Introvert in You

Kamu pikir kamu sendirian di dunia ini. Kamu pikir kamu seaneh-anehnya manusia. Kamu pikir, dan mulai googling, kamu mungkin bisa transmigrasi ke planet Mars. Kamu pikir sebetulnya kamu keturunan alien yang tak sengaja terdampar di bumi. Sudah sepatutnya kamu pulang kampung.


Mereka bilang kamu pendiam, pemalu. Kamu sendirian di sudut kelas, tersisih, diam saat teman-teman yang lain mengobrol bergerombol. Sesungguhnya kamu bingung. Kamu cerewet saat di rumah. Kamu bawel saat bersama satu-dua sahabat. Kamu bicara tanpa titik dan koma saat bersama mereka. Kamu bercanda tak habis-habis dengan mereka. Dalam hati kamu membantah: aku tidak pendiam.

Seorang teman di kelas meminjam pulpen padamu. Sambil memberikan orang itu pulpen, kamu memotivasi diri, hey, ajaklah dia bicara, cari sebuah topik, apa saja, apapun, satu bahan pembicaraan, jadikan ini awal komunikasi, ya Tuhan, bicaralah apa saja, cuaca, musik, politik! Dasar payah!

Kamu pun mulai curiga, kamu mungkin berkepribadian ganda. Kamu cerewet dan pendiam di saat bersamaan. Ya, sudah jelas kamu orang aneh.

Kamu pikir kamu tidak bisa begini terus. Kamu tidak ingin sendirian di pojok kelas. Kamu menyadari teman sekelasmu menghindar dan mulai bersikap formal kepadamu seolah kamu guci antik dari Tiongkok yang rentan pecah jika tersenggol sedikit saja. Kamu tersakiti dengan sikap berjarak tersebut. Kamu merasa jauh dan dijauhi. Kamu merasa asing dan diasingkan. Tapi, salah siapa ini?

Kamu berpikir untuk mulai membaur. Kamu berpikir untuk mulai mengangkat diri ke dalam pergaulan. Sudah terlalu lama kamu di balik awan, sekarang saatnya tampil ke permukaan. Kamu ambil bagian dalam acara nongkrong teman sekelas hari ini. Sebetulnya saat kamu bertanya dalam rangka apa nongkrong-nongkrong kali ini dan temanmu menjawab "maen aja", hatimu seperti tersapu angin dingin. Belum-belum kamu sudah merasa lelah. Tidak ada alasan pasti mengapa harus kumpul-kumpul. Bukan untuk belajar kelompok, diskusi atau sesuatu yang urgent. Main saja. Itu artinya akan ada pembicaraan yang melebar, tidak jelas juntrungannya, dan waktu seakan merangkak. Tapi kamu menyingkirkan semua pikiran itu. Kamu sudah bertekad untuk ikut. Ya Tuhan, sudahlah, jangan cerewet, tak mungkin sesulit itu.

Kemudian saat bersama mereka, kamu semakin tak tahu harus mengobrol apa. Kamu semakin menyadari teman-temanmu sudah akrab satu sama lain, kamu tertinggal beberapa langkah. Kamu harus mengejar ketertinggalanmu supaya bisa sejajar lagi. Dalam beberapa hal, kamu bahkan merasa tak satu selera dengan mereka.

Dari satu tempat gaul ke tempat gaul berikut. Kamu biarkan dirimu digiring dari satu Sevel ke Sevel lain sekedar untuk kumpul-kumpul. Satu-dua jam pertama kamu masih berenergi. Kamu masih bisa menimpali gurauan temanmu. Tapi pada menit berikutnya kamu bahkan harus mengerahkan segala daya dan upaya dari sisa energi untuk sekedar mengucapkan 1-2 patah kata. Lalu pada menit berikutnya lagi kamu benar-benar kehabisan energi. Bilang "tidak" pun sudah kelu.

Kamu pulang dan berbaring di atas kasurmu. Kamu letih luar biasa. Kondisi fisik seperti ini terakhir kali kamu rasakan beberapa tahun lalu sehabis pengambilan nilai mata pelajaran olah raga. Padahal tadi kamu hanya duduk-duduk mengobrol dan tertawa. Mengapa seletih ini? Lebih dari itu, kamu merasa tidak nyaman. Kamu tertekan dan mual.

Postingan populer dari blog ini

Film Filosofi Kopi... Sebuah Review dan Opini