Kamis, 15 Februari 2024

Jemuran, Harapan, dan Dirty Vote


Tanggal 13 Februari 2024 sore, saya selesai menjemur pakaian di belakang rumah. Saya mengambil foto karena tiba-tiba berpikir untuk membuat post di Twitter yang kira-kira begini bunyinya: "pada saat gue mengangkat jemuran ini besok sore, Indonesia sudah dapat pemimpin baru.".  Tapi saya akhirnya tidak jadi membuat post tersebut.

Rabu, 14 Februari 2024

Anies Bubble: Politik Riang Gembira?



Mengutip berita daring CNBC Indonesia, dari Daftar Pemilih Tetap (DPT) Nasional untuk Pemilu 2024 sebesar 204.807.222 jiwa, sekitar 55 persennya merupakan pemilih muda. Ada lebih dari setengah populasi pemilih yang diperebutkan para capres dan caleg. Dengan begitu, apakah menempatkan anak haram konstitusi calon milenial dan mengusung 'politik riang gembira' adalah langkah yang tepat untuk menggaet suara anak muda?

Selasa, 13 Februari 2024

Desak Anies Bagian 2 - Cara-cara Berkampanye


Tulisan ini sebetulnya sudah saya coba susun sejak tanggal 5 Februari 2024 lalu. Sayangnya ide saya mentok, nggak fokus tentang apa saja yang mau ditulis. Padahal sederhana saja, saya ingin membuat tulisan tentang cara-cara berkampanye kreatif dari paslon 1; Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar.

 

Senin, 12 Februari 2024

Pengalaman Ikut Kampanye


Awalnya, seorang sahabat saya cuma sharing hal santai di WhatsApp di minggu terakhir Januari lalu. Katanya, dia mau teriak-teriak, kira-kira ada konser, kah? Saya kemudian menjawab spontan, gimana kalau ikut Kampanye terakhir Anies di Jakarta International Stadium tanggal 10 Februari 2024?

Sabtu, 03 Februari 2024

Desak Anies


Pernah dengar acara bertajuk Desak Anies? Itu lohh, acara kampanye capres nomor urut satu yang isinya tanya jawab alias dialog? Kampanye sambil dangdutan itu biasa, tapi berkampanye sambil denger keluhan dan aspirasi masyarakat? Luar biasa! Eh, tapi, katanya acara ginian nggak menyentuh grassroot. Dangdutan sambil bagi-bagi sembako wae lah...

Kamis, 01 Februari 2024

Anies Baswedan dan Politik Identitas



Hari ini, setelah menghadapi realita getir di tempat kerja, saya berbisik dalam hati, "tidak seorang pun pantas dipercaya 100 persen.". Seolah beresonansi, saya berpikir, sepuluh tahun dari sekarang akankah saya akan menulis postingan sarat kekecewaan mendalam terhadap sosok Anies Baswedan, sebagaimana sudah saya lakukan terhadap sosok Jokowi? Well, tentu saja hanya jika beliau ditakdirkan menjadi orang nomor satu di negeri ini.