Sekitar tiga mingguan yang lalu saya sakit. Kamis dan Jumat terpaksa ijin tidak ngantor. Flu dan demam sampai seluruh persendian terasa nyeri. Seninnya saya ngantor lagi. Demam sudah pergi, tapi badan masih belum seratus persen bugar. Sempat mimisan pula di kantor. Plus asam lambung kambuh.
Empat hari kerja berikutnya badan masih terasa belum fit. Hari Kamis di kantor, sakit di seluruh tubuh seperti sebuah siklus yang saling terkoneksi; kepala sakit karena stres, lalu gara-gara stres akhirnya ngaruh ke lambung. Begitu alurnya. Bolak-balik. Saya menimbang; melihat-lihat apakah pekerjaan memungkinkan untuk ditinggal cuti satu hari. Dalam kepala saya hari itu, saya beneran stres membayangkan besok, hari Jumat, harus berangkat dari rumah paling lambat pukul 5.30 pagi. Tiap Jumat memang kantor saya jadwal masuknya pukul 07.30. Barulah ketika memutuskan, "yak, oke, besok cuti!" syaraf-syaraf di sekujur tubuh terasa mengendur.
Seperti saat sakit di minggu sebelumnya, hari Jumat dan Sabtu ketika itu saya juga minim ketemu manusia. Otomatis hanya bicara beberapa patah kata dalam urusan transaksi jual-beli singkat. Dan di situlah puncaknya rasa sakit di kepala; perasaan depresif, terisolasi, mengisolasi, dan tidak tahu harus berbuat apa.
Well, mungkin sebenarnya saya tahu harus apa dan bagaimana. Karena setelah satu sesi mengobrol dua jam di aplikasi Discord, saya merasa jadi agak mendingan. Akhirnya, bisa cuap-cuap dan terkoneksi dengan manusia beneran. Akhirnya, dianggap sebagai manusia. Didengarkan. Disimak. Selama dua jam itu saya berusaha keras untuk fokus dengan diskusi, alias tidak sambil scrolling Twitter atau apapun.
Dari kejadian ini saya jadi teringat beberapa tahun lalu... sepuluh tahun lalu mungkin. Ketika saya masih bekerja di perusahaan A. Polanya pun mirip; sakit lebih dari 3 hari, nyaris tidak berinteraksi dengan manusia karena full istirahat (baca: mengurung diri), lalu setelahnya merasa depresi sampai jadwal menstruasi mundur satu minggu. Saya ingat waktu itu sempat mengetik catatan untuk diri sendiri di email; catatan tentang betapa saya tidak merasakan apapun. Hampa yang menyesakkan. Saya ingat betul waktu itu menulis catatan di email. Sayangnya sudah saya cari di email tak ada bekas. Mungkin pada satu waktu saya menghapusnya secara mandiri karena takut jika di masa depan membacanya lagi akan membuat saya triggered.
Dulu saya pernah baca kalau manusia, perempuan terutama, butuh bicara setidaknya 10.000 kata setiap hari. Mungkin angkanya tidak akurat, tapi poinnya tetap. Satu minggu ke belakang, saya pun berstrategi untuk menyelamatkan diri sendiri. Saya harus ngomong, mesti terkoneksi dengan orang lain setiap hari, sebanyak-banyaknya.
Sebetulnya, saya selalu bicara dengan teman sejawat di kantor. Tentu urusan pekerjaan. Yahh, tentu, juga bercanda sesekali. Tapi seringnya saya memilih irit bicara. Kalau seseorang membuat saya ilfil, saya akan semakin irit bicara. Dan saya masih memegang mindset bahwa semakin banyak bicara maka semakin besar pula potensi membuat kesalahan.
Itu benar.
Tapi saya sedang dalam misi menyelamatkan diri sendiri. Saya harus mendorong diri ini untuk terhubung dengan orang lain; minimal menghabiskan "kuota" ngomong sepuluh ribu kata per hari.
Akhirnya saya menyanggupi meet up dengan seorang teman yang saya ceritakan di sini. Saya sudah menyiapkan diri bahwa ini akan jadi podcast satu arah lainnya. Tak mengapa. Kejadiannya memang kurang lebih begitu; masih tidak ada pertanyaan tentang update kehidupan saya akhir-akhir ini. Inilah pentingnya mengatur ekspetasi.
Lalu di kantor, saya bicara banyak. Yang penting dan yang tidak penting. Rasanya selain butuh mengobrol, saya butuh gelak tawa yang membuat dada saya penuh dengan rasa puas. Sayangnya saya belum dapat untuk yang satu ini.
Saya ada di dalam misi. Sedapat mungkin saya beli makanan yang saya kepengin. Ayolah, manjakan diri sendiri. Saya cuma punya satu tubuh, dan karenanya harus dirawat baik-baik.
Saya patut curiga rasa pening di kepala ini juga dipengaruhi oleh isu politik dalam negeri dan secara global. Tiap hari setiap membuka Twitter selalu saja ada berita tolol tentang orang-orang tolol yang menghabiskan uang pajak rakyat untuk proyek-proyek tolol. Kepala sukunya pun sibuk plesiran ke ujung dunia seolah kiprahnya sangat dinanti oleh masyarakat global. Tak seorangpun, di pucuk kekuasaan sana, yang pernah bicara bahwa kami semua mesti bersiap menghadapi krisis yang sudah hampir pasti bakal terjadi. Orang-orang ini malah selalu jualan kecap; masih sanggup, masih baik, masih bertahan, masih cerah.
Yeahh? Minggu ini baru jalan 4 hari tapi sudah ada berita meremukkan hati, dari daycare penyiksa anak sampai ke kecelakaan kereta. Siapa kiranya pemimpin negeri ini yang mau mengakui bahwa kasus-kasus ini buah dari sistem rusak menahun? Ohh, tanggal 24 April 2026 lalu saya baru memproses pembayaran belasan ribu dolar dengan kurs Rp 17.380 per 1 dolar! Saham anjlok. IHSG meluncur jatuh. Baik-baik saja?
Situasi global pun sama-sama bikin sakit kepala. Perang belum usai. Selat Hormuz masih ditutup Iran, sementara di ujung sana AS memblokade jalur masuk dan keluar. Iran masih dengan strategi asimetrisnya, sedangkan Trumpclown masih asbun setiap hari, setiap menit.
Saya ingat, sehari-dua sebelum jatuh sakit, saya ketakutan dan tak berhenti berdoa. POTUS mengancam akan mengembalikan Iran ke jaman batu. Tenggat waktunya adalah Rabu jam 8 pagi waktu Indonesia. Orang-orang berspekulasi bom nuklir akan dijatuhkan di Iran. Konon, jika satu negara menjatuhkan bom nuklir di negara lawan manapun, negara-negara lain yang punya bom nuklir juga akan merespon dengan melesatkan kepunyaannya.
Saya betulan cemas sampai memantau timeline sepanjang waktu. Miris membayangkan sebuah negara yang hanya sedang mempertahankan tanah airnya diperlakukan seolah mereka penjahatnya. Sementara itu warga Iran malah berkumpul di area nuklir negara mereka dan siap mati syahid.
Konon, kebenaran adalah korban pertama dalam peperangan. Apalagi di dunia overload informasi seperti sekarang. Hoaks bertebaran di mana-mana. Kantor berita mana yang bisa dipercaya? Juru bicara negara mana yang bisa dipercaya? Malah ada seorang ilmuwan yang bilang begini, "berita bohong yang diproduksi terus-menerus lama-lama akan dipercaya sebagai kebenaran."
Bayangin, rejim US yang aksi pertamanya adalah membunuh 160-an anak-anak perempuan dan pimpinan sebuah negara masih sok bermoral. Masih memproduksi narasi bahwa aksi mereka demi memperjuangkan kebebasan rakyat di negara tersebut. Masih berlagak seolah memegang kendali atas dunia. Dan coba lihat bagaimana mereka bermain kata di media-media yang mereka kontrol.
Ada sebuah konspirasi bertahun-tahun yang kini seolah jadi kenyataan; bahwa US dan antek jionisnya memodifikasi cuaca di sekitaran negara-negara Teluk. Mereka "mencuri" hujan. Persis seperti yang dilakukan Crocodile di negeri tandus Arabasta. Buktinya, setelah bertahun-tahun kering kerontang, hujan turun dan mengairi sungai-sungai dan waduk di Iran dan negara-negara sekitarnya. Konon, ketika Iran menyerang pangkalan militer US yang ada di negara-negara sekutu, mereka sekaligus menghancurkan radar cuaca si "pencuri hujan". Masih sekadar konspirasi? Mengingat apa yang sanggup Uncle Sam lakukan dalam invasi-invasi mereka selama dua abad, mempercayai konspirasi ini, jujur saja, bukan hal sulit untuk dilakukan. Mungkin kita memang harus selalu menyediakan sedikit ruang percaya kepada pegiat konspirasi.
Kata orang bijak, the truth is the first casuality of war. Apalagi di era gempuran informasi kayak sekarang. Siapa yang bisa kita percaya, ketika bahkan akun resmi instansi pemerintah semakin rajin ngetwit asbun? Presidennya pun secara terbuka menulis akan membantai seluruh warga sipil di Iran. Ia juga bersumpah-serapah dengan kata-kata kotor, dan mengedit dirinya sendiri bak Jesus. Sakit!
Ada yang bilang, tua bangka ini adalah wajah asli US. Dulu-dulu mereka masih sok sopan dan cari pembenaran setiap melakukan invasi. Masih jaim dan berlagak sebagai negara terhormat penyebar demokrasi, padahal aslinya ngincer minyak. Di rejim gila inilah wajah kotor US terlihat sebenar-benarnya.
Memang lagi-lagi semua tentang ekonomi. Tentang kepentingan sebuah negara--atau seringnya demi kepentingan rejim dan kelompoknya. Kadang saya pikir semua pimpinan di seluruh belahan dunia mampu berpikir siapa yang paling pantas dimintai pertanggungjawaban atas dampak perang. Mereka toh punya mata, dan mata-mata, untuk melihat siapa yang menyerang duluan. Tapi kepada negara mana yang mau mereka kecam, harus diselaraskan pada kepentingan nasional--kepentingan rejim--terlepas dari siapa bad guy-nya. Minimal sekali mereka merangkai kata, seperti yang dilakukan akun resmi Kementerian Luar Negeri yang tidak menyebut pelaku sama sekali di bawah ini.
Perang belum akan berhenti dalam waktu dekat sepertinya. Diramalkan ekonomi seluruh dunia akan terus merosot. Sementara itu di dalam negeri, kapal sudah bocor di mana-mana, tapi nahkoda dan pembantu-pembantunya masih denial. Masih ngotot membiayai embege, kopdes, gentengisasi, dan bikin batalyon baru, alih-alih menambal badan kapal. Mereka seakan sedang mengetes kami semua; sampai di batas mana kami bisa tahan dengan kesengsaraan.
Kenyataannya semenjak sakit, saya memang lebih menarik diri. Tiap ada berita buruk muncul di timeline, saya sebisa mungkin nggak terlalu engage. Cukup tau aja, tapi nggak terlalu mencari tau lebih dalam. Takut semakin anxious lalu membebani imun tubuh.
Saya pada akhirnya memilih langkah untuk bertahan. Kegilaan ini mungkin bakal berlangsung lama; mengingat sebegitu masifnya Dadan menghujamkan cakar-cakarnya-- sampai ke kampus-kampus! Tapi mungkin juga revolusi akan meletus sebentar lagi karena kita semua hanya sedang menunggu momentum.
Mari melakukan apa yang paling hebat dilakukan manusia: bertahan!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar