Blue Neighbourhood; Sedikit Review, Interpretasi Bebas dan Naksir


Kamu suka melihat dia. Kamu suka tekstur suaranya. Kamu suka bagaimana dia menekan beberapa kata dalam menyampaikan maksud kalimatnya. Dan oh, kamu pun terpesona pada fakta bahwa bingkai kacamata menambah estetika pada wajahnya.

Kata Troye Sivan, only fools fall for you, only fools, only fools do what I do, only fools fall.

Saya sedang senang mendengar album Blue Neighbourhood karya cowok muda ini. Lagu-lagunya pop dreamy dan berbekal interpretasi English yang terbatas, saya merasa sebagian lagu di album ini bertema naksir-naksiran ala anak muda; bingung namun berbunga. Berbunga namun putus asa.

Troye yang... if you know what I mean... mungkin lebih bingung lagi dengan fase naksir-naksiran ini. Perasaannya untuk seseorang nggak umum dan nggak diterima pada sebagian tempat. Karena itu dia bilang dia capek dan berharap orang-orang berubah. Dia juga bilang masa yang dia alami yaa masa muda remaja lainnya juga. Identik. Coba dengar lagu Youth yang jadi pembuka perkenalan saya dengan karya Troye. Albumnya memang bermuatan orientasi seksual Troye yang... IYKWIM... selain bernafaskan jiwa yang (ingin) bebas layaknya anak muda. Simak lagu Wild dan rasakan nuansa kebebasan tiap kali sekelompok anak laki-laki bersorak di latar belakang.

Tapi bolehlah saya punya interpretasi sendiri. Meski muatannya jelas, namun kita masih bisa memaknainya secara universal.

Apakah saya masih muda? Ya. Tapi apakah saya masih remaja? Jelas tidak. Tapi mendengar Troye saat ini, terutama saat ia menyanyikan lagu Fools, saya merasa terwakili. Terasa relevan. Terasa punya soundtrack of life.

Saya merasa seperti abege lagi; mesem-mesem melihat orang ini. Saya senang melihat visualisasi orang ini; senyumnya, caranya berjalan dan bahkan polah jahil cenderung nakalnya. Ha! Bukankah seperti abege? Like a fool. Only fools do what I do.

Ini tidak rasional. Dan kenapa harus? Saya hanya lucu menjalani fase "berasa teeneger" lagi ini. Menikmati kepolosan (baca: kebodohan) karena terpikat visual seorang cowok di usia yang seharusnya mencari sosok suami ideal. Saya mestinya mengesampingkan tampilan luar dan gaya-gaya remaja tanggung demi rumah tangga yang adem nan tentram.

Ah, jangan terlalu serius. It's just really another crush, I guess, and nothing wrong about it, right? Mari nyanyi lagi...

Only fools fall for you
Only fools
Only fools do what I do
Only fool falls

Postingan populer dari blog ini

Film Filosofi Kopi... Sebuah Review dan Opini