Jumat, 07 April 2017

Terganggu Spoiler Novel Critical Eleven



Aldebaran Risjad (Ale) dan Tanya (Anya) bertemu pertama kali di pesawat menuju Sidney. Berawal dari pertemuan tak sengaja itu keduanya akhirnya menjalin kasih sampai ke jenjang pernikahan. Kehidupan cinta mereka sangat romantis meskipun kerap tinggal berjauhan; Ale di New Orleans dan Anya di Jakarta.


Setelah lima tahun menikah akhirnya keduanya dikarunai seorang bayi laki-laki. Sayangnya Aidan, bayi mereka, sudah meninggal ketika dilahirkan. Tragedi itulah yang menjadi awal keretakan rumah tangga Ale dan Anya yang membawa mereka pada pertanyaan-pertanyaan tentang keputusan yang pernah mereka ambil.


Spoiler

Mungkin gue emang mulai harus membebaskan diri dari segala spoiler sebelum membaca buku ataupun sebelum menonton satu judul film. Karena udah tau "bocoran" di awal bikin gue nggak independen dalam memberikan pendapat.

Contoh kasusnya adalah novel Critical Eleven (CE). Tau yang bakal main Reza Rahadian dalam medium film, gue udah netapin bakal nonton sejak jauh-jauh hari. You know Reza. Jaminan kualitas. Plus bukunya happening di mana-mana. Bolehlah ngeluarin uang 25 ribu buat nonton di Cinemaxx nanti kalau udah tayang. Sementara buat baca bukunya sendiri belom antusias.

Tapi Jum'at kemaren abis makan siang gue mampir ke Gramedia bareng temen-temen. Pas lagi liat-liat buku Ika Natassa yang sampulnya putih, temen gue langsung nunjuk ke buku CE di sebelahnya. Bagus, katanya merekomendasi. Singkat cerita gue mau dipinjemin novel CE sama temen gue itu.

Udah sejak lama gue browsing review buku CE. Yang paling cetar jelas review di Goodreads urutan paling atas. This book is a joke, she writed. Apa pasal? Karena buku ini, yang konflik utamanya adalah keguguran anak, malah tidak menarasikan fisik si ibu. Padahal menurut wanita yang katanya pernah mengalami kejadian yang sama dengan Anya ini, wanita yang melahirkan bayi di usia kandungan 9 bulan tapi bayinya meninggal akan berjuang menangani tubuhnya yang terus memproduksi ASI terlebih dahulu, alih-alih mengubur diri dalam duka dan membawa-bawa kaos kaki anaknya kemana-mana.

Apakah hal ini akan terlintas di kepala gue pas baca CE jika sebelumnya nggak mencari spoiler di Goodreads? Gue sangsi. Hal ini logis sih, tubuh ibu akan tetap memproduksi ASI terlepas anaknya hidup atau tidak. Jangankan ASI-nya tidak diminum si bayi, telat memberikan ASI saja payudara ibu akan bengkak, nyeri dan meneteskan ASI terus. Jadi struggling menghadapi tubuh sendiri dalam hal ini memang logis. Tapi gue yang rada lemot mungkin nggak kepikiran cepet. Hahaha.

Dan ya, meskipun ini hasil spoiler, soal kondisi tubuh si ibu ini yang failed banget. Dalam review yang sama seseorang membantah kalau sebenarnya Anya keguguran di usia kandungan 4 bulan. Apakah sudah direvisi di cetakan-cetakan selanjutnya? Entahlah, yang gue baca sepertinya edisi awal. Tapi kalau pun benar, akan ada banyak sekali revisi. Nggak bisa begitu aja mengganti angka 9 jadi 4. Ceritanya pasti akan berubah banyak. Nggak akan ada cerita bayi Aidan nendang-nendang di dalem perut seperti yang banyak diceritakan di buku ini. Janin 4 bulan kayaknya belom bisa nendang-nendang. Bahkan mungkin jenis kelaminnya pun belom ketahuan.

Yang agak maksa berikutnya (hasil spoiler juga) adalah karakter relijius tokoh Ale, dan mungkin juga Anya. Tadinya pas pertama baca soal "lapor Bos Besar", gue belom kepikiran bahwa yang dimaksud adalah shalat. Baru di lembar berikutnya gue ngeh. Gue itung-itung juga pas, ada lima waktu Ale lapor ke Bos Besar. Bagian yang maksa adalah karena ada dualisme soal sisi relijius ini. Ale dan Anya picky soal halal food, mau ke luar negeri mana aja mesti halal food, trus Ale juga pernah ijin ke mushala di tengah acara kencan mereka. Tapi di sisi lain mereka melihara anjing yang sering dipeluk-peluk dan minum wine. Apa nggak janggal?


My own opinion

Setiap genre itu ada formulanya. Termasuk genre metropop. Pilih seorang wanita karir cantik yang independen namun charming, lalu pasangkan dengan seorang pria jetset berwajah ganteng nan misterius, agak pendiam tapi romantis. Singkatnya, hidupkan heroine yang bikin cewek (target pembaca Metropop) pengen seperti dia dan punya pasangan se-perfect sang hero.

Gue nggak masalah sih dengan formula-formula baku semacam ini yang mungkin memang banyak hadir di genre sejenis (dan termasuk teenlit mungkin). Gue orang yang berpikiran ide boleh biasa dan umum, tapi cara penceritaanlah yang menentukan. Walau dari genre Chicklit (setipe dengan Metropop, atau bahkan sebenarnya versi luar negerinya) yang sering gue baca justru seringnya menampilkan heroine yang unik, alih-alih cantik mempesona. Beberapa chicklit luar yang pernah gue baca justru biasanya sang heroine is a nobody; tampang biasa, agak kikuk, payah dalam hubungan cinta dan tiap hari ngeluh soal pekerjaannya yang mandeg. Sementara hero-nya nggak mesti pangeran tajir yang ganteng luar biasa. Seksi dan cute biasanya adalah karakter si hero. The truth is genre ini adalah favorit gue. Gue menikmati saat heroine meracau tentang apa saja; tentang kencan yang berantakan atau tentang bos mereka yang seperti Cruella de Vil.

Lebih khusus lagi, dalam hal novel Ika Natassa, sepertinya formula beginilah yang selalu dipakai. CE adalah novel Mbak Ika pertama yang gue baca, jadi gimana gue bisa nyimpulin begitu? Gampang. Dari review Goodreads. Hahahaha.

Sejujurnya, karena gue kurang pengetahuan soal branded-brandedan, gue jadi nggak fokus ke masalah itu. Gue bahkan baru tau kalau Mothercare itu toko perlengkapan bayi yang mehong. Lucunya, gue yang udah namatin CE semaleman, urung ngembaliin bukunya ke temen gue dan malah baru balikin lusanya. Alasannya? Gue mau googling brand yang tercantum di buku itu dulu: sepatu Louboutin yang bikin Ale spontan beristighfar waktu tau harganya dan cincin Frank & Co yang katanya setara biaya DP rumah.

Gue sebetulnya nggak masalah sama hal itu walau ya, wow, tajir nian si Ale ini. Di waktu luangnya sebelum ketemu Anya, Ale hobi traveling kemana-mana, trus dia bangun rumah gede yang bahkan biaya bangunnya mesti kredit ratusan juta lagi, pas ngelamar pake cincin berlian seharga DP rumah, pas nikah maharnya seratus gram emas... tajir mampus banget, kan?

Yang bikin gue terganggu di buku ini, pertama, narasi berbahasa Inggris. Sekali-dua kali okelah, tapi kalau berpanjang-panjang kan males. Apa nggak bisa di-Bahasa-kan? Puyeng juga baca huruf miring-miring banyak-banyak.

Kedua, footnote. Gue pernah baca Chicklit dengan heroine berkebangsaan India dan di bukunya banyak footnote untuk menjelaskan istilah-istilah lokal. Wajar bagi gue. Tapi di buku CE? Gue kurang bisa memahami kepentingan si footnote yang lumayan banyak tersebut. Gue akan lebih nyaman jika definisi yang dimaksud ditulis aja dalam narasi dan bukannya di footnote. Dengan kemampuan menulis novelisnya, masa sih nggak bisa dibikinin narasi aja?

Ke tiga, karakter yang begitu sering menghakimi diri sendiri. Mulut tolol gue, pembunuh anak sendiri... ah, lelah hayati. Terlalu sering diulang. Gue nggak akan mendebat pemicu masalah mereka yaitu ucapan Ale, yang sampe bikin Anya mendiamkan suaminya setengah tahun lamanya. Bagi gue yang verbal pun bisa berefek gawat banget. Baru-baru ini bahkan sempet viral tentang seorang suami di Jepang yang mendiamkan istrinya belasan tahun karena dianggap tidak lagi memperhatikan dirinya. Tigger-nya bisa apa aja. Cuma yaa itu penghakiman diri mereka sendiri yang gawat banget sampai kayaknya Anya lupa untuk mempertimbangkan bahwa selama ini Ale treats her well.

Ke empat, tempat-tempat di New York yang Ale dan Anya singgahi. Gue baca cepet part ini dan hasilnya nggak inget nama lokasi lain kecuali Times Square. Kalau ada yang bilang di buku ini Mbak Ika seakan memamerkan pengetahuannya (atau pengalaman sendiri?) tentang New York, gue mesti setuju. Sepertinya ambisi banget memasukkan semua nama tempat yang beken-beken, yang bikin pembacanya mupeng dan berharap dapet suami kayak Ale juga biar bisa diajak jalan-jalan ke NY.

Lalu ada sekian buku, film dan deretan quotes yang ditulis sebagai referensi. Soal related atau tidaknya ya bisalah diatur, Mba Ika pandai bercerita kok. Walau begitu sampai di halaman-halaman terakhir, gue merasa buku ini terlalu cerewet bercerita ini itu. Entah efek gue bacanya menjelang dini hari dan udah ngantuk-ngantuk atau bukan.

Pada akhirnya, gue ngasih bintang empat dari segi penceritaan Mba Ika. Enak, ngalir, lancar. Bagian yang paling gue suka adalah waktu adegan di Benhill waktu Ale ngasih tau kalau cemilan favoritnya adalah kacang atom. Lucu!


The movie

Membaca buku ini setelah pemberitaan akan filmnya tentu mengurangi daya imajinasi. Tiap gue baca pasti yaa langsung ngebayangin Reza sebagai Ale dan Adinia Wirasti sebagai Anya. Dan harus gue katakan gue malah berpikir Dian Sastro lebih pas meranin Anya. Sosok Anya kan digambarin cantik pake banget. Bukannya Asti nggak cantik loh ya, tapi yang gue tangkep dari bukunya ya karakter Anya ini yang cantiknya mutlak. Model Dian gitulah. Karena menurut gue Asti itu lebih ke definsi berkarakter. Cantiknya seksi dan berkarakter. Liat aja pas dia jadi Dinda di film Kapan Kawin?, bukan sekedar cantik menurut gue. Lebih tepatnya seksi.

Tapi kalau dari segi akting, gue nggak bakal raguin Asti lah. Udah oke banget dia sih. Apalagi Reza. Yahh, udah high expectation gitu deh. Trus pas gue baca ada karakter tambahan yaitu Donny yang diperanin Hamish Daud. Versi film kemungkinan akan dibikin sedikit berbeda dari adaptasi. We'll see!

Gue dan Hallyu... (Part 2 : Kpop)

Beberapa minggu sebelum ke Bali, entah dapet ilham dari mana, gue mulai browsing soal Lalisa Manoban. Ujung-ujungnya gue menonton...