Ini adalah Jumat kesekian setelah saya merapal mantra sakral berulang-ulang. Supaya mampu melalui hari-hari yang sangat monoton, saya terus katakan pada diri sendiri: "Akan kuulangi sebanyak yang dibutuhkan."
Mantra itu saya rapal ketika sudah memutuskan bahwa saya akan bertahan di pekerjaan sekarang paling tidak sampai kuliah saya tamat. Saya akan bertahan melalui pagi yang padat; bangun pagi, memasak bekal makan siang, menyarap sambil memakai baju, menggas motor ke stasiun, mengejar kereta, berdiri tergencet di gerbong, naik angkot, lalu mengerjakan tugas AR/AP selama 8 jam. Sorenya kembali ke rutinitas yang juga berkejaran dengan waktu; bertekad naik kereta pukul 17.30. Begitu terus sampai 5 hari. Kemudian di akhir pekan pergi berbelanja dan melakukan food preparations. Oh, tentu, rutinitas mencuci dan menyetrika seminggu sekali. Selebihnya saya akan cosplay jadi kain lap lantai alias menggeletak di mana-mana. Begitu terus.
Mantra ini, ajaibnya, membantu saya tegar di hari Senin. Kepala saya terdoktrin bahwa Jumat akan datang cepat atau lambat. Pada akhirnya akhir pekan akan datang dan saya pun bisa rebahan. Years are short, days are long. Indeed. Tapi saya sudah merapal mantra andalan, dan hari-hari mundane ini pada akhirnya akan bermuara di akhir minggu.
Lebih visioner, saya sudah menetapkan muara di tahun depan. Ia adalah ujung kesabaran; muara dari mode survival yang saya jalani selama ini. Rupanya, di tengah kejemuan ini, saya masih bisa melahirkan motivasi agar hidup ada perubahan... dan semoga juga ada peningkatan. Dan motivasi itu hadir ketika saya sungguhan muak dengan rokok. Saya sungguh kepingin hidup di negara yang kualitas hidupnya lebih baik. Sesimpel fakta negara ini punya lebih sedikit perokok saja. Saya pingin hidup di negara yang orang-orangnya paham bahwa ketika tidak ada sign larangan merokok, bukan berarti di situ bisa bebas merokok.
Hari Minggu kemarin saya memulai hari dengan melihat status seorang coworker lama yang sedang pamer cincin. Bertunangan. Ia empat tahun lebih muda dari saya. Tentu, saya berbahagia untuk dia. Dia perempuan dan teman yang baik. Sedikit pikiran saya melayang, akankah saya berkesempatan mengalami hal yang sama?
Saya teringat tiga minggu sebelumnya, ketika saya meet up dengan bestie yang Mei lalu menikah. Saya datang dengan mindset bahwa saya harus tegar dengan cara yang santai kalau-kalau ia menawarkan kata-kata motivasi tentang bahwa saya pun akan menemukan "seseorang" pada akhirnya. Masalahnya chat saya dengan dia sebelumnya pun dia kurang lebih mengatakan hal-hal seperti ini. Ia pengantin baru, dan mengatakan bahwa ia menyesal kenapa tidak dari dulu menikah dengan suaminya yang sekarang. Singkatnya, ia berbahagia. Jadi, bisa dibilang saya sudah menguatkan hati atas apa yang mungkin sekali datang.
The thing is, seperti yang pernah saya sampaikan ke bestie saya yang lain, saya sudah mulai enggan ditawari kalimat-kalimat tentang, "nanti juga kamu ngalamin", "semua pasti ada jodohnya", dan kata-kata semacam itu. Saya bukannya menolak didoakan baik-baik. Hanya saja realita yang saya hadapi sehari-hari membuat saya kesulitan terkoneksi dengan kalimat mengawang tersebut. Well, semua orang pasti ada jodohnya, tapi toh tidak pernah disebutkan bahwa jodoh yang dimaksud pasti berwujud suami/istri, kan?
Tapi ternyata bestie saya itu menawarkan narasi baru. Tidak ada tawaran kata-kata penuh bunga tentang menemukan seseorang. Ia, dengan pengalamannya menghadapi pertanyaan semacam "kapan nikah?" sebelum sungguhan naik pelaminan Mei lalu, justru berkata dengan sedikit gusar tentang apa sih yang dibangga-banggakan orang dari "pencapaian" menikah? Ia memaksudkannya tentang realita bahwa pernikahan bukan garis finis hidup manusia. Katanya, mau di fase apapun, manusia pasti ada masalahnya.
Sebetulnya, saya agak merasa pandangan "menikah adalah sebuah pencapaian yang membanggakan" dan "hidup tetap memberimu masalah sekalipun sudah menikah" tidak punya hubungan kausalitas. Orang-orang yang menganggap menikah adalah pencapaian rasanya tidak berpikir kalau sudah menikah maka masalah tidak akan lagi. Walau yaa, populer juga pernyataan tentang mindset orang Indonesia yang seolah berpikir kalau apapun masalahnya, maka menikah adalah solusinya.
Atau memang ini yang dimaksud bestie saya itu?
Tapi begini, saya bilang, menikah dibangga-banggakan sebagian orang karena momen ini adalah bukti bahwa ia "laku". Ada yang mau. Bukankah begitu?
Hari-hari setelah itu saya berpikir, apa sih artinya menikah buat saya? Dan jawabannya bukan sebuah pencapaian yang bisa dibanggakan. Bagi saya, menikah adalah sebuah kelegaan. Jika Allah mengizinkan untuk memberi saya rezeki berwujud pasangan hidup, saya pikir saya akan merasa lega. Lega karena salah satu kegundahan hidup saya akhirnya bermuara. Saya selalu ingin menikah, saya tidak pernah berkata tidak ingin. Hanya saja semakin banyak umur saya, saya melihatnya sebagai sesuatu yang semakin sulit didapat. Makanya saya enggan ditawari kata-kata penyemangat tentang "ia pasti ada".
Sebuah kelegaan karena akhirnya menemukan orang yang mau saya temani dan menemani sepanjang usia. Bahwa ada seseorang yang bersedia menjalani hidup monoton ini bersama saya.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar