Selasa, 17 November 2015

Yang Annoying di Spectre



Petualangan James Bond, sang mata-mata Britania, berlanjut di Spectre. Baru Rabu kemaren nonton dan... harus dikatakan, mengecewakan di beberapa bagian.


Spectre bercerita tentang wasiat mendiang M kepada Bond untuk membunuh seseorang bernama Marco Sciarra. Pria ini merupakan salah satu anggota dari sebuah organisasi kriminal internasional. Dari satu informan ke informan lain, maka sampailah Bond ke hadapan si bos mafia yang ternyata anak dari pria yang mengadopsi Bond sewaktu kecil.

Garis besar ceritanya seperti itu. Dan sebagaimana biasa, film dimulai dengan adegan tegang nan memburu. Berkali-kali gue memicingkan mata, menahan napas sampe senyum-senyum. Gue berpikir, ooohhh emang inilah my all time movie! Betapa gue mencintai film-film Bond! Tapi kemudian gue menemukan kejanggalan, ketidaklogisan sampai hal-hal dangkal sepanjang film.

Film Bond berada di jalur fiksi, jadi berlebihan rasanya menuntut sesuatu yang real di sini. Benar. Benar... wait, hold on. Nggak ah, nggak berlebihan. Toh maksudnya bukan benar-benar seperti di kehidupan nyata, tapi logika bercerita aja.

Pertama adegan berkelahi di kereta yang lagi melaju. Tiba-tiba penjahatnya dateng. Bond dan si penjahat berantem dengan si penjahat berakhir terempas keluar kereta. Hello, itu ada yang lagi berantem loh di dalem kereta, mana sekuriti? Masinis juga apa kabar? Pada ngapain terserah, bunuh-bunuhan juga nggak peduli, gue mah nyupir ajah?! Errr...

Trus kenapa sama adegan mengobrol terakhir Bond dengan Mr. White? Kayaknya semua wajar aja. Nggak ada kata-kata yang bisa menyinggung hati. Tapi si Bond nggak mau si Madeleine sampe liat videonya. Kenapa sih? Oke, si Mad ini memang digambarkan seperti wanita yang labil jiwanya karena dia harus selalu bersembunyi dan tidak menjadi dirinya sendiri. Maksudnya kalo si Mad ini ngeliat bapaknya bunuh diri dia bakal makin terguncang gitu? Tapi setelah itu si bos mafia ngoceh soal Bond yang nggak bisa dipercaya. Gue nggak ngerti, sungguh! Karena dialog Bond dan Mr. White wajar aja. Di bagian mana dari dialog itu yang bikin si Mad meragu?

Dan, dari sekian adegan yang annoying, juaranya adalah bagian ending yang menurut gue kelewat maksa. Begitu aja si Mad say good bye ke Bond karena dia sadar dia nggak bakal bisa ngikutin gaya hidup Bond. Pas bagian itu gue berpikir, aha, nih cewek pengkhianat. Si Mad sengaja manfaatin Bond buat ngebunuh Bleofad supaya dia bisa gantian menguasai Spectre. Tapi ternyata nggak. Si Mad sengaja dipisahin sama penulis skenarionya di ujung cerita supaya bisa diculik trus diiket di tengah-tengah bangunan yang mau dibom. What the-

Ini cerita Superman atau Spiderman ya? Perlu banget adegan penyelamatan seorang cewek dari marabahaya di menit-menit terakhir. Ya ampun, gue akan lebih puas kalo plot twist. Kenapa kau tidak berkhianat dan mati saja, Mad?

Huaahhh.

Tapi bagaimana pun Spectre tidak memenuhi ekspetasi gue, film 007 akan tetap jadi film gue sepanjang masa. Gue tetep minat nonton film Bond yang selanjutnya.

Daniel Craig Era

Era Daniel Craig adalah masa film Bond yang gelap dan mengambil pendekatan realita. Gue inget waktu nonton Casino Royale dan berpikir kali ini filmnya serius. Tanpa Q, tanpa mobil yang bisa berkamuflase dan menembakkan rudal, dan dengan Bond yang banyak berkelahi dengan tangan sendiri. You know lah, film-film Bond terdahulu. Peralatan super canggih yang bisa begini-begitu, mobil keren yang bisa ngapain aja dan Bond yang bang-bang. Mister Kiss-Kiss Bang-Bang, itu kan julukan Bond?

Dan jangan lupakan kasusnya; soal antariksa, menguasai dunia dengan cara membuat matahari buatan. Ooohh jangan lupakan pula metode penyiksaan yang melibatkan hiu dan penjahat bergigi besi. Sekarang, kasusnya lebih sederhana meskipun intinya masih berpusat seputar uang. Di Quantum Solace, si penjahat Greene berusaha berspekulasi mengenai penyediaan air bersih di sebuah negara. Lebih dekat. Lebih real dan nggak mengawang.

Gue pernah membaca satu artikel bahwa Bond era Craig sangat terpengaruh sama kisah mata-mata yang juga adalah film sepanjang masa gue: Bourne Trilogy. Bourne adalah antitesis Bond. Dia hero yang nggak ganteng, ga suka pake setelan, dan bahkan sepanjang film terlihat bingung dan terombang-ambing. Bourne nggak punya peralatan canggih. Dia jarang megang pistol, lebih sering berkelahi dengan tangan kosong. Andalan Bourne cuma cara berpikir yang taktis, efisien dan cepat. Dan yang lebih revolusioner, Bourne tidak mengejar penjahat tapi justru dia yang dikejar. 

Karena itulah sejak Casino Royale, Bond seakan dipreteli. Para pembuatnya sadar tidak bisa membuat Bond dengan cita rasa yang sama. Penonton nggak puas lagi disuguhi peralatan Q yang bisa meledakkan gedung dan Bond yang jago mampus tapi seperti ga punya kehidupan pribadi. Penonton menginginkan cerita yang lebih nyata. Dan Casino lah yang didapatkan penonton. Emosi adalah elemen terpenting di sini. Kita akan melihat Bond benar-benar jatuh cinta dan ingin hidup normal, jauh dari hiruk-pikuk dunia spy. Lalu di Quantum Solace, motivasi utama Bond adalah dendam. Dan dia terlihat sangat patah hati sampai menolak tidur. Singkat kata, Bond dibikin lebih manusiawi.

Tapi tentu aja beberapa hal dari Bond akan sesuai tradisi. Klasik tetaplah klasik. Beberapa aturan nggak akan bisa dilanggar terlalu jauh. Aktor pemeran tetap dari Inggris, jadi aktor Hollywood nggak usah ngarep lah bisa nyumbang pemeran utama. Ini kebijakan utama. Jadi suguhan orang-orang beraksen British akan selalu ada. Dan dari pengetahuan gue yang sempit tentang Inggris, menurut gue emang begitu ya orang-orang Inggris berbicara; beraksen, penuh adab ningrat. Kan memang begitu negeri mereka, modern tapi tetap klasik, mengingat mereka masih memegang teguh sistem monarki.

Dan Spectre...

Secara keseluruhan, bagi gue Spectre kentang banget. Nanggung euy! Hal-hal klasik tentang Bond dimasukkan lagi di film ini. Sekali lagi kita melihat Bond yang genit dan memakai pesonanya untuk mencari informasi dari wanita-wanita cantik. Mungkin si Bond akhirnya bisa move on kali ya, nggak suka ngegalau lagi gara-gara masalah cewek. Hahaha. Yah, begitulah. Kentang!