Berdasarkan riset singkat yang saya lakukan baru-baru ini, konon Google sudah bukan lagi mesin pencari favorit orang-orang untuk mendapat informasi. Sekarang orang-orang pergi ke media sosial seperti Tiktok atau Instagram untuk mencari keterangan apapun. Sama halnya dengan Blogger; situs menulis gratisan ini pun sudah ditinggalkan. Lagi-lagi karena medsos. Posting tulisan pun bisa di medsos.
Saya masih di sini. Di platform menulis yang sudah ketinggalan jaman ini. Tapi, seperti percakapan saya dulu dengan seorang coworker perihal buku cek dan giro, Blogger barangkali memang sudah tidak relevan. Tapi fakta bahwa barang ini masih eksis, maka kita bisa simpulkan bahwa masih ada yang pakai.
Saya masih di sini untuk memerdekakan isi kepala. Because I talk to who? I write because no one listen.
Postingan sebelum ini, saya katakan bahwa saya mengasosiasikan pernikahan--jika itu terjadi pada saya--dengan sebuah kelegaan. Bukan karena saya menganggapnya sebagai ending happily ever after dan pencapaian tertinggi. Benar, saya menganggapnya sebagai garis finish, tapi bukan dari keseluruhan perjalanan hidup saya, melainkan titik tiba dari salah satu longing yang menggundahkan hati sampai hari ini.
Saya mengasosiasikan upacara pernikahan dengan kelegaan karena berkaca dari proses pencarian pasangan yang sudah saya alami sejauh ini, semua proses itu bukanlah pengalaman yang nyaman.
Top tier men are average women. Pernah dengar peribahasa yang populer akhir-akhir ini?
Orang kira perempuan single seusia saya itu banyak maunya. Pilih-pilih. Well, ya, tentu saja, masak pasangan hidup tidak pilih-pilih?! Tapi coba dengar dulu seperti apa sosok ideal kami. Ah, bahkan untuk dibilang ideal pun rasanya terlalu meninggi. Kami―saya―bahkan hanya menentukan standar yang... minimum? Menjalankan agama dengan benar, punya pekerjaan layak (seminimal mungkin bertanggungjawab atas diri sendiri), menguasai dan secara aktif menggunakan keterampilan survival (memasak, mencuci, bersih-bersih), menjaga kesehatan (bukan perokok/peminum/pecandu), tidak suka pinjol dan judol, dan tidak punya catatan kriminal. Sebagai seorang perempuan dewasa, saya bisa dengan cepat menyebutkan 10 perempuan dewasa lainnya yang saya kenal yang memenuhi standar minimum tersebut. Di lain pihak, bisakah laki-laki dewasa melakukan hal yang sama--menyebutkan 10 teman laki-lakinya yang memenuhi standar di atas?
Now you know how true the saying is.
Itu baru batas standar yang benar-benar standar sebagai manusia dewasa yang wajar dan berfungsi sebagaimana mestinya. Belum membahas perihal kedewasaan; kestabilan emosi, kemampuan menghormati/menghargai batasan orang lain, mau dan mampu berkomunikasi secara efektif. Dan tentu saja belum menyinggung perihal romansa―bagaimana menjaga kesetiaan kepada satu cinta. Ahh, apakah kamu sudah membaca berita perselingkuhan lelaki terbaru hari ini?
Biar saya ingat-ingat, satu lelaki memulai percakapan WhatsApp dengan 'p', lelaki selanjutnya menghadiahi saya mukena lantas mengajak saya menginap di rumah orangtuanya di luar kota tapi bahkan tidak pernah bertanya saya berapa bersaudara, lelaki selanjutnya berharap saya meladeni rajukannya yang kekanakkan, dan lelaki lainnya tidak bisa menjaga tangannya dari tubuh saya. Oh, saya juga pernah berurusan dengan lelaki insecure, lelaki yang nge-chat pagi buta (you know why), lelaki yang hanya ingin ngobrol ngarol-ngidul, lelaki yang penghasilannya tidak sampai setengah penghasilan saya tapi berani mengatakan urusan keuangan tidak akan membebani saya (lalu siapa yang akan membayar tagihan?), dan lelaki yang tidak mau jadi orang jahat hingga tidak mau bersikap.
Mostly saya bertemu mereka dari dating apps. Seputus-asa itukah mencari sampai harus hunting di aplikasi kencan? Terserah. Intinya saya pernah mencoba mengambil langkah pertama karena saya, sampai sekarang, yakin jodoh mesti diusahakan.
Kata mereka, makanya jangan cari di dating apps; mereka semua brengsek dan hanya mencari pasangan berdiri semalaman alias one night stand. Ahhh, lagi-lagi bukti bahwa lelaki dewasa normal nan fungsional memang sesulit itu ditemukan.
Saya jelas bukan perempuan top tier. Saya hanya average woman. Yang berharap bertemu dengan manusia rata-rata cerminan diri saya, paling tidak. Tapi lihat faktanya di atas.
Usaha pencarian saya timbul tenggelam. Tergantung seberapa besar saya mau menanggung perasaan muak dan lelah pada saat itu. Saya tidak minta banyak dan meninggi, tapi rasanya yang sudah di batas minimum itu pun masih dipaksa turun. Dari dulu perempuan selalu diminta berkompromi. Kami dilarang banyak mau dan pilih-pilih.
Hari ini, di penghujung usia kepala 3, saya belum tergerak untuk kembali ke mode pencarian secara aktif. Saya masih sibuk dengan urusan kuliah, pekerjaan yang commuting-nya makan waktu, dan nonton One Piece. Hahh, kenyataannya Luffy membuat saya benar-benar terdistraksi dari perilaku overthinking yang membebani sistem imun tubuh. Sekilas saya nampak lebih chill ketimbang coworker saya yang umurnya seperempat abad. Akhir-akhir ini saya seperti bisa mengenali keresahannya: belum menikah di usia 25, sementara ia lihat di Tiktok dan Instagram, semua orang sudah jadi "orang" dan sudah ke KUA di usia yang sama.
Karena itu hampir bisa dikatakan, sekarang ini, kalau saya benar-benar diberi rejeki menikah, maka saya akan merasa lega sekali. Akhirnya pencarian ini menemukan muara. Akhirnya segala fase tidak nyaman dengan trial and error-nya menemukan ujungnya.
Saya akan merasa lega karena jika saya sudah berani memutuskan dia orangnya, bukankah dia benar-benar worth to wait, worth to fight, worth to love. Tidakkah dia orang yang akan jauh melihat ke dalam jiwa saya? Seseorang yang ingin tau segala hal tentang saya. Dia yang ingin tau pendapat saya tentang apapun; ingin tau isi kepala saya. Mungkin dia juga ingin mengintip isi blog ini; ingin tau apa yang saya alami dan pikirkan ketika was feeling no one listen to me. Dia adalah orang yang menghapus senandung Be My Own Boyfriend-nya Olivia Dean di kepala saya. Dia adalah orang yang membatalkan pikiran bahwa saya lebih memilih sendiri ketimbang bersama orang yang tidak menginginkan saya.
Dari tahun ketika saya menulis ulasan dorama Live That Makes You Cry tahun 2018, saya sudah menulis tentang kerinduan berbagi cerita hal-hal yang menetap di hati betapapun hal tersebut remeh dan sepele. Because what matters is somebody listen. And I do able and ready to become someone who will listen too.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar