Minggu, 06 September 2026

Akhir Pekan

Beberapa jam yang lalu, sekitaran rumah seakan sedang terjadi apocalypse. Sepi. Senyap. Baru saat maghrib tadi, terdengar suara adzan yang cukup jelas, disusul suara orang mengaji sebentar. Apa pasal? Anak Krakatau sedang batuk-batuk, dan semburan abu vulkaniknya terbang sampai ke wilayah Banten, Jakarta dan Jawa Barat.

 

Entah yang menempel di kaca jendela luar rumah saya adalah abu vulkanik atau bukan, tapi sejak siang saya sudah menutup pintu dan jendela. Depan dan belakang. Sama sekali tidak keluar rumah juga. Dan begitu juga sepertinya semua orang di komplek ini; semuanya mengurung diri di dalam rumah. Karena abu vulkanik bukanlah debu biasa. Material yang keluar dari perut gunung terdiri dari semen dan silika alias kaca, alias beling.

Sejak pertengahan Agustus, negara ini bertubi-tubi dilanda bencana, baik yang memang aktivitas bumi, maupun dari tangan jahil manusia. Tanggal 15 Agustus 2026, NTT dilanda gempa bumi berkekuatan 7,7 magnitudo. Dua hari setelahnya, upacara peringatan proklamasi lengkap dengan karnaval dan menerbangkan merpati ratusan juta tetap terlaksana. Keesokan harinya mahasiswa UI menggelar demo, yang lagi-lagi diadang polisi untuk sampai ke Bundaran HI, titik lokasi yang direncanakan. Tanggal 27 Agustus 2026, massa dari Pati menggelar demo di depan Gedung DPR dengan tuntutan pengesahan UU Perampasan Aset, dengan drama diblokirnya rekening Bank Mandiri tokoh masyarakatnya, dan meninggalnya seorang warga yang diduga ada keterlibatan ormas peliharan rejim. Kemudian sejak akhir Agustus sampai sekarang terjadi kebakaran hutan di Kalimantan yang asapnya tanpa paspor sudah menyebrang sampai Malaysia, Brunei, Singapura dan Filipina. Sementara itu, sejak Jumat lalu, Anak Krakatau batuk-batuk dan bikin warga Jabodetabek bersuara di sosmed. Lalu, hanya dalam waktu seminggu sekitar 2.000 pelajar keracunan MBG!

Ada satu video tentang bumi dan alam semesta yang beberapa waktu lalu pertama kali saya tonton. Isinya tentang bumi yang akan terus melakukan kegiatannya terlepas manusia bersyukur atas keberadaan bumi atau malah merusaknya. Sejujurnya, video ini sedikit banyak menenangkan saya atas narasi bahwa alam sedang marah akibat ulah manusia tiap kali bencana alam terjadi. Saya tidak sedang menolak dogma bahwa bencana adalah peringatan/ujian/azab dari Tuhan. Justru saya meyakini ini adalah takdir Tuhan yang menciptakan bumi lengkap dengan hukum sebab-akibatnya. Bumi ini diciptakan oleh-Nya sudah lengkap dengan cara dirinya memulihkan diri sendiri. 

Kita manusia tidak akan pernah mampu menghentikan evolusi bumi. Kita hanya bisa memitigasi dan menanggulangi dampak setelahnya. Tapi itulah bagian tersedihnya, sejak bencana air bah dan banjir di Sumatera akhir tahun lalu, penanganan efek bencana sudah tampak nyata tidak dilakukan secara sigap oleh rejim saat ini. Strateginya selalu mengecil-ngecilkan masalah; tidak sebesar yang ditunjukkan di medsos sampai klaim semua sudah tertangani. Oh, menjelang 17 Agustus lalu juga terjadi heboh bentrok pengibaran bendera bulan bintang di Aceh, yang konon dipicu ketidakpuasan atas penanganan bencana bahkan setelah setengah tahun.

Hari ini sejak siang rasanya sunyi sekali. Tapi, pada kenyataannya, akhir pekan yang sepi begini sudah saya alami berbulan-bulan lamanya. Saya biasanya hanya di rumah; melakukan food preparation, beberes rumah, lalu sesekali keluar untuk makan siang atau jajan sore. Sekarang saya semakin sering melakukan apa-apanya sendiri karena memang tidak ada teman yang bisa diajak atau mengajak. Salah satu teman yang saya ceritakan di sini dan di sini akhirnya bersikap seperti dulu yaitu memberi saya insight saat kami bertemu beberapa hari lalu. 

Kami sedang bertukar cerita tentang teman-teman yang sudah berubah karena sudah menikah. Katanya, ia tidak akan segan cut off teman-temannya yang berulang kali cancel acara meet up mereka. Ia bilang kalau memang masih punya niat berteman pasti akan reach out di hari lain setelah batal bertemu. Hmm, saya pikir memang manusia terdengar lebih manusiawi saat ia sedang struggle dengan hidupnya. Saya merasa begitu dengan dia. Dan setelah pertemuan kami hari itu saya memberi pengertian kepada diri sendiri bahwa, sudahlah, memang kenyataannya kita pasti kesal atas satu-dua hal tentang teman kita. Terima saja dengan lapang dada. Dan sebetulnya tak semua pertemanan harus menyertakan "kedalaman koneksi". Toh sudah terjadi lama saya membagikan isi hati terdalam saya di blog ini alih-alih menceritakannya di depan orang lain. Kami sejauh ini masih oke kok dalam hal menjaga silahturahmi. Lagipula kalau diingat-ingat sesi curhat kami sejak dulu amat jarang membahas hal-hal yang meresahkan jiwa kami. Banyaknya adalah soal tantangan di tempat kerja dan keluarga.

Insight teman saya ini tentang reach out membuat saya berpikir. Oh ya, masuk akal. Karena itulah yang terjadi pada seorang teman saya lainnya. Setelah beberapa kali batal, ia tidak ada inisiatif untuk membuat jadwal ulang meet up kami. Tempo hari saat mengirimi pesan pun tidak ada pembicaraan ke arah sana. Dan kalau saya pikir hari ini, saya akan biarkan saja begini. Dikirimi pesan ya balas. Tapi tidak akan ada lagi ajakan keluar dari saya. Kemungkinan saya tidak akan ekstrim dengan memutus hubungan pertemanan kami. Sekadar "cukup tau" aja.

Akhir pekan saya sebenarnya melelahkan. Beberes rumah itu melelahkan. Dan menghabiskan 9 jam dalam 5 hari seminggu untuk bekerja di luar dengan tambahan 4 jam commuting seharusnya normal-normal saja kalau saya habiskan libur dengan di rumah saja. Tapi tak dapat dipungkiri saya mengasihani diri karena hampir tidak punya sosok teman nyata yang bisa saya ajak menghabiskan akhir pekan. Dan jangan ditanya soal mencari jodoh. Saya sudah menggenggam prinsip "que sera, sera" alias whatever will be, will be. Mungkin, jika ditanya kenapa kepikiran jadi TKW, saya akan jawab supaya ada manusia sungguhan yang tinggal seatap dengan saya. 

It's very quiet lately.    

 

 

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar