Senin, 01 Juni 2026

Menganalisa Magelang


Pertengahan bulan Mei lalu, di hari libur nasional Kenaikan Isa Al-Masih, saya pergi berlibur ke Magelang. Ini adalah liburan pertama semenjak liburan terakhir saya ke Singapura dan Malaysia. Dang! I'm really busy surviving!

 

The Trip

Jalan-jalan ini dimulai dari Stasiun Pasar Senen pukul 21.10 menuju Stasiun Yogyakarta. Kereta saya Madiun Jaya, dan cukup tepat waktu. Kursinya single tapi I barely sleep during the trip. Saya berangkat bertiga: saya, temen kampus saya dan seorang gen Z temannya. Nyampe Yogya, kami siap-siap dan sholat shubuh dulu di stasiun. Begitu di luar terang, kami jalan kaki ke tempat sewa loker buat nitip ransel. Niatnya mau muter-muter di kota setengah hari sebelum cabut ke Magelang.



Destinasi pertama adalah Pasar Ngasem untuk cari sarapan. Pasarnya kecil tapi rame luar biasa. Kayaknya sih pernah viral di Tiktok. Banyak lapak yang ngantri panjang. Salah satu antrian yang paling wow adalah lapak wingko babat. Dari sekian jenis makanan yang kami beli di sana, semuanya biasa aja. Yahh, walau memang sih, melihat gimana antrian sana-sini, kami urung beli makanan yang keliatannya jadi incaran banget.

Beres dari Pasar Ngasem, kami lanjut jalan kaki ke Taman Sari. Ini wisata yang sudah pernah saya datangi pas pertama kali ke Yogya. Sepanjang yang saya ingat, tempatnya masih sama seperti dulu. Ini adalah tempat mandi-mandi keluarga keraton jam dulu. Tiket masuk dewasa lokal Rp15.000 per orang.

Setelah makan siang dan ambil ransel, kami cuss ke Terminal Tidar naik Grab. Awalnya cari-cari tau perihal bis, tapi setelah cek ongkos dari beberapa opsi akomodasi, dan sekaligus mempertimbangkan efisiensi, terpilihlah Grab Car. Dari Terminal Tidar, kami naik motor menuju lokasi penginapan di Sukomakmur. Perjalanan lumayan menantang sampe akhirnya saya menyerah dan milih membonceng alih-alih bawa motor sendiri. Pas udah masuk ke desanya malah lebih ekstrem lagi. Jalanannya khas bukit; naik-turun dan berkelok-kelok.


View dari penginapan

 

Kami nyampe di penginapan yang berbentuk semacam glamping itu udah hampir maghrib. Kabut udah turun, sementara penerangan jalan nyaris nggak ada. Mau makan malam di kafe dekat penginapan, rupanya mereka tutup jam 6 sore. Memang nggak ada semacam view city lights yang bisa dijual sih. Wkwkwk. Walhasil cuma bisa pesan makanan di dapur penginapannya. 

Besok paginya, wisata sesungguhnya pun dimulai. Kami sewa ojek buat keliling objek wisata  Kalau nggak salah biaya per ojek Rp185.000, sudah include jasa foto-foto dari salah seorang kang ojeknya hehehe. Awalnya sih, nggak ada ide atau pembicaraan kalau bakal sewa ojek. Kirain bakal gas aja pake motor sewaan. Tapi setelah alamin sendiri gimana perjalanannya, rute dan medannya, memang nggak bisa sih buat first timer. Saya pun rasanya ngeri membonceng salah satu travel buddies saya itu. Saya bisa kalem selama di atas ojek karena yakin bapaknya udah pro. Dan sebetulnya, jasa ojek ini jadi semacam paguyuban dilihat dari seragam jaket mereka. Memang udah diatur begitu, selain ada juga opsi naik mobil jeep terbuka. Omong-omong, bapak-bapak ojek saya sehari-harinya petani. Ojek wisata ini jadi sampingan beliau.


Paguyuban ojek wisata

Kami bertiga berturut-turut ke Mangli (HTM Rp 10.000), Silancur Highland (Rp15.000), Terasering (HTM Rp 10.000), dan Kebun Sayur Sukomakmur (HTM Rp 10.000). Literally semua wisata itu terpusat, meski beda desa dan beda kecamatan. Nggak jauh-jauh lah. Empat lokasi itu bahkan selesai dieksplor jam 9 pagi. Pemandangannya adalah kebun sayur dengan dominan tanaman daun bawang dan kol, dan Gunung Sumbing yang kelihatan agung banget. Bentukannya tuh sempurna sebagaimana kalau kita membayangkan "gunung". Tapi, beda saat melihatnya dari sisi Magelang, rasanya gunung ini terlihat lebih besar dan dekat kalau kita berdiri di sisi Temanggung. By the way, view menjual di spot-spot ini adalah momen matahari terbit. Sayang banget matahari ketutupan awan kelabu. Kalau menurut bapak ojek sih seharusnya bulan-bulan ini udah kemarau dan cerah. Sayangnya, seperti terjadi di belahan bumi manapun, cuaca jadi sesuatu yang sulit diprediksi sekarang-sekarang ini.





Siangnya, kami ke Curug Silawe via Topview Sukoyoso. Medan ke curug ini turun-naik berbatu, tapi ternyata itu karena kita bukan ambil jalur biasa. Curugnya sendiri punya dua air terjun dengan tiket masuk seharga Rp9.500 per orang.

 

Jalan berbatu

 


Besok paginya, kami ke spot yang paling terkenal yaitu Nepal Van Java. Sayang banget, lagi-lagi pemandangan tertutup kabut. Spot fotonya sendiri adalah susunan rumah-rumah warga yang divat berwarna-warni dengan Gunung Sumbing di latar belakang. Kurang lebih begitu.

 

 

Siangnya, sekalian menuju Terminal Tidar untuk pulang, kami ke Gereja Ayam di Bukit Rhema yang populer berkat film Ada Apa Dengan Cinta 2. Tentu, beda dengan penampakan di film yang seperti bangunan terbengkalai, sekarang lokasi ini sudah difasilitasi selayaknya tempat wisata. Ada tiket masuk seharga Rp25.000, jasa shuttle untuk bawa kita ke atas, tour guide, dan kafe-kafe. Tiket masuknya sendiri sudah termasuk cemilan singkong yang bisa diambil di atas. Dari situ bisa kelihatan Candi Borobudur di kejauhan. Tapi, sebagaimana ditunjukkan di film AADC 2, panorama sesunguhnya disajikan saat matahari terbit yang dinikmati dari atas mahkota ayam. Kami yang datangnya siang, cukup dapat teriknya matahari aja. Hehehe.

Omong-omong, menurut keterangan singkat pemandu wisatanya, bangunan ini bukan khusus untuk umat Kristiani, tapi untuk semua umat beragama. Di lantai bawah tanahnya sendiri ada bilik-bilik batu untuk orang berdoa. Kayak semacam tempat berdoa lintas agama begitulah. Dan di lantai ruang doa ini dilarang untuk ambil foto. 



Semacam aula di dalam gereja

Destinasi terakhir adalah Candi Borobudur. Ini kali kedua buat saya ke Borobudur. Kali pertama adalah tahun 2015. Dan satu dekade ternyata mengubah banyak hal di seribu candi itu. Sekarang kompleks Borobudur sudah tertata, mengingatkan saya pada area Kebun Raya Bogor. Tiket masuknya pun dibedakan antara yang cuma sampai kaki candi atau yang bisa sampai naik ke atas. Untuk mendekat ke area candi dari desk tiket masuk pun ada mobil terbukanya sendiri. Sejujurnya tata kelolanya sudah bagus banget, mengingat sebetulnya ini masih tempat ibadah agama dan barang peninggalan sejarah. Tapi saya mengingat pengalaman sepuluh tahun lalu sebagai sesuatu yang lebih raw dan intim. Beda dengan sekarang yang terkesan sangat rapi.

 





Pulangnya, kami naik sleeper bus Sinar Jaya dari Terminal Tidar ke Kampung Rambutan. Saya yang mulanya sebelahan sama cowo akhirnya dapat kesempatan tukar kursi dengan penumpang di depan yang juga cowok-cewek. Syukur alhamdulillah karena sekalipun nggak ada insiden apapun selama perjalanan, saya nggak bisa berhenti waswas rebahan di sebelahan cowok. Fiuh!

 

The Thought 

Magelang adalah salah satu kota yang pengin saya kunjungi sejak lama. Seseorang atau sebuah akun pernah menyebut betapa kota ini adem dan rapiimage yang saya suka dari sebuah kota. Dan sepanjang yang saya ingat, dengan teman yang sama, kami pernah merencanakan liburan ke Magelang juga beberapa tahun lalu, tapi gagal. 

Saya berangkat dalam nuansa impulsif dan langsung booking transportasi pulang-pergi begitu temen saya ngasih tau rencana tripnya ini waktu kami ketemuan kurang lebih tiga minggu sebelumnya, Pada hari H, kami jalan bertiga: saya, teman saya itu dan seorang teman kursus Brevet-nya. Saya dan teman saya itu adalah generasi Milenial, sedangkan yang satunya adalah Gen Z. Perlu diperjelas karena sepanjang perjalanan, dinamika relasi kami lumayan merepresentasikan citra dari masing-masing generasi.

Ketika jalan-jalan, saya biasanya menurunkan ekspetasi. Toh sebetulnya definisi liburan saya adalah menjauh dari kota biasa saya berutinitas dan terbangun di kota asing. Saya biasanya cukup santai dengan apapun yang terjadi selama trip. Dan itulah yang terjadi, saya rasa saya chill aja selama perjalanan. Kalau bukan lagi menuju spot wisata, biasanya kami bertiga nyebar sendiri-sendiri di sekitaran penginapan. Sepanjang yang saya lihat sih biasanya teman saya ngedit-ngedit foto dan video liburannya untuk konten Tiktok, sedangkan yang satunya juga ambil video estetik untuk keperluan yang sama. Saya sendiri suka ngide jalan kaki ngelilingin area glamping, lalu berakhir ngopi di kafe terdekat.


 

Nongkrong sendiri di kafe

Makin ke sini saya makin nggak ada kepentingan untuk ambil banyak foto dan video. Saya udah logout Instagram sejak beberapa tahun lalu. Akun Tiktok pun nggak punya. Paling jauh, saya posting satu-dua foto di stori WA. Dan ini beda banget situasi dengan dua teman lainnya. Apalagi si anak Gen Z yang MasyaAllah semuanya perlu difoto dan direkam. Ada di satu titik saya mikir, "emang followers/subscribers elo beneran sepengin tau itu kalau elo makan baso kuah di Magelang?" ketika dia meminta saya bantu merekam dirinya. Belakangan saya hampir kayak menjauh, takut diminta fotoin atau rekamin. Ya memang dia memintanya dengan sopan ("fotoin aku dong, Kak~"), tapi yaa gimana kalau di setiap titik mesti banget ambil foto yang banyak.

Usai terungkap begitu cara mereka berlibur, saya membatin untuk membunuh kemungkinan jalan bareng lagi di masa depan. Sudah jelas kami nggak sepreferensi dalam hal liburan. Saya melihat mereka agak dangkal memaknai liburan untuk sekadar kebutuhan konten medsos, sementara saya pikir saya kelihatan rude bersama mereka; nggak mau gabung foto-foto, suka ngilang jalan sendirian. Sungguh kombinasi unmatched travel buddies. Saya gagal jadi representasi Milenial yang chill dan bijak di depan Gen Z kalau begini wkwkwk.

Dan tentu hal lain yang berseliweran di kepala saya adalah hubungan saya dengan teman saya. Dia adalah salah seorang yang saya ceritakan di post ini. Saya coba mencerna dan sampai pada satu konklusi kalau dia over confident ketika berhadapan dengan saya. Tentu ada hubungannya dengan status pekerjaannya sekarang yang sepertinya sangat bagus; sedangkan saya terseret ke barisan belakang lagi sebagai staf. Tentu ini cuma analisa saya sendiri dan dia melakukannya tidak dengan sengaja, tapi kalau saya ingat-ingat dia begitu sejak tahu apa yang terjadi di pekerjaan saya sebelumnya. Sekarang ketika kami ngobrol, saya merasakan kesan "cerita gue lebih seru" alias superior dari dirinya. Saya ingat sebelum itu saya selalu mengingat dia sebagai teman yang lebih muda dari saya tapi sering memberi saya insight. Dulu itu saya kepikiran untuk bisnis baju thrift setelah ngobrol sama dia. 

Kalau merujuk gimana kondisi psikologis saya sekarang dan apa misi hidup yang sedang saya emban, rasanya saya bakal seperti biasa aja; ketemu dia setahun dua-tiga kali. Ketemuan di mal sambil menurunkan ekspetasi untuk dianggap cerita saya lumayan seru untuk didengar juga. Hahaha. Miris. But it is what it is...

 


  


Tidak ada komentar:

Posting Komentar