Senin, 04 Juli 2016

Tentang Agama


Dulu, waktu kecil, saya suka berpikir agama ini salah, penganutnya salah, ajaran agama itu bohong, kok itu disembah, kok ritualnya begitu, dll, dsb, dst. Saya merasa agama sayalah yang paling benar. Tata caranyalah yang paling sempurna. Hanya Dia-lah yang pantas disembah. Intinya, semua pemikiran itu hanya upaya membentengi iman sendiri yang masih tipis. Yah, namanya juga masih bocah.


Tapi beranjak dewasa saya memiliki perspektif baru tentang agama-agama lain. Untukmu agamamu, untukku agamaku. Saya tidak lagi mempersoalkan keyakinan seseorang, pun dengan cara mereka menjalankan ritual agamanya. Kita semua orang dewasa, dan kita tinggal di Indonesia yang masyarakatnya heterogen. Tenggang rasa adalah sikap yang mesti dipupuk. Menyalah-nyalahkan agama lain, memberi label kafir kepada penganut agama lain dengan entengnya, dan tindakan-tindakan intoleran lainnya hanya menunjukkan bahwa kamu insecure terhadap imanmu sendiri.

Agama adalah soal keimanan. Agama adalah tentang hubungan kita dengan Sang Pencipta. Hubungan ini sangat intim, privat, hanya kita dan Dia yang tahu. Ini sesuatu yang bersemayam di dalam dada. Ini adalah sesuatu yang mengendalikan sikap-sikap kita. Ini adalah soal prinsip yang paling dasar. Iman kita tidak lantas menjadi lebih tebal setelah mendakwa penganut agama lain.

Toleransi itu penting. Dan bahwasanya tidak ada satu agama pun yang mengajarkan hal yang buruk.

Saya punya banyak teman yang berbeda agama. Dan semakin lama bergaul dengan banyak penganut agama lain, saya jadi berpikir bahwa, tanpa menyebut agama tertentu, setiap insan baiknya tumbuh dalam keluarga yang taat menjalankan perintah agama. Agama membuat hidup manusia lebih terarah. Ia menjadi semacam rem. Dan bukankah melegakan sekali mempunyai Dia yang menjadi tempat bersandar dan bergantung? Di dunia yang semakin gila ini, bukankah sangat melegakan memiliki Dia Sang Kekuatan Terbesar? Pikirkan tentang planet, bulan, bintang dan matahari, jika bukan karena ada Kekuatan Yang Lebih Besar, Terbesar yang mengatur semuanya... mana mungkin?

Dan sikap tidak mau menyampuri keimanan orang lain juga perlu diterapkan kepada teman sesama muslim. Ya, sebenarnya kadang saya juga merasa terlalu cuek padahal sebagai seorang muslim kita diperintahkan untuk saling mengingatkan. Tapi, ya tapi, manusia dewasa umumnya sudah settle dengan karakter dan cara hidup masing-masing. Ketika ada teman kerja berumur tiga puluhan yang kedapatan membuat kopi di tengah hari bolong padahal kita tahu ia seorang muslim, apakah kita harus menasehati dia? Salah-salah dia tersinggung dan merasa digurui. Mungkin kasus-kasus mengingatkan dan menasehati baru bisa kita lakukan kepada orang-orang yang relasinya lebih dekat dengan kita.

Tetap teguhkan hatimu, imanmu, agamamu. Tetap yakin pada-Nya. Hanya Dia.

Happy Eid Mubarak!