Kamis, 30 April 2015

Kavita Daswani dan Melina Marchetta



Saat gue menyukai sebuah buku, biasanya gue akan mencari karya lain dari penulis tersebut. Senin lalu gue beli 2 buku dari 2 penulis yang buku pertama mereka merupakan favorit gue. Penulis-penulis itu adalah Kavita Daswani dan Melina Marchetta.


Buku pertama Kavita yang gue baca berjudul For Matrimonial Purpose (Cinta Kan Datang) dan yang gue beli Senin lalu judulnya The Village Bride of Beverly Hills (Pengantin Dusun di Beverly Hills). Meskipun di buku ke dua nggak tercetak bahwa ini masuk kategori Chicklit, tapi menurut gue genre yang diusung Kavita masih sama. Tokoh utama ceweknya adalah wanita pekerja yang bermasalah soal cinta. Yang menjadi alasan mengapa logo chicklit tidak tersemat di buku ke dua ini mungkin karena tokoh utamanya sudah menikah; keluar dari pakem chicklit yang tokoh ceweknya biasanya-semua sebetulnya-berstatus lajang.

Sementara 2 buku Melina tetap di jalur teenlit. Sebetulnya gue merasa udah nggak cocok lagi baca teenlit. Terutama setelah membaca ulang postingan gue tentang teenlit Jingga dan Senja. Bagian akhir postingan gue itu-pengakuan bahwa untuk orang setua gue udah nggak kena sama cerita teenlit-adalah benar adanya. Tapi nama Melina Marchetta seolah memberi garansi buat gue. Novel pertamanya, Looking For Alibrandi (Mencari Jati Diri) yang bergenre teenlit, membuat gue terkesan. Memang bukan karya paling bagus yang pernah gue baca. Menurut gue beberapa narasi terlalu cepat temponya dan mestinya bisa lebih deskriptif lagi. Tapi apapun, Looking For Alibrandi tetap jadi bacaan favorit yang masih sering gue baca ulang di beberapa bagiannya. Jadi, begitu melihat nama Melina di satu novel, tanpa pikir panjang, langsung gue keep.

Tapi, beda sama Kavita yang udah gue tau ada lagi novelnya yang terbit di Indonesia dan sejak saat itu pengen banget punya, novel Melina ini mengejutkan gue. Kayaknya gue jarang searching tentang karya-karya lain Melina. Yang gue tau Looking For Alibrandi diadaptasi ke film. Pengen banget nonton di Youtube tapi kemaren-kemaren gue search, kok yah nggak ada yang full movie? Yang ada cuma potongan-potongan film berdurasi 5 menitan. Next time lah gue coba lagi.
Reaksi pertama yang gue tangkap waktu baca buku ke 2 Kavita adalah wow... wow, gue dibuat merasa beda. Gue merasakan betul perbedaan karakter di 2 buku tersebut meskipun dua-duanya pakai sudut pandang orang pertama.

Di novel pertama gue dibuat percaya oleh penceritaan Kavita tentang karakter Anju yang antusias, sedikit naif, dramatis tapi kemudian berkembang menjadi pribadi yang sinis. Gue menikmati karakter Anju yang berwawasan dan punya pendapat tentang apa aja.  Gue suka karakter Anju yang khas tokoh utama chicklit yang suka "meracau" tentang apa saja dan biasanya disampaikan dengan cara sinis.

Tapi kemudian di buku ke 2 gue merasakan karakter Priya yang sederhana dan nyaris tidak tahu apa-apa di luar kehidupannya di India.

Bagi gue ini keren dan konsisten. Terkadang sebagai penulis, seseorang akan memasukkan kepribadian dan empatinya kepada si karakter. Jadi begitu mau menulis buku ke dua, kemungkinan karakternya nggak akan beda jauh dari buku pertama karena... yah, mau gimana lagi? Sulit melepaskan empati-empati serta sifat kita sendiri dari karakter yang kita buat. Dan Kavita melalui buku pertamanya bikin gue yakin Anju adalah Kavita, Kavita adalah Anju. Gue dibikin yakin dengan karakter Anju sampai nggak bisa membayangkan bagaimana Kavita membangun karakter lain di karyanya selanjutnya. Dan gue dibuat senang karena Priya si pengantin dusun benar-benar terlihat tidak tahu apa-apa; hampir bisa dibilang bertolak belakang dari karakter Anju.

Gue seneng dan dapet pelajaran tentang mengendalikan sebuah karakter supaya tetap konsisten dan meyakinkan. Soalnya dalam benak gue ada 2 cerita yang tokoh utama ceweknya juga bertolak belakang. Gue berpikir, bisa nggak nih 2 karakter ini tampak meyakinkan? Jangan sampe si karakter ke 2 malah melenceng karena gue nggak bisa berhenti memberikan empati gue seperti yang gue lakukan di cerita pertama. Singkatnya, cerita pertama tokohnya gue banget dan tokoh di cerita ke 2 nggak gue banget. Bisakah gue meyakinkan pembaca? Mmmm, gimana kalau sebelum berpikir macam-macam, lebih baik gue tulis dulu cerita-cerita itu dan baru setelahnya mulai khawatir? Hahaha.

Dari segi cerita, jelas buku pertama lebih menarik buat gue. Gue terhibur sekaligus terkesan dengan gaya bahasa Kavita. Gue bahkan hampir nggak bisa menemukan cacatnya buku ini. Tapi di buku ke 2, ada hal yang bener-bener janggal buat gue. Seks. Ya, seks. Buku ke 2 bercerita tentang kehidupan pengantin baru dan nggak ada pembicaraan sama sekali soal seks? Bukan berarti gue menginginkan narasi adegan seks karena gue memang tidak ingin. Tapi setidaknya, karena sekali lagi ini cerita tentang pengantin baru, ada kalimat menjurus tapi non vulgar seperti "kami sudah tidak bergairah lagi di ranjang" atau "aku merasa tidak suka lagi dengan sentuhannya". Sayangnya kalimat tersirat pun nggak ada di buku ini.

Sementara soal Melina di buku ke dua... yah, bagaimana ya? Gue nggak kecewa sama buku ke dua Melina. Pusing mungkin respon yang paling tepat setelah baca buku Saving Francesca (Tolong Aku Dong). Banyak banget karakter dan informasi-informasi yang nggak dijelaskan. Kayaknya Melina nggak memperhitungkan kalau bukunya dibaca orang di luar Australia. Dia menulis ceritanya seolah-olah semua pembacanya sudah tahu apa artinya Nonna, Nonno, Zia, retret, HSC dan semua. Melina juga menulis seolah-olah semua pembacanya sudah tahu keluarga Francesca adalah keturunan Italia lengkap dengan segala kebiasaan dan karakter khas orang Italia. Informasi di buku ini banyak, tapi penjelasannya minim. Dan meskipun ngerti apa yang hendak Melina sampaikan lewat karakter Francesca yang kadang dipanggil Frankie/Francis, gue menemukan diri gue pusing sewaktu membaca.

Tapi seperti cerita Alibrandi, gue suka dialog-dialog antar tokoh yang dirangkai Melina. Dialognya cerdas dan sangat menunjukkan interaksi orang-orang di negeri bebas. Dan Melina juga tahu betul apa yang dirangkainya menjadi kalimat-kalimat. Melina tahu betul dia lagi cerita apa. Mungkin setelah 3 buku lainnya yang gue beli Senin lalu selesai gue baca, gue bakal baca ulang Saving Francesca. Dengan lebih perlahan supaya lebih paham dengan segala informasi.

Girl Group Kpop In My Opinion

Right now it’s SNSD, tomorrow it’s SNSD, forever it’s SNSD, I love You. I won’t let you go, Mamamoo. Familiar dengan slogan in...