Selasa, 16 Juni 2026

Pilihan Pekerjaan



Setahun berlalu dengan cepat. Kontrak kerja berdurasi 12 bulan sudah sampai di penghujung dalam hitungan minggu. Dari celotehan kolega di sebelah meja, konon bos besar bergeming atas form penilaian saya. Dan itulah yang membuat saya gelisah seharian kemarin.

 

Saya rasa saya trauma. Pengalaman dengan perusahaan sebelumnya membekas di ingatan sedemikian hebatnya. Dan memang tidak ada yang benar-benar bisa dijadikan pegangan. Tidak peduli bagaimana saya atau semua kolega memandang pekerjaan saya, betapapun baiknya di pikiran kami, keputusan akhir tetapkah subjektif di tangan bos. Dan siapa yang bisa menjamin apa pandangannya terhadap saya? Saya sering memutar memori ketika saya kelepasan melontarkan komentar dalam Bahasa Inggris di depan beliau padahal bukan itu maksud saya sebenarnya.

"How is it possible?" tanya dia ketika saya bilang ada satu dokumen yang terlewat ia tandatangani.

Lalu apa jawab saya?

"It happen all the time."

Duh.

Kalau di pikiran saya, bos mungkin mikir saya sedang menyindirnya oon karena hal yang sama terjadi setiap waktu. Walau di ujung saya koreksi, "happen to us" yang adalah maksudnya "gapapa, semua orang suka kecolongan juga kok", entah tertangkap maksudnya atau tidak.

Itu cuma satu contoh. Dan memang kenyataannya, saya nggak akan pernah bisa memastikan apakah dia sreg sama saya. Di bulan pertama saya kerja di perusahaan ini pun ada seorang karyawan yang tidak diperpanjang kontraknya meski banyak karyawan lain yang turun tangan untuk menegosiasikan keputusan ini karena si karyawan dinilai cakap dalam bekerja di mata rekan-rekan kerja. Tetap, keputusan bos besar tidak bisa ditawar.

Dari awal tahun saya sudah memperbaharui resume, dan sudah mulai apply juga. Tapi, bisa jadi karena masih secure secara kontrak kerja di perusahaan sekarang, kegiatan apply-apply ini belum giat. Manajemen kureng adalah satu hal, sedangkan remuknya badan merupakan perkara utama. Setiap pagi saya membatin betapa lelahnya tubuh saya. Empat jam sudah pasti dipakai di perjalananbisa lebih. Hal tak terelakkan lainnya adalah tergencet di dalam gerbong setiap pagi. Terkadang saya membayangkan tiba-tiba kehabisan napas saking padatnya di gerbong atau seperti yang terjadi di Stasiun Bekasi tempo hari... naudzubillah mindzalik. Saya pikir lambat-laun tubuh saya bakal "habis". Seandainya gaji saya naik 20 persen saja dari sekarang, sepertinya saya bakal langsung ambil keputusan untuk ngontrak dekat kantor.

Sekarang saya tidak lagi pasang target untuk kerja dekat rumahyang jauh pun oke asalkan gajinya mencukupi untuk membayar semua tagihan, termasuk dua tempat tinggal. Tapi di situlah sulitnya. Saya sudah terempas ke barisan belakang lagi, sedangkan gaji minimum yang saya harapkan umumnya diberikan untuk setidaknya level pengawas. Tapi, betapapun saya percaya diri bisa menangani pekerjaan setingkat pengawas karena memang sudah pernah, apakah pemberi kerja bisa teryakinkan dengan hanya berbekal informasi di atas resume? Jangan-jangan mereka malah bertanya-tanya mengapa alur pengalaman kerja saya sempat menukik begitu.  

Entah kenapa kemarin kecemasan saya tidak cepat surut. Perihal umur yang sudah banyak dan job market yang betul-betul busuk menghantui pikiran saya sepanjang hari. Menengok histori lamaran kerja di Jobstreet sungguh mengecilkan hati; satu lowongan pekerjaan dilamar ratusan bahkan ribuan orang. Sementara itu saya terbayang deretan truk parjo yang anggotanya bersiap menghadang mengawal barisan mahasiswa yang hendak berdemo hari itu. Saya tumpahkan keresahan ini dengan meng-quote cuitan seseorang tentang harapannya agar di masa depan tidak lagi berada di survival mode. Masalahnya, hidup dalam mode bertahan di rezim hari ini menjadi sebuah keniscayaan. Mempertankan hidup saja sudah sulit, boro-boro meningkatkan.

Belum lama ini saya kepikiran belajar pijat setelah menonton dokumenter ini. Barangkali saya bisa mengikuti jejaknya. Jadi pekerjaan sampingan, mungkin? Ahh, siapa tau saya malah bisa kerja di Maldives dengan membawa keterampilan ini. Tapi akhir pekan lalu, sambil dipijat kaki, saya bercakap sedikit dengan terapisnya, lantas menarik kesimpulan bahwa sepertinya saya bukan orang yang tepat untuk pekerjaan ini. Boro-boro mengerahkan segenap tenaga untuk menghilangkan pegal-pegal di badan orang lain, menggosok kerak bandel di panci pun kadang sulit saya lakukan. Huft!

Beberapa bulan lalu, dalam agenda memikirkan cara bertahan hidup, saya pernah dengan enteng berkata pada diri sendiri bahwa jika tidak ada jalan keluar lagi, saya bakal jadi TKW saja di luar negeri. Tentunya saya maunya jadi ekspatriat di Malaysia; bekerja sebagai staf keuangan di salah satu Sendirian Berhad. Tapi, sebagaimana di negara manapun, untuk selevel staf pastilah mengutamakan warga lokal. Begitu banyak realita yang mengecilkan hati. Karena itu ya sudahlah jadi pembantu rumah tangga saja. Di Singapura boleh, di Hong Kong pun gas.

Saya sudah di titik itu. Saya sudah tidak mau mempertimbangkan ambil kursus Brevet atau akunting atau apalah. Sulit, sungguh sulit. Mau buka usaha laundry seperti kakak pun sulitsudah banyak! Lagipula saya ngenes melihat betapa sedikitnya pinjaman cicilan KPR berkurang saya setelah lima tahun lebih rutin membayar setiap bulan. Misalkan saja saya bisa menyisihkan SGD 500 per bulan, cicilan rumah saya bisa selesai lebih cepat. Modalnya cukup niat dan tekad saja. Atau mungkin jadi caregiver lansia saja supaya tidak malu-maluin amat karena tiba-tiba jadi ART? Masalahnya saya bukan penyabar, berhadapan dengan pekerjaan domestik alih-alih menangani manusia terlihat lebih masuk akal. Lagipula, malu dengan pekerjaan bukan perkara utama concern saya sekarang, tapi kemampuan fisik dan psikologis. Mampukah saya meng-handle pekerjaan yang disuruh-suruh orang lain? 

Setidaknya sudah dua konten Youtube dari pahlawan devisa yang saya tonton sejauh ini. Mungkin saya akan lebih serius mempertimbangkannya esok hari.  

 

  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar