Sedikit Curhatan Kaum Introvert



Baru-baru ini gue baca sebuah artikel tentang keintrovertan. Pada dasarnya gue setuju dengan saran penulisnya, but, hell, rasanya sulit untuk mempraktekannya. Penulisnya bilang jangan jadikan sifat introvert sebagai alasan untuk kita tidak bergaul. Itu sama aja bilang, "saya kan bego," waktu ditanya kenapa nilai ujian kita jelek.


Membaur.

Bergaul.

Ngobrol.

Tiga hal ini sungguh sulit dilakukan kaum introvert. Butuh usaha keras. Butuh upaya memaksa diri sendiri yang dobel.

Dan itulah yang sedang gue alami sekarang. Biarpun sekali waktu gue pernah ikut tes perihal intro-ambi-ekstro dan hasilnya gue masuk golongan ambivert, tapi gue bisa menyadari dan tahu betul gue ini introvert. Nggak total atau 100 % tapi yang jelas gue cenderung introvert. Gue tahu karena basa-basi adalah hal yang sulit bagi gue. Membaur di tengah keramaian di tengah orang yang gue kenal dan mereka kenal gue tapi kami nggak akrab adalah hal yang mengerikan buat gue. Bicara dengan orang asing nggak menakutkan dan nggak menganggu buat gue, tapi syaratnya pembicaraannya memang punya tujuan yang jelas, mengandung suatu hal yang informatif, dan bukannya basa-basi. Gue bisa kok ngobrol sama penumpang bus yang baru gue temui. Biasanya dimulai dari nanya jalan atau nanya rute bus. Itu gue bisa. Lancar malah. Gue rasa gue cocok buat jadi wartawan, tapi ada nggak ya media yang mau nerima gue yang minim pengalaman jurnalis?

Intinya pembicaraan yang bisa gue handle itu yang one on one. Apalagi misalkan ada momen di mana gue emang mesti stand by di sebelah seseorang untuk jangka waktu yang lama. Kemungkinan besar gue bisa akrab. Beda cerita kalau gue dilepas di tengah banyak orang, apalagi di tengah orang-orang yang udah lebih dulu akrab. Menemukan kesamaan dengan mereka itu sangat sulit buat gue.

Di dalam dunia yang mayoritasnya ekstrovert dan berbagai peraturannya menjadikan mereka parameternya, tak urung membuat kaum introvert pengen cabut ke Mars. Orang-orang introvert berpikir diri mereka adalah alien dan bumi bukan tempat yang tepat untuk mereka tinggali. Sungguh perjuangan yang berat. Gue pernah ngerasain itu semua. Ya emang gue nggak sampe berpikir gue ini alien karena ga percaya dengan gambaran makhluk asing ala Hollywood, tapi gue sempet berpikir gue mengidap masalah kejiwaan serius. Kayaknya gue ini sebuah penyakit sosial saking sulitnya bersosialisasi. Apa yang mudah bagi orang lain-menyapa, ngobrol basa-basi-sangat sulit gue lakukan.

Tapi pada dasarnya gue udah cukup bisa menerima diri gue yang seperti ini. Gue cukup bisa menerima kenyataan gue rada penyendiri, cuma punya segelintir teman akrab dan canggung luar biasa di tengah orang baru. Tapi pertanyaannya, apa lingkungan gue cukup open dengan kepribadian gue yang seperti ini? Gue pengen cuek, nggak peduli pendapat dan pandangan orang lain. Mereka mau mencap gue weird, nerd atau bahkan snob atau rude-terserah. Tapi gue nggak bisa, setidaknya sampai saat ini, untuk sungguh-sungguh nggak peduli. Gue masih merasa sakit melihat seseorang yang gue kenal memperlakukan gue dengan sangat sopan padahal gue tau sebetulnya dia orang yang serampangan. Sikap berjarak begitu masih jadi pikiran buat gue. Gue sedih karena merasa asing dan diasingkan, tapi don't know how to fix it. Siapapun yang merasa introvert, gue yakin pernah merasakan hal ini.

Bahwasanya mereka adalah orang-orang yang tidak mengetahui. Yang mereka tahu gue pendiem, nggak mau gabung. But why, they know nothing. Tapi bagi gue pribadi untuk mengatakan bahwa gue introvert pada mereka hampir mustahil. Terdengar seperti cuma mencari-cari alasan aja. Seperti yang gue tulis di awal, seolah mengatakan "saya kan bego," ketika dapet nilai jelek.

Sebagai orang yang sudah cukup bisa menerima dirinya sendiri, alih-alih menyalahkan mereka yang tidak mengerti, gue justru mengutuk kegelapan. Gue tidak menyalahkan mereka yang melabeli gue aneh dan bahkan menjauhi gue. Kaum introvert itu minoritas dan sebagian besar masyarakat tidak tahu bagaimana berinteraksi dengan mereka karena mereka jarang berada. Masyarakat bahkan mungkin nggak tahu kalau ada manusia yang merasa sulit untuk sekedar ngobrol.

Dan gue nggak tau bagaimana harus mengakhiri artikel ini, karena Insha Allah hidup gue masih berlangsung esok, esok dan esok-esok lainnya. Gue masih tetap akan dan harus survive, even I don't know how to do it, just pray it can be better.

Postingan populer dari blog ini

Film Filosofi Kopi... Sebuah Review dan Opini