Senin, 06 Februari 2017

Tentang Kriteria



Satu waktu, seorang cowok di kantor pernah bilang kalau dia menikah dengan si A nanti keturunan mereka bakal berkulit hitam. Menilik karakter cowok ini bisa diasumsikan bahwa ia hanya sedang meledek saja. Tapi, jika pun ada kebenaran-dan mungkin saja memang ada-di dalam ucapannya itu, sah-sah saja. Memang mengapa?


Di dunia yang menggembor-gemborkan inner beauty lebih penting ketimbang outer beauty, pemahaman semacam itu bisa dicap dangkal sekali. Don't judge a book by its cover, katanya.

Tapi tiap insan boleh punya perspektif atas apapun selama tidak mengganggu orang lain. Kalau seorang cowok memilih seorang cewek lantaran cewek itu berkulit putih, berambut panjang dan singset... memangnya kenapa? Memangnya tidak boleh? Bahkan Nabi menganjurkan untuk memilih wanita karena kecantikannya, di samping kriteria yang lain.

Kadang, kita suka larut dalam quotes lebih baik wajahnya jelek atau biasa tapi hatinya baik daripada wajahnya cantik tapi hatinya busuk. Yang mengagung-agungkan omongan semacam ini kemungkinan berwajah jelek. Hahaha. Quotes tersebut jadi semacam penghiburan atas wajahnya yang... ehm, kurang.

Saya hanya sedang berpikir manusia tidak sama dengan matematika. Perbandingan lurus (wajah jelek hati baik, wajah cantik hati busuk) tidak berlaku dalam ilmu karakter manusia. Manusia adalah makhluk yang bertumbuh seiring waktu. Manusia bukan robot dengan sistem saklek yang akan bergerak dengan modul yang sama sepanjang "hayat" si robot. Manusia bisa berubah dan bisa belajar. Yang dulunya jelek bisa merawat diri sehingga lebih enak dipandang. Yang dulunya pemarah bisa belajar untuk lebih sabar.

Kembali ke soal kulit hitam, sekali lagi saya bilang pemahaman semacam itu sah. Saya tidak membahas itu dangkal atau tidak, apalagi benar atau tidak, hanya saya bilang itu sah.

Seorang pria memilih wanitanya yang berwajah manis tapi manja dan kekanakan. Mengapa tidak? Manusia pasti punya sisi baik di dalam dirinya. Dan sekali lagi, manusia akan bertumbuh. Tidak selamanya seseorang akan begitu terus. Kata orang bijak, hubungan sempurna bukanlah tentang menemukan belahan hati yang sempurna, melainkan bertumbuh bersama berdua menuju hubungan yang baik.


Begitulah kira-kira.