Senin, 11 Mei 2015

Tentang Kegalauan dan Kekecewaan



Antara tanggal 24 April hari Jum'at dan tanggal 27 April hari Senin mungkin jadi 4 hari gue yang paling galau. Dalam kurun waktu itu 3 pekerjaan menghampiri gue. Begitu dekat, menggoda, menjanjikan, tapi belum tersentuh apalagi tergenggam.


Tersebutlah sebuah perusahaan terbuka bidang properti di Tangerang, kita namakan saja perusahaan A, memanggil gue hari Jum'at tanggal 27 Maret untuk ikut tes hari Senin, 30 Maret. Meskipun bingung dari jalur mana gue melamar perusahaan ini-saking banyaknya CV yang gue sebar di situs pencari kerja maupun lowongan koran-dan ditambah perasaan yang kurang antusias mengetahui lokasi kerjanya, gue tetap bertaruh nasib dengan datang memenuhi undangan. Waktu tanda tangan absen yang disiapkan A barulah gue sadar bahwa lamaran ini berasal dari Job Fair Untar yang gue datangi beberapa minggu sebelumnya. Tapi, sekali lagi, gue pun nggak ingat pernah naro CV di stand A.

Singkat cerita gue lolos di tahap tes yang makan waktu sekitar 3 jam itu. Gue dijadwalkan interview dengan salah satu personalianya pada hari yang sama pukul setengah tiga sore. Pada sesi interview terus terang gue nggak begitu yakin. Gue jawab gue pingin gabung di perusahaan yang memungkinkan gue meniti jenjang karir-yang notabene tidak gue dapatkan di perusahaan sebelumnya-sewaktu Mbak HRD tanya alasan gue resign dari perusahaan terakhir. Kenapa pada saat itu gue berpikir gue nggak bakal dapet kerjaan ini adalah karena Mbak HRD bilang pekerjaan yang ditawarkan ke gue itu keluar dari struktur, tidak ada tangga ke atas maupun ke bawah. Dengan kata lain posisinya stuck. Waktu dia tanya apa itu masalah buat gue, dengan setengah menggumam gue bilang kalau ada kesempatan, tidak apa-apa. Lalu, selain merasa ga yakin, gue pun jadi kurang minat mendengar deskripsi pekerjaannya yang lebih ke urusan filling document. Euh, I don't think so. Meskipun Mbak HRD udah bilang gaji pasti selalu naik dan dapat bonus (kalau gue nggak salah denger) 2 kali setahun, gue tetep kurang yakin. Gimana ya, rasanya kok ya pekerjaannya rada bosenin dan nggak meningkatkan skill gue. Gue sebenernya berharap pekerjaan baru gue ini lebih memeras otak dari pekerjaan terakhir gue. Terakhir, di samping kebutuhan utama yaitu kerapian dan ketelitian, gue pun diharapkan memiliki kemampuan menganalisis laporan. Jadi tugas yang ditawarkan ini kurang menantang bagi gue. Yang gue tangkap, cukup elo rapi dan teratur menyimpan dokumen, then you're worth it for this job. Tapi, bagaimanapun, gue udah cukup lama nganggur. Jadi nggak ada alasan untuk membuang kesempatan. Selagi gue masih punya ruang untuk berusaha, maka gue akan berusaha.

Ternyata besoknya gue ditelpon lagi sama Mbak HRD, yang lantas menjadwalkan gue untuk interview lanjutan dengan pihak user Senin, 6 April. Pada hari yang sama gue ditelpon perusahaan lain untuk ikut wawancara besok, 1 Mei. Atas dasar semangat merebut semua kesempatan yang ada, gue dateng sesuai jadwal. Kita sebut saja perusahaan D dan dia bergerak di bidang ekspor dan impor. Ada 2 orang cewek lain yang menunggu giliran. Semuanya keluar masuk dari ruang interview dalam hitungan menit aja. Dan begitu pun dengan gue. Sesi wawancara gue nggak sampe 10 menit─5 menit kayaknya malah. Gue langsung berfirasat, it's not for me, saat melihat bapak-bapak India dan seorang ibu-ibu yang juga nampaknya keturunan India bertanya-tanya sedikit profil gue dengan tampang masam.

Hari Senin tanggal 6 April, gue dateng ke perusahaan A untuk memenuhi undangan interview. Gue menunggu lama. Di samping karena gue dateng 45 menit lebih awal dari jadwal, juga karena, lagi-lagi, pihak mereka ngaret. Akhirnya gue dibawa ke salah satu ruang meeting, ketemu sama dua orang cowok yang sepertinya berada di satu divisi pekerjaan yang ditawarkan ke gue. Pembicaraan dengan mereka santai dan mereka memberi gambaran bahwa di divisi tersebut jauh dari kata straight. Selanjutnya gue diwawancarai lagi sama seorang cowok dan seorang cewek yang nampaknya lebih senior ketimbang dua cowok tadi. Si cewek menjelaskan pekerjaan ini nggak bisa dibilang susah, tapi gampangan juga nggak. Di akhir sesi wawancara si cowok bilang kalau gue langsung mulai besok aja, toh gue lagi nggak kerja. Gue menyanggupi. Tapi kemudian si cewek mem-pause tawaran ini dan meminta gue untuk menunggu di waiting room dulu. Beberapa menit kemudian si cewek keluar lagi dan ngasih tau kalau gue nggak bisa langsung kerja besok karena pihak personalia punya prosedur administrasi penerimaan karyawan sendiri. Gue diminta menunggu seminggu. Tapi si cewek juga menekankan kalau sebagai pihak user dia udah oke sama gue.

Sorenya, tanpa disangka-sangka, gue ditelpon perusahaan D. Gue diterima! Tapi, ada tapinya, mereka menego expected sallary gue. Dan working day-nya pun sampe Sabtu. Gue langsung berpikir, oh crab, mending si A kemana-mana. Tapi, karena penting bagi gue untuk sesekali keluar dari rumah supaya nggak sumpek, gue bilang akan datang besok supaya pembicaraan lebih jelas meskipun saat itu gue udah membuat keputusan.

Resehnya, gue yang disuruh dateng jam setengah 10 malah mendapati orang yang akan mewawancarai gue sehari-harinya paling cepet datang jam 11. Untuk membunuh waktu gue disuruh training dengan mempelajari invoice. Saat tiba waktunya wawancara, si ibu─ yang tempo hari berdua mewawancarai gue sama si bapak India─bilang kalau dia pingin gue bisa mulai kerja hari itu juga. Gue coba mengulur waktu minta waktu 3 hari untuk ngurus kamar kost. Setelah ditekan sedemikian rupa akhirnya gue minta waktu sampe sore hari itu juga. Melihat gue ragu-ragu si ibu malah akhirnya menaikan gaji dari penawaran dia yang pertama. Dia bilang dia butuh cepet pegawai.

Gaji yang nggak sesuai harapan adalah alasan pertama untuk menolak. Tapi sebetulnya gue bakal ambil juga misalkan kerjanya sampe Jum'at. Eh ini malah sampe Sabtu meski cuma sampe jam 2 siang doang. Senin-Jum'at-nya pun 9 to 6. Benar-benar kemunduran dari segala sisi mengingat gaji terakhir gue melebihi dari offering mereka (dan dapat makan siang pula) dan jam kerja yang 9 to 5 untuk Senin-Jum'at dan 9 to 2 di hari Sabtu.

Tapi, yang betul-betul bikin gue ga nafsu sama pekerjaan ini adalah si ibu meminta gue mengabdi selamanya di perusahaan dia. Dengan ruang kantor sempit dan melihat apa yang menghasilkan uang di perusahaan D, gue langsung tau jenjang karir adalah kemustahilan di perusahaan ini. Udah jelas gue akan di posisi yang sama sepuluh atau dua puluh tahun mendatang, semisal gue beneran kerja di sana. Di lain pihak si ibu mengharapkan karyawannya untuk menguasai semua tugas. Bicara pahit di depan, katanya. Tapi entah mengapa gue lebih suka mengetahui sebuah pekerjaan punya tugas yang proporsional dan punya batasan yang jelas antar jabatan. Bukan berarti gue perhitungan dan nggak royal. Gue tipe orang yang senang jika keroyalan dan keloyalan tumbuh dengan sendirinya di diri gue, alih-alih diwajibkan perusahaan.

Karena tahu dalam kurun 2 atau paling lama 3 tahun gue akan mematahkan ekspetasi si ibu dengan cabut dari perusahaannya─jelas gue bukan orang yang betah melakukan hal yang sama (dan jelas juga bukan impian gue) untuk kurun waktu "selamanya", sorenya sesuai janji gue nelpon untuk memberitahukan kalau gue menolak pekerjaan ini. Akan lebih mengecewakan bagi perusahaan si ibu untuk mengetahui fakta ini 2 tahun dari sekarang, menurut pikiran gue.

Terus terang, karena kejadian dengan perusahaan D ini gue jadi lebih antusias sama pekerjaan di perusahaan A. Si A serta merta jadi lebih potensial dari sebelumnya. Gue bener-bener nunggu kabar baik dari mereka. Tapi kemudian, tanggal 8 April, gue melihat di situs loker si A membuka lowongan untuk posisi yang tadinya mereka tawarkan ke gue. Ouch! Tapi gue mencoba tetap positif dan menunggu seminggu sesuai yang dibilang user perusahaan A. Seminggu berlalu, kabar baik dari A tak kunjung datang. Gue mulai menerima kenyataan dan mulai juga menebar CV lagi. Satu-dua panggilan tes atau interview gue penuhi. Sampai kemudian pada hari Jum’at tanggal 24 April di perjalanan pulang sehabis dari Bogor, gue dibuat takjub si A menelpon. Gue udah melongo melihat nama yang tertera di layar HP karena memang nomor telpon si A udah gue save. Seorang HRD bilang akan memproses data gue di perusahaan A dan meminta gue mengirim hasil scan slip gaji terakhir gue. Setelah itu gue diminta menunggu lagi kabar dari mereka. Sesaat gue geli sendiri dan dengan nada bercanda gue bilang ke temen perjalanan gue kalau mereka pada akhirnya tidak menemukan karyawan sepintar gue─mengingat mereka udah buka lowongan untuk posisi yang sama tapi akhirnya kembali beralih ke gue. Hahaha.

Dengan bantuan temen yang masih kerja di perusahaan gue sebelumnya, akhirnya hari itu juga gue email slip gaji terakhir by email. Plot twist tercipta, sebuah email dari perusahaan lain masuk dan mengundang gue untuk ikut tes online mereka esoknya. Ahh biasa banget, kalau dateng 1 tiba-tiba berturutan dateng yang lainnya. Tapi tentunya gue nggak menyia-nyiakan kesempatan yang terbuka. Perusahaan ini semacam startup yang mengelola sosmed karya anak bangsa. Sebut saja perusahaan S. Dengan setengah berlari gue mencapai warnet di depan gang rumah karena pas banget saat itu mati lampu, sementara netbuk gue harus dialiri listrik dulu baru bisa nyala. Ada tiga tes yang masing-masing ditaro di sheet berbeda dalam format Excel. Gue jawab sebisa mungkin terutama di bagian laporan petty cash yang butuh rumus-rumus formula Excel. Firasat gue 50-50 karena memang gue bukan expert di bidang Excel, jadi entah isian petty cash gue bener apa enggak. Rasanya sih udah bener, karena gue ngerjainnya berdasarkan logika aja; mana yang perlu ditambah, mana yang perlu dikurangi.

Senin tanggal 27 April, gue ditelpon perusahaan lain. Olalala, lagi dan lagi. Kali ini perusahaan leasing di bilangan Sudirman, sebut saja perusahaan O. Gue dipanggil untuk ikut tes di hari Rabu, 29 April. Makin sore gue dapet 2 telpon lagi. Satu dari A yang bilang akan ngirimin offering letter ke gue plus bertanya apakah tanggal 7 Mei sebagai hari pertama gue bergabung dengan mereka udah oke. Gue jawab, oke. Dalam hati gue membatin bahwa masih ada waktu untuk mempertimbangkan tawaran kerja lain. Lalu telpon satu lagi dari startup S! Oh waaw. Mereka pasti terpikat sama gue banget yaaa hahaha. Tapi ini serius loh, karena pas awal ngelamar aja mereka udah ngasih beberapa tes. Salah satunya pelamar diminta menjelaskan sebuah momen di masa lalu yang cukup menguras tenaga, pikiran dan wakt. Gue menimbang sebentar dan akhirnya memutuskan untuk menceritakan pengalaman kelompok Tugas Akhir kuliah gue yang retak gara-gara ego masing-masing. Gue bercerita bagaimana gue menulis sebuah cerpen tentang profil kelompok yang kemudian gue kirim di grup whatsaap. Cerita yang sama gue kisahkan ulang di hari interview yaitu esok harinya. Si Interviewer meminta gue untuk menceritakan dengan lebih detail tentang peristiwa itu. Gue sempet berpikir, apa gue diminta dateng untuk berdongeng?

Tapi selain itu gue merasa gue agak mengacaukan sesi wawancara ini. Jelas-jelas posisi yang gue lamar itu office assistant yang mendekati bidang finance, eh gue malah bertanya kemungkinan gue merambah ke divisi kreatif mengingat keterampilan menulis gue. Hemm, ya sudahlah, nasi sudah menjadi lontong. Toh masih ada 2 pekerjaan lain yang terbuka buat gue.

Besoknya, Rabu 29 April, gue ikut tes di perusahaan O. Melihat lokasi mereka yang pas banget buat background cerita novel yang mau gue garap─gedung tinggi di Sudirman─gue cukup berharap lolos. Tapi njiiirrr ada tes translate paragraf English segala. Dan kalimat-kalimatnya bukan simple sentence atau semacem lirik-lirik lagu. Tingkatannya udah lanjut. Level bisnis. Udah gitu ada tes bikin laporan Excel yang kayaknya cuma bisa dimengerti orang yang pernah bersentuhan bidang akunting. Istilah-istilah balance, amount... ough! Keluar  ruangan tes gue udah yakin nggak bakal lolos.

Tapi, hei, besoknya gue malah ditelpon lagi sama si O. Gue dijadwalkan interview sama user di pagi hari dan BOD sorenya di hari yang sama. And you know what, that interview will be in English! Untungnya jadwal interview masih hari Senin pekan depan jadi gue masih ada kesempatan buat latihan. Dan asli mulut gue pegel coba-coba ngomong pake Bahasa Inggris. Beda dengan kenyataan kalau selama ini banyakan lagu berlirik Inggris ketimbang Indonesia yang sering gue nyanyikan. Apapun, gue bakal perjuangin sebisa gue. Dan, gue pikir ada bagusnya juga di perusahaan A meminta gue masuk kerja tanggal 7 Mei, jadi gue masih bisa “bertaruh” nasib di perusahaan O hari Senin tanggal 4 Mei.

Tanggal 4 Mei pun datang. Ada dua kandidat lain, sesama yang ikut tes Rabu lalu. Gue diundang masuk pertama karena gue dateng duluan. Yang wawancara ada 3. Pertama gue disuruh introduce in English. Sialnya gue lupa satu bagian profil yang udah gue apalin sejak kapan tau. Selanjutnya gue tampak nggak potensial padahal wawancara udah beralih ke Bahasa Indonesia, gue sadari itu. Bukannya malah tampil meyakinkan, gue malah membuat diri gue tampil dangkal dan pemalas.  Gue sempet menyebut alasan gue menolak pekerjaan di perusahaan D yang memang sudah berniat meng-hire gue. Gue bilang karena di sana kerjanya sampe Sabtu, that’s all. Gue tergagap dan lupa alasan fundamental yang sebenarnya menjadi alasan utama mengapa gue menolak pekerjaan itu yang kemungkinan akan lebih terdengar professional dan baik hati; bahwa gue nggak sanggup mengecewakan ekspetasi orang lain. Hikmahnya, dari situ gue kepikiran jawaban yang cukup lugas jika nanti gue dihadapkan dengan pertanyaan yang sama di kesempatan sesi wawancara yang lain.

Sesi interview berlangsung cepat. Gue diminta menunggu kabar mereka sekitar jam 12 siang. Jika lolos gue diminta hadir lagi untuk wawancara ke dua dengan seorang Jepang. This time, the interview must be in English! Sesuai perkiraan gue dinyatakan nggak lolos. Dan karena gue mengacau di perusahaan S dan ditolak di perusahaan O, maka akhirnya gue meyakini bahwa bekerja di perusahaan A adalah jalan gue. Sejak dihadapkan 3 tawaran pekerjaan yang sama-sama oke terus terang gue dilanda kegalauan yang cukup bikin pening kepala. Gue menimbang, yang mana yang lebih oke? Sholat-sholat malam gue gelar demi minta petunjuk. Dari pemahaman yang diajarkan ke gue bahwa Dia adalah sebaik-baiknya pemberi keputusan. Tapi gue tau ini bukan semacam ajaran yang ditularkan pemuka agama dan orang-orang bijak semata. Gue sadar batul bahwa memang demikian lah adanya. Dan dengan gugurnya satu pekerjaan dan yang lain belum ada kabar lagi, maka gue meyakini bahwa perusahaan A adalah yang terbaik buat gue. Pulang dari perusahaan O gue kabarkan berita baik ini ke keluarga gue. Cukuplah mereka tau hasilnya tanpa perlu tau proses galaunya gue berhari-hari belakangan.

Tanggal 7 Mei semakin dekat. Dua hari sebelumnya gue berdua nyokap bergerilya mencari kamar kos karena perusahaan A lumayan jauh dari rumah gue. Pulang dari sana gue menyimpan kekesalan karena nggak berhasil menemukan kamar yang cocok. Beberapa juragan kontrakan juga sempet bikin gue geram. Tapi karena sejak awal gue udah memutuskan baru bakal pindah hari Sabtu atau Minggu tanggal 9-10 Mei, masalah kamar kost ini masih bisa gue skip dulu.

Lalu plot twist datang lagi. Tanggal 6 Mei hari Rabu, perusahaan S menelpon dan menjadwalkan interview lanjutan dengan direktur mereka esok hari. Damn, bertepatan banget dengan hari pertama gue kerja di perusahaan A! Kalau aja sehari sebelumnya mereka nelpon, gue pasti datang─didorong semangat ambil kesempatan yang ada plus kegeraman mengenai kamar kost.

Gue mencoba berpikir hati-hati. Di perusahaan A, dari gambaran kasar Mbak HRD di telpon, gajinya jelas melebihi ekspetasi gue. Tapi kerjaannya, oh my God, kayaknya bosenin. Dan jangan harap ada kenaikan pangkat karena posisi gue keluar dari struktur seperti yang sudah ditegaskan pada tahap awal interview. Sementara di perusahaan S gajinya standar, tapi dapet makan siang. Lebih dari itu gue berpikir, seandainya sosmed lokal yang mereka usung dalam beberapa tahun mendatang melesat se-booming Facebook atau Twitter, akan menjadi sangat menyenangkan kalau gue jadi bagian dari itu. Dan mungkin gue bakal memimpin divisi finance kalau saat hari itu tiba.

Tapi seperti yang dibebankan kepada cewek seusia gue yang mestinya udah mulai berpikir tentang hal-hal yang pasti dan berhenti cari penyakit dengan “berjudi” nasib, gue pun memutuskan untuk ikut arus. Gue mengambil keputusan untuk tetap di perusahaan A yang jelas-jelas udah pasti buat gue. Perusahaan A memanggil gue untuk kerja hari pertama sementara perusahaan S masih berkutat di tahap wawancara. Gue udah ambil keputusan bakal ke perusahaan A besok, hari Rabu tanggal 7 Mei. Untuk perusahaan S gue layangkan email yang intinya tidak bisa memenuhi undangan interview karena sudah mendapat pekerjaan lain. Gue mengirim email ini karena gue nggak mau jadi si brengsek yang membatalkan janji di menit-menit terakhir. Gue tau si Direktur S sebetulnya berkantor di Jogja dan kalau dia menyempatkan diri ke Jakarta untuk mewawancarai seseorang, tentulah waktunya nggak boleh gue sia-siakan. Gue tahu perusahaan S menerapkan panggilan satu per satu kandidat yang mereka ingin hire, bukan rombongan seperti perusahaan lain. Gue tau gue adalah calon tunggal yang mereka panggil, seperti yang gue alami sendiri sewaktu interview tahap pertama. Jadi gue berpikir gue nggak sampai hati membiarkan orang sepenting Direktur S membuang waktunya percuma untuk menunggu gue si kandidat yang nggak datang. Gue juga nggak pingin menghalangi sebuah perusahaan merekrut karyawan lain dan mengacaukan jadwal mereka.

Sedihnya, sekitar jam setengah tujuh malam di hari yang sama, bertepatan dengan niat gue untuk mulai menyusun keperluan dokumen gue yang diminta perusahaan A, perusahaan yang gue pilih ini menelpon. Kabar buruk. Atau setidaknya kabar yang tidak mengenakan. Mbak HRD yang nelpon bilang masih ada urusan administratif yang perlu mereka urus jadi proses penerimaan gue diundur sampe tanggal 21 Mei. Damn! Siapa sangka malah begini kejadiannya? Gue yang mencoba untuk tidak mengecewakan orang lain di menit-menit terakhir malah berbalik dikecewakan di menit-menit terakhir. Gue cuma bisa tertawa getir dan memberitahu keluarga gue tentang kabar teranyar ini. Dada gue sesak tapi entah kenapa susah banget buat nangis. Lebih gampang nangisin film Kuch-Kuch Hota Hai yang udah udah gue tonton 576 kali ternyata.

Bagi gue sikap personalia perusahaan A sangat nggak professional. Nelpon di luar jam kantor di hari terakhir. Lebih dari itu, lamban banget kerja mereka. Dari tahap interview terakhir gue di perusahaan mereka itu udah makan waktu 1 bulan dan mereka beralasan masih ada hal-hal administratif yang masih nyangkut?? Tapi tentu aja di depan mereka gue bilang oke; sekedar jaga-jaga bahwa gue masih punya peluang di sana. Dan gue juga rasanya bisa menduga bahwa di perusahaan A ada tanggal-tanggal tertentu untuk mempekerjakan karyawan baru.

Gue coba bertindak cepat. Gue coba mengejar keberuntungan gue di perusahaan S yang mungkin masih berminat meskipun email penolakan gue sudah sent ke email mereka. Bukan sesuatu yang asing untuk ukuran orang yang emang senang “berjudi” atas nasibnya seperti gue. Gue coba mengirim sms ke nomor yang dulu dipakai perusahaan S untuk memberitahu ada email undangan tes online dari mereka. Intinya gue bertanya apakah gue masih punya kesempatan untuk ikut interview. Tidak ada balasan. Besok paginya gue berangkat dengan harapan siapa tau masih ada kesempatan. Gue pikir kalau gue nelpon dari rumah dan jawaban mereka positif, gue jelas nggak bisa datang sesuai jadwal interview yaitu pukul 10 pagi. Jarak dari rumah gue ke kantor mereka itu paling sedikit makan waktu 2 setengah jam. Sementara dengan alasan kesopanan gue tentunya harus nelpon di atas jam 9 pagi. Jadilah gue tetap berangkat dengan gaya rapi seolah hari itu emang bakal diwawancarai. Gue nelpon dari halte busway yang udah lumayan deket jaraknya dari kantor mereka. Perkiraan gue cuma butuh kurang dari setengah jam dari halte busway itu ke kantor mereka, jadi gue masih bisa datang on time.

Gue bertaruh nasib menggenggam selembar tipis benang harapan bahwa mereka belum membaca email penolakan dari gue dan karenanya belum memanggil kandidat lain. Faktanya pahit. Email gue sudah terbaca dan mereka gantian menolak permintaan gue untuk tetap ikut wawancara karena memang mereka sudah memanggil kandidat berikut. Pahit. Terkadang niat baik kita memang nggak dibayar setimpal. Mau bilang apa, inilah cara dunia bekerja.

Keluarga gue nggak begitu paham mengapa gue merasa perlu memberi penolakan by email padahal pihak perusahaan tidak meminta. Ya sudahlah, gue pun enggan diinterogasi. Gue nggak minat memberi detail. Kebiasaan seorang introvert di diri gue yang lebih suka mengutuk kegelapan sendirian ketimbang berbagi. Sewaktu baru-baru ini gue bilang bahwa gue sudah menyiapkan diri untuk kemungkinan terbaik maupun terburuk dari perusahaan A, keluarga gue mungkin menilai bahwa gue udah pesimis. Tapi yang sebetulnya terjadi adalah gue sudah menilai situasi; seperti yang selalu gue lakukan di setiap aspek kehidupan gue. Dengan kelakuan Mbak HRD perusahaan A yang meng-cancel jadwal di menit terakhir, maka bukannya tidak mungkin bahwa mereka tidak akan memberi kabar seterusnya, jauh melewati dari tanggal 21 Mei. Itu kemungkinan terburuk. Dan tentu, sebagai orang yang terdorong semangat mengambil setiap kesempatan yang ada, gue menyimpan harapan yang terbaiklah yang akan menghampiri. Entah yang terbaik adalah bergabung dengan mereka atau ada tawaran lain yang lebih baik. Sekali lagi gue gelar sholat-sholat malam penuh permohonan. Ampuni aku Ya Tuhan.


Gue hanya mencoba untuk tetap stabil dan menjaga kewarasan untuk tidak terlalu berharap pada seorang homo sapiens yang sudah pernah mengecewakan gue. Hari ini, gue kembali ke rutinitas menyebar CV. Gue punya jawaban meyakinkan sebagai langkah antisipatif jika nanti diundang interview lagi, tapi sebetulnya, rasa-rasanya, gue lebih senang untuk tidak melewati itu semua. Bergabung dengan perusahaan A mungkin adalah jalannya. Semoga. Don’t know. Let God take the rest.