Minggu, 03 Mei 2026

Sick in The Heart



Apakah manusia masih saling jatuh cinta di jaman sekarang? Jatuh cinta yang terasa mudah namun sekaligus dalam? Jatuh cinta yang membuat kita tidak ingin melakukan apapun selain melindungi orang terkasih? I promise you I am a pragmatic person, but let me tell you something called hope.

 

Malam mingu yang aneh. Padahal pekerjaan rumah masih banyak hal yang dibereskan, tapi hati saya berubah. Ada yang bergerak di dalam hati. Longing. Penyebabnya pun cukup lucu, untuk tidak disebut aneh, gara-gara Mr. Sunshine. Yap, si drakor dramatis yang saya tonton sekitar lima tahunan yang lalu itu.

Sampai hari ini saya masih suka rewatch tipis-tipis alias episode-episode tertentu aja. Dan entah sejak kapan tercetus sebuah impian tentang reawatch drakor ini suatu saat dengan my own sunshine. Ungkapan keinginan ini pun terjejak berkali-kali di akun Twitter saya. Saya tulis bahwa saya ingin membeli televisi lalu rewatch Mr. Sunshine dengan my own sunshine. Dan saya pun semakin mellow semalaman. 

Tapi kenapa harus Mr. Sunshine, dan bukan drakor atau film manapun yang lain? Jawabannya adalah karena saya beraspirasi untuk mencinta seperti Go Ae-shin kepada Eugene Choi; mendalam dan berani. Adegan paling berkesan untuk saya di drakor ini adalah ketika sejoli ini naik becak, dan ketika becaknya terguncang mendadak, keduanya serempak mengulurkan tangan dengan gestur ingin melindungi orang terkasihnya.



"Apa yang kau lakukan?" tanya Eugene.

"Melindungimu," jawab Ae-shin.

I am longing for this kind of love ever since. But are we still falling in love? Are we still able to falling in love? 

Sepanjang yang saya ingat, sejak saya membaca cerpen romens di majalah remaja kakak saya puluhan tahun yang lalu, saya selalu ingin punya kisah cinta yang mendebarkan hati. Ketika dewasa, harapan saya sedikit berubah dan hanya ingin memiliki cinta yang hangat; sebuah atap yang melindungimu dari hujan dan badai. Cinta yang menghangatkan hati di tengah dunia yang dingin. Dan, seperti Ae-shin, saya pun siap menjadi pelindung. Saya pun siap menjadi payung untuk orang itu.

Seringkali saya menampar diri sendiri; seperti yang saya tulis di ujung postingan ini. Dan longing ini membuat saya menyadari sebuah ketakutan dalam hidup yang terus menghantui: kecewa karena begitu banyak harapan yang tidak terwujud.

So, are we still falling in love? Are we still have a hope? 

 

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar