Tentang Mengucapkan Selamat Natal


Selamat natal.... Kali ini saya tanpa ragu mengucapkan selamat natal kepada teman saya yang beragama kristen.


Tahun ini berbeda. Jika bertahun-tahun lalu saya hanya sekedar mengucapkan "happy great day", tahun ini saya lugas mengucapkan selamat natal. Mengapa? Apa yang berbeda?

Dulu, saya mengamini bahwa pada saat kita mengucapkan selamat natal kepada orang kristen berarti kita mengakui bahwa Isa Al-Masih lahir pada tanggal 25 Desember. Maka ucapan "selamat hari raya" kepada teman-teman beragama kristen pada tanggal 25 Desember sudah mencukupi. Tapi tahun ini, saya berucap lugas, "selamat natal". Jadi, apakah saya telah berubah mengakui kelahiran Nabi Isa pada tanggal 25 Desember?

Saya tidak melihatnya seperti itu. Saya orang yang meyakini sesuatu yang asli. Contohnya niat. Dan niat saya semata (Insha Allah) sebagai sikap saling menghormati antar umat beragama. Soal keimanan terhadap agama sendiri, Insha Allah tidak terpengaruh.

Perubahan pandangan ini tak lepas dari sebuah komentar dari seorang netizen di kolom berita yang saya baca beberapa waktu lalu. Saya lupa apa tepatnya berita tersebut, tapi masih seputar agama satu yang dibenturkan dengan agama lain. Sangat Indonesia. Sangat orang Indonesia-gemar berdebat tentang isu yang sama setiap tahun. Apakah sholat harus mengucapkan bacaan niat "ushalli"? Apakah sholat shubuh pakai qunut? Apakah merayakan 1 Syawal di tanggal yang sama? Apakah boleh mengucapkan selamat natal? Islam atau muslim?

Kembali ke soal komentar si netizen, sebetulnya kesan yang ditimbulkan dari komentarnya agak arogan. Tapi, saya dapat mengambil esensi yang hendak disampaikan si netizen. Intinya si netizen menganggap imannya tidak setipis itu hingga bisa rusak hanya karena mengucapkan selamat natal.
Saya pikir, ya, Insha Allah itu memang benar. Saya pun merasa Insha Allah aqidah saya tidak akan serta-merta rusak hanya karena mengucapkan selamat natal. Keyakinan saya tetap kepada Islam, iman saya tetap kepada Allah SWT. Karena memang niat saya murni sebagai sikap saling menghormati.

Tapi, seperti artikel bagus yang saya baca kemarin, satu hal yang cocok di saya, belum tentu dan tidak harus cocok pula untuk orang lain. Apalagi soal agama, karena bagi saya agama adalah perjalanan pribadi. Kita yang menentukan apakah satu hal bisa menjatuhkan iman kita atau tidak. Ini tentang sesuatu yang tersembunyi di dalam dada, ini tentang hubungan yang hanya kita dan Tuhan yang tahu.

Karena itu kamu tidak harus seringan saya mengucapkan selamat natal jika hati kamu tidak sreg berkata begitu. Bukankah itu inti dari ayat Al-Qur'an yang sangat menginspirasi: "untukmu agamamu, untukku agamaku"?

Postingan populer dari blog ini

Film Filosofi Kopi... Sebuah Review dan Opini