Minggu, 09 Agustus 2026

Hiatus


Satu kata ini jadi semacam kode rahasia saya dengan teman sekantor. Sebetulnya tidak menyangka bahwa saya akan berbagi hal yang ingin saya lakukan di masa depan dengan orang ini. Saya bilang, setelah belasan tahun kerja terus tanpa jeda, rasanya saya kepengin dan merasa berhak untuk hiatus sejenak.

 

Saya mencetuskan istilah "hiatus" di kantor karena saya dan si kolega suka membahas drakor, dan aktor-aktor Korea yang kerap menghilang sejenak untuk istirahat setelah selesai satu proyek. Saya pengin begitu juga. Apalagi setelah melihat sendiri bagaimana rutinitas "merusak" tubuh saya yang semakin tua ini.

Lucunya, hal begini terjadi pada seorang bestie saya yang saya ceritakan di sini. Dia sungguhan bakal menjalani apa yang saya inginkan, yaitu break sejenak dari pekerjaan. Tak tanggung-tanggung, status cuti tak berbayar ini berlaku sampai akhir tahun! Semalam dia cerita tentang rencananya dalam lima bulan ke depan; mungkin tidak akan balik ke Indonesia dalam jangka waktu yang lama, tapi jika pun kembali, masih ada tempat untuk dia di tempat lama. 

Tepat seperti yang saya inginkan! 

Ini masih menjadi lanjutan cerita tentang merusak diri sendiri di postingan sebelumnya. Saya masih kepikiran soal hiatus dan dampak-dampak apa saja yang mungkin terjadi akibat keputusan itu. Saya masih beraktifitas seperti biasa, masih mendistraksi pikiran dengan doomscrolling atau nonton anime dan series. Tapi dalam hati, saya merasa meredup dan muram. Bukan karena sering gagal, tapi karena merasa sudah habis kesempatan. Pun kalau saya jadi hiatus karena nekat nantinya, rasanya saya nggak bisa seperti teman saya itu yang menggunakan waktu istirahatnya untuk melancong keluar negeri. Lagi-lagi, UANGNYA DARI MANAAAA???

Sebetulnya, selain kepengin punya waktu cukup lama untuk jalan-jalan, saya membayangkan punya waktu untuk gegoleran, baca buku, nonton dan menghapal ayat-ayat sucisemua hal yang sebetulnya bisa saya lakukan di akhir pekan juga, tapi saya membayangkan saya tidak perlu terburu-buru melakukan itu semua.

Terburu-buru. 

Setelah saya mencoba untuk tidak tergesa-gesa makan semenjak resmi kena gerd, Jumat lalu lambung saya kambuh. Jika tak salah ingat, ini adalah kali pertama kambuh setelah sekian lama perut saya aman. Tebakan saya karena saya sarapan tergesa-gesa. Saya bangun jam 5 pagi, padahal seharusnya tiap Jumat saya bangun setengah 5 karena jam masuk kantor maju setengah jam dari hari-hari reguler.

Setelah itu saya jadi teringat video konten lucu-lucuan tentang orang Bogor yang merasa bangun jam 4 pagi itu kesiangan karena perjalanannya ke tempat kerjanya di Jakarta makan waktu lama. Ini persis saya, hanya selisih di jam bangunnya saja. Intinya, kami-kami yang berdomisili di ujung bereung ini mesti gedebak-gedebuk sejak gelap. Itupun masih merasa "kesiangan".

Saya mulai berpikir, mungkin lebih baik saya nggak usah masak aja. Nggak usah berambisi bikin roti sendiri, bikin selai strawberi homemade, bikin minyak bawang dari kulit ayam, bikin kimchi sendiri, bikin meatball dan kriwil ayam. Food preparation butuh waktu, menyiapkan bekal dan sarapan setiap pagi juga bikin saya tergesa-gesa ke kantor. Akibatnya pinggang belakang sering sakit. Gimana? Toh, saya selalu bilang saya bawa bekal bukan semata ngirit, tapi karena memang suka. Jadi, uang bukan isu utama dong? Bangun jam 5 pagi di hari Jumat masih cukup untuk siap-siap lantas berangkat setengah jam kemudian untuk ngejar kereta yang jalan jam 05.48. Cukup, asal saya nggak ngotot nyiapin sarapan dan bekal sendiri seperti biasa.

Itukah yang harus saya lakukan untuk melapangkan hari-hari yang terasa semakin sempit?   

Jujur, sekarang ini saya sering merasa dihadapkan pada dilema; dua pilihan yang sama-sama ngasih saya resiko getir. Pilih commuting 4 jam sehari tapi nyaman di rumah yang lega untuk diri sendiri, atau cari kontrakan dekat kantor tapi amat mungkin cuma mampu sewa lubang kelinci? Makan full di luar yang berarti keluar uang ekstra dan belum tentu bikin saya nafsu makannya plus dipertanyakan higienitasnya, tapi jelas nggak repot di dapur sampai ke perkara cuci piringnya, atau tetap nyiapin makan dari tangan sendiri dengan resiko kecapekan? Mau nekat resign dan bisa hiatus, tapi selalu ada resiko tinggi sulitsangat sulit mengingat umur dan busuknya ekonomi lokaldapat pekerjaan baru setelahnya, atau bertahan sampai badan benar-benar habis tapi setidaknya bisa secure keuangan bulanan?

Bolehkan saya hiatus agar leluasa memikirkannya? 





Tidak ada komentar:

Posting Komentar