah dibentuk dengan metode yang benar, akhirnya bikin adonan saya kokoh. Begitu juga menyayat adonan setelah sekitar enam menit dipanggang―tidak langsung slicing sebelum masuk oven. Penjelasan ilmiahnya barangkali karena memaksimalkan ragi dengan tidak membuang karbondioksida keluar sejak awal lewat sayatan.

Melihat adonan terakhir berhasil mengembang tapi rasanya masih terlalu asam, saya akhirnya berkesimpulan masalahnya ada di starter. Setelah kembali menyimak berbagai video Youtube, akhirnya saya mulai lagi feeding starter lama saya yang waktu dibuat diberi makan rutin sampai tujuh hari. Semua ilmu tentang sourdough memang saya dapat dari Youtube. Dari yang sangat berhati-hati tentang bahan dan jadwal feeding, sampai ke video cuek-bebek yang meyakinkan penonton bahwa sourdough sepemaaf itu alias nggak seribet itu.




Tapi buat saya, sourdough is indeed drama queen of bread. Empat kali gagal! Benarlah frasa bahwa baking is science. Semua variabel ngaruh; temperatur ruang, kelembapan, hidrasi, suhu oven. Semuanya mesti diperhatikan. Dan saya masih termotivasi untuk buat sampai benar-benar berhasil. Sampai di sini kayaknya saya lebih tertarik kegiatan baking-nya, alih-alih makan rotinya.

So, what's the point to having friends if they don't wanna listen my obsession over sourdough?  

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar