Selasa, 14 Agustus 2018

Review Drama Korea Miss Hammurabi



Kayaknya saya cocok nih nonton drama-drama JTBC. Setelah Sketch, saya juga nonton drama Miss Hammurabi yang tayang di JTBC setiap Senin-Selasa dari tanggal 21 Mei sampai dengan 16 Juli 2018 dengan jumlah episode sebanyak 16. Drama bertema hukum ini ditulis sendiri oleh Moon Yoo Seok yang berprofesi sebagai hakim. Miss Hammurabi diangkat dari novel berjudul sama yang ditulis oleh Moon Yoo Seok pula. Konon drama ini sangat populer di Korea karena mengangkat hal-hal yang sesungguhnya terjadi di dunia peradilan negara tersebut. Cerita yang ditulis oleh profesional yang benar-benar pernah menjalani profesi yang dikisahkan memang beda ya. Sangat meyakinkan dan “asli”.   
   

Sinopsis Singkat


Im Ba Reun (diperankan oleh Kim Myung Soo/L Infinite) bekerja sebagai hakim pembantu di pengadilan kasus pidana. Setelah beberapa waktu Ba Reun dipindahkan ke pengadilan kasus perdata. Pada hari pertama di departemen baru ia bertemu dengan seorang gadis yang pernah ditaksirnya semasa SMA yaitu Park Cha Oh Reum (diperankan oleh Go Ara). Tapi Oh Reum yang dulu diingat Ba Reun sangat bertolak belakang dengan sosok Oh Reum yang sekarang. Oh Reum semasa SMA adalah gadis pendiam dan cenderung penakut, sementara Oh Reum yang sekarang adalah sosok percaya diri yang tak segan membela kebenaran. Dalam perjalanan mereka ke pengadilan negeri menggunakan kereta, Oh Reum menghentikan peristiwa pelecehan seksual yang dilakukan seorang professor. Video saat Oh Reum menghajar si professor itu tak dinyana menjadi viral di masyarakat, tak terkecuali di lingkungan pengadilan.

Rupanya Ba Reun dan Oh Reum bekerja di departemen yang sama yaitu Departemen 44. Mereka menjadi hakim pembantu untuk hakim majelis yang terkenal nyeleneh namun bijaksana bernama Han Se Sang (diperankan oleh Sung Dong Il). Dalam menyelesaikan kasus, ketiganya dibantu oleh seorang panitera perempuan yang sangat dinamis dan kompeten namun misterius bernama Lee Do Yeon (diperankan oleh Lee Elijah). Selain itu ada beberapa panitera lain dan seorang sekuriti perempuan yang turut membantu di pengadilan. Departemen 44 juga sering diramaikan oleh Jung Bo Wang (diperankan oleh Ryu Deok Hwan), teman SMA Ba Reun yang kini menjadi hakim pembantu pula. Bo Wang adalah seseorang yang pandai bergaul dan pandai mengambil hati para hakim senior. Ia juga merupakan sosok yang tahu segala hal yang terjadi di pengadilan.

Dunia peradilan tak seindah, dan bahkan tak seadil yang dibayangkan. Oh Reum memutuskan menjadi hakim karena ingin mengubah wajah pengadilan yang tajam ke bawah, tumpul ke atas. Namun bagi Ba Reun, rekan kerjanya itu tak realistis. Dengan sinis Ba Reun berkata ia menjadi hakim semata untuk mencari nafkah. Tujuannya menjadi hakim karena ingin memperoleh pekerjaan yang tidak bisa dipecat secara pihak.

Kasus perdana yang ditangani trio hakim Departemen 44 bukan kasus besar dan mencekam seperti umumnya kasus pidana. Kasus yang mereka tangani umumnya tentang perselisihan antar saudara, sengketa tanah, kontrak kerja, pelecehan seksual dan mal praktik. Oh Reum sering mendapati dirinya terbawa oleh setiap kasus. Seperti kata Ba Reun, Oh Reum cenderung menjadikan setiap kasus sebagai masalah pribadi. Ba Reun bilang dengan sikap seperti itu Oh Reum tak akan bertahan lama menjadi hakim. Sebenarnya, Oh Reum bahkan pernah menjadi korban pelecehan seksual. Karena itulah Oh Reum menjadi sangat sensitif jika berurusan dengan kasus pelecehan seksual serta kasus yang melibatkan wanita. 

Selain menghadapi kasus yang sering kali sulit diputuskan secara adil dan menyenangkan semua pihak, Oh Reum juga menemukan ketidakadilan di lingkungan pengadilan itu sendiri. Ia melihat sesama hakim yang digencet hakim majelisnya agar segera naik jabatan, hakim yang terkenal bijaksana namun rupanya tersangkut kasus penyuapan, hakim senior yang senang cari muka, hakim senior yang suka mencuri ide hakim junior,  dan hakim ketua yang sangat mementingkan martabat pengadilan.

Setelah menangani banyak kasus dan sering memprotes pengadilan serta mengambil tindakan-tindakan berani yang cenderung kontroversial, Oh Reum menjadi salah satu hakim yang terkenal. Ia merepresentasikan seorang feminis sejati yang membela hak-hak perempuan. Saat menangani kasus pembunuhan seorang suami yang sering menganiaya istrinya, publik mencerca Oh Reum dan mengatakan bahwa putusan sudah jelas: Oh Reum pasti membela si istri.


Realistis Sejak Episode Pertama


Sejak episode pertama, drama Miss Hammurabi sudah mengetengahkan hal-hal yang asli, sesepele bahwa faktanya hakim di Korea sudah tidak lagi menggunakan palu saat memvonis sebuah kasus. Sepele, namun makin membuat drama ini tampak tidak mengada-ada. Apalagi kasus yang diambil adalah perdata (meski beberapa kali diceritakan Departemen 44 mendapat limpahan kasus pidana). Tahu sendiri kan kalau kasus pidana paling mudah di-blow up untuk mendapat efek dramatis dan bombastis. Hmm, saya selalu suka hal-hal yang bersahaja, terutama, maaf, di drama Korea yang seringkali suka terlalu menonjolkan diri sendiri, golongan atau negaranya.

Kim Myung Soo pas banget membawakan karakter Ba Reun yang sinis, namun sebenarnya sangat realistis dan menjunjung prinsip. Saya paling suka monolog dari karakter Ba Reun di episode-episode awal. Ia bicara dengan nada sepi tentang bagaimana manusia hanya mementingkan dirinya sendiri. Ia sendiri tumbuh dari keluarga jomplang, di mana ibunya sibuk ke sana kemari mencari nafkah sampai terkadang harus merendahkan diri sendiri demi memperoleh bantuan dari keluarganya untuk pendidikan Ba Reun, sementara ayahnya adalah mantan jurnalis yang sejak dipecat sering mabuk-mabukan. Bagi Ba Reun, ayahnya hanyalah orang yang suka sok berintegritas dan berlagak ingin menjadikan bumi menjadi tempat yang lebih nyaman untuk ditinggali. Kenyataannya, ayahnya hanya orang yang sibuk bermimpi sementara orang lain bekerja keras menggerakkan roda kehidupannya sendiri. Ada satu kalimat nyelekit yang disampaikan Ba Reun ke ayahnya yang kira-kira isinya begini, “Dunia ini dibangun oleh orang-orang yang bekerja keras selagi orang-orang seperti ayahnya hanya sibuk berandai-andai.”

Kalau dari beberapa review yang saya baca bilang kalau Miss Hammurabi bikin boring di episode-episode awalnya, saya justru bilang episode-episode perdananya adalah yang juara. Kocak waktu ketiga hakim pusing duluan sewaktu penggugat dan tergugat malah berantem di ruang pengadilan. Sewaktu Oh Reum mengajak Ba Reun dan Bo Wang ke pasar juga jadi adegan yang lucu banget. Dari sini Oh Reum mau memberitahu bahwa pelecehan seksual terjadi karena superioritas pelakunya, makanya korban bisa saja laki-laki, nggak mesti perempuan. Dan meski cuma kata-kata godaan dan lirikan mesum pun, jika si korban tidak merasa nyaman, sudah bisa dikategorikan sebagai pelecehan seksual. Sayangnya, seperti yang terjadi di Indonesia pun, pelecehan seksual masih sering dianggap sepele.

source


Karakter favorit saya salah satunya adalah si socialable Jung Bo Wang. Kocak, apalagi kalau lagi adu mulut sama Ba Reun. Interaksi dan kisah cintanya dengan Lee Do Yeon pun menghibur. Ada satu kalimat dari Do Yeon yang nyess buat saya karena kurang lebih related dengan kehidupan saya. Waktu itu ceritanya si Do Yeon nanya ke Bo Wang tentang apa yang membuat Bo Wang tertarik padanya. Dan waktu Bo Wang bilang karena Do Yeon cantik dan mempesona, si Do Yeon agak sebel tapi kemudian bilang, “setidaknya itu ungkapan yang tulus”. Wah!

Duh!


Tentang Dunia yang Ideal

source

Miss Hammurabi punya tiga pilar besar, yaitu hasrat (diwakili sosok Park Cha Oh Reum), prinsip (diwakili sosok Im Ba Reun) dan kebijaksanaan (diwakili sosok Han Se Sang). Ketiganya memilki tujuan yang sama, yaitu mendapat putusan yang adil. Namun ketiganya sering berbenturan karena perbedaan cara pandang ini.

Kalau di drama My Ahjussi, IU bilang bahwa dramanya berbicara tentang realita yang terjadi, dan bukan hendak mengawang-awang penonton dengan ide “begini loh seharusnya hidup itu”, maka di Miss Hammurabi berbicara tentang “begini loh idealnya dunia peradilan itu”. Di satu sisi, drama ini ingin mengobarkan semangat bahwa kalau nggak ada yang mulai bicara yang benar, mau kapan lagi? Mau situasi pengadilan tetap berat di pihak yang punya kuasa terus? Tapi di sisi lain, melihat realitanya, drama ini—terutama di episode-episode pamungkas—memberi ide tentang bentuk ideal suatu dunia peradilan yang memang utopis.

Awal-awal saya merasa drama ini keren banget. Saya nggak peduli minim love line dari leads-nya. Tapi makin jauh saya justru merasa kurang sreg dengan ceritanya. Villain-nya dibikin hitam banget; pokoknya nggak ada cela untuk menunjukkan bahwa dia juga manusia. Sementara itu karakter Ba Reun sebetulnya sudah agak bias juga kan memandang suatu masalah, karena perasaan sukanya terhadap Oh Reum? Pandangan Ba Reun menjadi kabur, dan bagi dia apapun yang dilakukan Oh Reum sudah pasti benar.

Dan asli kalau ada sosok Oh Reum di dunia nyata, dia itu termasuk orang yang nyusahin nggak sih? Dalam beberapa kesempatan Oh Reum memang diomelin Han Se Sang karena lebih suka pakai perasaan daripada nalar, tapi belakangan semua orang dukung dia. Pokoknya pandangan dia yang paling benar. Ya, mungkin memang benar, dan itu kan salah satu pesan yang ingin disampaikan drama ini bahwa kalau bukan sekarang kita menegakkan keadilan dan menyingkirkan kekeliruan dengan alasan “sudah terbiasa”, lalu kapan lagi? Tapi efek dari tindakan penegakkan keadilan nan berapi-api ala Oh Reum merembet kemana-mana, dan nggak jarang malah nyusahin orang yang berusaha ditolongnya. Apakah setiap penyimpangan harus di-blow up terus?

Seperti pendapat Knetz tentang drama ini yang pernah saya baca, karakter Ba Reun adalah yang paling nyata. Ba Reun punya prinsip tersendiri, dan meski dia bukan tipe yang senang menolong orang lain, tapi dia berusaha supaya lingkungannya nggak sedikit pun mengubah prinsip yang dipegangnya. Sounds real, right? Dan ya ampun, emang orang Korea itu kerja lembur bagai quda banget yaa. Kerja lembur sampe tengah malem, trus kadang-kadang masih lanjut minum-minum dulu. Ddabong!!


Recommended?

Saya nonton Miss Hammurabi secara on going alias nungguin dengan sabar setiap minggu. Salah satu yang keren dari drama ini—dan saya mulai berpendapat inilah salah satu keunggulan drama keluaran JTBC—adalah original sountrack-nya. Waktu pertama kali denger dan mengiringi monolog sepi dari Im Ba Reun, saya langsung jatuh cinta sama lagunya.

“It’s all right, it’s all right, oh please don’t say you’re sorry.”

Kenapa ya, mendengar seseorang bilang ke kita bahwa “nggak apa-apa” —it’s fine, it’s all right, it’s okay—itu melegakan banget? Bahkan dari sebuah lagu yang kalau didengar lagi tiap liriknya bukan mutlak tentang orang yang lagi bilang “nggak apa-apa” ke orang yang hidupnya lagi berantakan berat. 

“Nggak apa-apa, sis, hidup memang pahit. Nggak apa-apa. Nggak harus kok jadi orang yang tegar mulu. Nggak apa-apa sesekali merasa marah. Itu manusiawi. Kamu sudah berbuat banyak. Kamu sudah bekerja keras.”

Hah.

Tsah.

Emosional kalau sudah ada yang bilang "it's all right" di latar belakang.

So? Saya suka kok drama ini. Bagus, walau ya itu tadi, belakangan cukup menyebalkan. Hehehe. Selamat menonton!  


  

2 komentar:

  1. Setujuu banget, agak terganggu dengan karakter utama ceweknya dari episode awal. Merasa dia egois banget gitu membela dengan membabi buta tanpa liat dampak buat yg lain

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo. Terima kasih sudah mampir dan meninggalkan komentar.

      Hapus