Rabu, 22 Maret 2017

Review of Beauty And The Beast Movie 2017



Kemarin malam saya nonton film Beauty And The Beast (BTB) di Cinemaxx WTC Matahari Serpong berdua temen saya. Dan pendapat saya setelah selesai menonton film ini adalah bahwa kisah ini lebih baik digulirkan dalam medium animasinya saja.


Terus terang saya nggak tau cerita lengkap BTB. Masa kecil saya nggak lekat dengan karakter-karakter Disney. Palingan saya tau kisah Cinderella, Donald Duck dan Mickey Mouse. Tokoh-tokoh kayak Belle atau Sleeping Beauty nggak akrab bagi saya. Malah kedua cerita itu sering ketuker karena memang saya nggak tau jalan cerita keduanya.

Tapi, tanpa pengetahuan detil cerita, kita pasti bisa menyimpulkan melalui judul dan poster-poster bahwa premis ceritanya adalah tentang kisah cinta yang tak memandang fisik.

Karena nggak familiar itulah saya rada janggal waktu menonton thriller filmnya yang ada adegan cangkir dan teko bisa ngomong. Eh, seriusah nih? Tapi emang ternyata begitu ceritanya. Malahan soal perabotan yang bisa ngomong ini adalah bagian dari cerita. Jadi dikisahkan perabotan rumah tangga ini dikutuk penyihir karena mulanya mereka adalah manusia, seperti halnya Beast yang dikutuk jadi makhluk buruk rupa. Dan kutukan mereka hanya akan berakhir jika ada seorang perempuan yang mencintai Beast dengan tulus.


Jadi, apa film ini bagus dan recomended?

Lucunya, sebelum nonton saya jadi low expectation sama akting Emma Watson (Belle). Soalnya kata temen saya yang udah nonton duluan akting Emma masih kurang greget. Saya jadi merhatiin banget akting cewek ini. And FYI saya juga belum pernah nonton film Emma yang lain. I am not Harry Potter fans, honestly.

Dan memang bener. Nggak ada yang bener-bener spesial di sini mengenai Emma. Ya dia cantik, suaranya bagus, tapi... ya udah, gitu aja. Oh ya, tentu aja Emma merepresentasikan karakter Belle yang kutu buku. Realitanya aktris satu ini memang terkenal dengan prestasinya di bidang akademik, selain di bidang seni peran. Peran Belle sesuai banget buat Emma. Tapi mungkin karena BTB adaptasi dari animasi dan ceritanya sudah pakem dari sananya, plus memang katanya pihak studio nggak akan merubah banyak dari medium asli, maka nggak ada ruang untuk bereksplorasi lebih. Yaa apa lagi coba yang mau dilakukan? Dua hal yang Emma lakukan demi mempersiapkan peran ini mungkin hanya belajar dansa dan olah vokal.

Dan ngomong-ngomong soal dansa dan olah vokal, beberapa adegan musikal di film ini terasa begitu membosankan bagi saya. Durasinya kelamaan. Plus saya juga nggak familiar dengan lagu-lagunya. Apalagi pas adegan nyanyi sebelum Belle makan malam, anjiiiir lama banget!

Yang menarik dari Belle, yang sepertinya disisipkan secara tersirat, adalah karakter Belle yang agak sembrono. Seinget saya dua kali rok Belle tersingkap (atau nyempil?) ke bagian atas. Celana dalaman Belle yang berwarna putih-biru jadi kelihatan. Dan oh, tentu aja aksen British Emma yang kentara banget, betapapun setting cerita di pedesaan Perancis. Hehehe.

Semalem saya sempet sedikit browsing tentang BTB. Dan saya setuju dengan garis besar review-nya bahwa alih-alih menceritakan perasaan cinta yang mampu melampaui tampilan fisik, BTB justru bercerita tentang "penjinakkan" perempuan terhadap lelaki menyebalkan. Ya sih si Beast memang (di dalemnya) berhati baik. Tapi sebelumnya si Beast menyebalkan; suka bentak-bentak dan emosian. Ya kali ah kayak di drakor yang meskipun aktor utamanya berkarakter songong, angkuh, nyebelin tapi tampang oke punya. Hahaha.


Dulu pernah saya baca artikel yang mempertanyakan mengapa Disney malah mulai mengangkat lagi kisah putri-putri setipe Cinderella dan Belle, yang notabene stereotip wanita lemah yang menggantungkan kebahagiannya di tangan seorang pria (baca: pangeran kaya). Setelah Mulan dan Frozen yang lebih tentang tekad menggapai tujuan, mengapa putri-putri ini lagi yang dimunculkan? Bukankah ini kemunduran? Kenapa malah mengangkat lagi dongeng-dongeng yang "meninabobokan" anak perempuan dengan impian menggaet pangeran kaya demi mencapai kebahagiaan?

Pada akhirnya, seperti yang saya sebutkan di awal, BTB lebih baik dalam medium animasi saja. Beberapa adegan gallant khas kisah kerajaan terasa kurang greget di versi live action-nya. Begitulah.

Gue dan Hallyu... (Part 2 : Kpop)

Beberapa minggu sebelum ke Bali, entah dapet ilham dari mana, gue mulai browsing soal Lalisa Manoban. Ujung-ujungnya gue menonton...