Minggu, 29 Mei 2016

Mantra


Terakhir kali saya ke tempat ini sekitar dua bulan lalu. Waktu itu hari Jum'at pertengahan Maret. Saya memutuskan untuk menyetop angkot saya di depan tempat ini. Saya berencana nonton film di bioskop sendirian. Film bertema kesedihan, pikir saya waktu itu. Temanya demikian supaya saya bisa menangis di dalam studio tanpa perlu orang lain curiga.


Sekitar satu jam sebelum saya menginjakkan kaki di tempat itu saya sedang disergap sebuah kesadaran. Sebuah kesadaran bahwa di dalam diri saya ada organ tubuh yang retak akibat patah hati. Proses itu merenggut keinginan saya untuk bicara pada siapapun dan hanya menyisakan raut kuyu di wajah. Setelahnya saya mendengar pertanyaan orang-orang kantor tentang apa yang menyebabkan wajah saya sepucat itu.

Saya terburu ke kamar mandi di dalam mal dekat rumah kos. Di bilik tertutup saya menumpahkan segala emosi dalam bentuk tangis. Dada saya sesak, tenggorokan saya seperti ada sumpalan. Sekian menit kemudian saya keluar dari bilik itu, berkaca sebentar, lalu keluar, teriring tatapan curiga seorang pengunjung mal.

Saat itu saya memutuskan tidak langsung pulang. Tidak dengan mata sembab seperti itu. Teman-teman satu kos pasti akan bertanya ada apa padahal hal terakhir yang saya inginkan saat itu adalah diinterogasi. Bahkan sebetulnya saya sedang tidak ingin bicara apapun dengan siapapun saat itu.

Saya melintasi JPO dengan bergegas. Saya akan pergi malam itu. Saya pikir saya akan keliling dengan Commuter Line. Saya akan duduk diam, turun di stasiun manapun saya mau, transit untuk naik kereta dengan tujuan random lainnya, lalu baru pulang setelah larut. Saya selalu suka naik KRL. Saya suka sendirian di tengah keramaian. Kondisi seperti itulah yang saya pikir saya butuhkan ketika itu. Tapi lantas saya mengganti rencana; saya ingin nonton film saja. Maka turunlah saya di depan Mal Bale Kota.

Sialnya, tidak ada film sedih yang sedang tayang malam itu. Setelah menimbang cukup lama akhirnya saya berbelok seratus delapan puluh derajat dengan memilih film komedi. Mungkin sebetulnya yang saya butuhkan adalah humor, pikir saya saat itu. Well, kita lihat seberapa jauh Comic 8: Kasino King bisa menggugah mood tawa saya yang kala itu justru sedang dirundung kesedihan.

Malam ini saya ke Bale Kota lagi. Nonton sendirian lagi. Nonton film yang tepat sebulan lalu saya tonton. Sebuah film yang bikin baper dan mencuatkan keinginan untuk menulis karena teringat sebuah emosi yang terasa.

Ya, itu kamu yang membuat saya menyusuri JPO depan Mal Bale Kota malam-malam dengan mata berair. Keesokan harinya saya masih enggan bicara dengan siapapun. Saya melakukan aktivitas weekend saya seperti yang sudah-sudah, tapi kali ini dengan bentuk hati yang tidak lagi utuh seperti biasanya.

Hari-hari setelah itu saya kerap bergumam dengan nada marah selagi memasak, mencuci piring dan mencuci baju. "Sama temen," gerutu saya sinis, teringat pengakuan wanitamu kepada saya tentang orang yang nonton film bersamanya. Kemudian saya akan masuk kamar dan memutar ulang lagu-lagu Jojo.

Ketika saya kembali ke Mal Bale Kota malam ini, saya ingin sekali ini menjadi semacam mantra untuk mengingat hari yang tidak menyenangkan itu. Saya ingin menjadikan insiden pertengahan Maret itu selalu menjadi pengingat kapanpun saya mulai mengkhayalkan "kekitaan" lagi. Saya ingin seperti itu. Saya inginnya kamu, saya maunya bersama kamu, tapi saya tidak atau belum melihat tanda-tanda keinginan saya itu bisa menjadi sebuah kenyataan. Kamu, terus terang saja, membuat usaha saya menjadi lebih sulit. Kadang saya berpikir dengan sinis, oh, common, jangan bertingkah seolah kamu bakal panuan kalau tidak berteman dengan saya. Tolong jangan bertingkah begitu.

Malam ini, tidak seperti waktu itu, saya tidak pulang dengan air mata yang masih menggenang di pelupuk. Saya hanya masih menempatkan kedua tangan di depan dada; memeluk diri sendiri. Saya ingin kamu, itu yang terpikir. Tapi saya harus selalu ingat momen saat keluar menangis dari bilik toilet sebuah mal lalu melarikan diri ke sebuah mal lainnya hanya agar bisa menangis lagi. Ini akan menjadi semacam mantra jika kamu mulai berulah lagi.

Girl Group Kpop In My Opinion

Right now it’s SNSD, tomorrow it’s SNSD, forever it’s SNSD, I love You. I won’t let you go, Mamamoo. Familiar dengan slogan in...