Fighter


Rasanya ingin terbangun pada masa itu. Saat ruang dan waktu yang kupunya tidak semenyesakkan ini. Ketika bisa kusambut akhir pekan dengan lebih lega. Dan tanpa kekhawatiran tentang hari Senin. Konyol benar mencemaskan hari Senin di Jum'at malam. Konyol benar aku.


Aku tidak sedang menunjuk hidungmu. Aku tidak sedang menuding menyalahkanmu atas perasaan "salah berpijak" ini. Sejak awal lima jari ini terarah ke hidungku sendiri. Aku mengutuk gelap. Aku mengutuk ketidakberdayaan ini. Sendiri.

Tersisih dan terpinggirkan. Ditolak. Sungguh tak pernah kuarahkan telunjukku pada siapa-siapa atas situasi ini. Aku yang lambat mengambil aksi lebih dulu. Bukan salahmu saat angin yang berhembus di antara kita demikian dingin. Saat dingin itu merambat, aku hanya akan mengumpat-umpat kecil dalam hati sekedar untuk melepas ketegangan. Tidak akan lebih jauh. Kadang kupikir kasihan kamu, mungkin terbersit sedikit perasaan bersalah atas sikapmu padaku. Kalian begitu ramah, bersahabat dan cair. Tapi begitu aku maju, tak terhindarkan kalian berubah menjadi gunung es. Karena itu, demi kebaikan bersama, aku ingin pergi. Aku berencana pergi.

Rasanya tak sabar menanti hari itu datang. Ketika aku yang suka bergelung di kasur ini mematikan alarm pagi dengan lebih bersemangat. Ketika sumbu gairah tersulut deras dari pori-pori kulitku, lantas terpikir ingin mencipta apa hari ini.

Rasanya aku sudah menunggu lama sekali untuk hari itu. Hari di mana ketika aku merasa telah menemukan tempat diriku seharusnya. Tempat di mana ingin kuberikan upaya 120 persen. Dan tanganku pun mulai berkarya.

Rasanya ingin mencangkul, merenggut lalu menarik-narik kaki-kaki yang mengakar di tanah. Ooohh, aku baru ingat aku bukan pohon. Akarku tidak tertancap mantap di perut bumi. Aku manusia yang punya sepasang kaki, yang bisa kuangkat dan kutapakkan kemana pun aku mau. Oh ya, aku bukan pohon. Ketika aku tidak menyukai tempatku menetap, aku bisa pergi. Aku mampu. Aku tidak harus menetap.

Tak mengapa. Aku bukannya tidak bersyukur atas hari ini dan masa lalu. Tak mungkin mencela angin, air dan tanah yang kupunya hari ini. Aku justru sangat berterimakasih. Karena aku tahu, pada saatnya nanti aku akan lantang berkata, thanks for making me a fighter!

Postingan populer dari blog ini

Film Filosofi Kopi... Sebuah Review dan Opini