Dua puluh empat jam yang lalu saya sedang duduk di jok kereta dengan lengan memeluk erat ransel di pangkuan; merintih dan menahan panas di dalam dada. Heartburn. Setelah berulang kali bloating setelah makan makanan tertentu―kopi terutama―bisa dikatakan kali ini saya resmi punya penyakit GERD.
Saya kutip dari situs Alodokter, GERD (Gastroesophageal Reflux Disease) adalah penyakit yang terjadi ketika asam lambung naik ke kerongkongan, dengan gejala bisa berupa sensasi perih di dada dan perut, rasa pahit di mulut, nyeri ulu hati, mual, dan sulit menelan. Semua yang tertulis di sana saya bisa membenarkan berdasarkan pengalaman kemarin dan sebelum-sebelumnya; mulai dari penyebab sampai faktor yang memperparah gejalanya.
Bahkan sebetulnya, jika hanya menengok satu minggu ke belakang―yang kebetulan juga terekam di blog ini―rasa-rasanya kedatangan penyakit ini mudah diprediksi. Saya sedang stres karena kontrak kerja belum kunjung turun sementara job market makin busuk. Untuk mendistraksi pikiran, saya senang menghabiskan waktu memandangi ponsel. Melihat dan menonton apa saja. Lantas tanpa sadar cuma punya waktu 5 - 6 jam tidur.
Lalu makanan... ah, semingguan ini saya benar-benar makan makanan yang sebetulnya merupakan pantangan bagi penderita penyakit lambung rewel. Bagaimana lagi? Saya mesti bertahan, dan makan apa yang saya mau adalah cara saya membujuk diri sendiri agar kuat bertahan.
Saya masih rutin makan sourdough bread yang sudah menjadi obsesi. Iya, sourdough yang masih belum mengembang sempurna bahkan setelah selusin percobaan. Roti bantat itu tetap saya konsumsi untuk sarapan. Rasanya terjadi di minggu ini juga ketika saya mencoba mengabaikan fakta bahwa roti dengan ragi alami ini membuat perut saya kembung. Saya masih berpikir, ah, ya, benar, roti ini memang bersifat asam, tapi apa yang sebenarnya membuat saya bloating adalah cara makan yang terburu-buru.
Bisa jadi benar. Malah memang penderita sakit lambung diminta makan pelan-pelan sampai kunyahannya halus. Tapi coba lihat apa yang saya makan semingguan ini: brokoli kukus, gulai nangka kambing, kimchi, smoothies strawberi-pisang dengan susu full cream, mie instan, dan puding coklat. Puncaknya tentu saja kemarin: saya nekat ngopi sementara siangnya saya makan gulai nangka! Makanan asam fermentasi, santan dan susu berlemak, sayuran mengandung gas, buah asam dan kafein. Lengkap sudah.
Kalau hari biasa, mengikuti jam kerja, saya selalu disiplin makan siang tepat waktu. Antara jam 12 sampai 1 siang. Tapi kalau akhir pekan dan saya di rumah saja―baru saya sadari―saya sering dengan terlalu serampangan menoleransi jam makan siang. Kadang baru makan siang pukul setengah tiga karena saya baru bangun tidur siang. Ternyata sudah tidak bisa begitu lagi.
Kebiasaan makan buruk lainnya adalah sarapan terburu-buru. Saya mengunyah apapun sambil memakai baju dan sembari mengusap lotion ke pergelangan lengan. Kegiatan di pagi hari seperti menyiapkan bekal makan siang, sarapan, mencuci piring, mandi dan berdandan mesti kelar dalam waktu satu jam. Saya sudah mesti keluar rumah pukul 6 untuk mengejar kereta pukul 06:12.
Jujur, saya tidak banyak berubah dalam hal kebiasaan makan. Dalam hal menu pun tidak banyak berubah. Dan sebenarnya saya menganggap diet yang saya lakukan selama ini sudah benar; apa yang saya makan sudah memenuhi gizi seimbang. Semua yang sama. Yang beda adalah tubuh yang menua dan tidak bisa diperlakukan sama seperti tahun-tahun sebelumnya.
Lalu faktor yang tak kalah berperan: kondisi psikologis. Semua gejala stres akibat ketidakpastian pekerjaan dan commuting yang makan waktu seperti yang saya tuliskan di postingan sebelumnya. Semua terjadi di minggu ini. Dan ada cuitan tentang badan saya yang remuk akibat tergencet mbak-mbak yang menggendong tas besar di minggu ini juga. Dan oh, Jumat dini hari kemarin saya merintih kesakitan gara-gara betis kanan keram. Saya tidak bercanda waktu menulis tubuh saya lama-kelamaan akan "habis" kalau rutinitas saya begini terus. Saya lelah fisik dan batin. Dan tidak, saya tidak "mencari-cari" penyakit ini. Penyakit ini adalah implikasi logis dari kegiatan bertahan hidup yang saya jalani satu setengah tahun ini.
Kemarin, di atas kereta, saya terbayang hal-hal buruk. Dengan dada panas menjalar saya berpikir, inikah akhirnya? Rupanya saya menyusul Mama tidak sebagai perempuan tua. Saya belum mencapai apapun, dan belum dicintai sepenuhnya sampai merasa utuh, tapi apa mau dikata? Siklus ini menyakitkan namun tak bisa diputus: stres menyebabkan lambung perih, lambung perih menyebabkan stres.
Hari ini, saya makan sedikit-sedikit sejak pagi dan minum obat dari dokter dengan patuh sesuai anjuran. Dan juga berpikir sedikit-sedikit besok harus apa.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar