Dalam salah satu konseling yang dilakukan Byeon Eun-ah di We Are All Trying Here, ia menamai sebuah emosi yang ia rasakan sebagai tindakan merusak diri sendiri alias self destruction.
Saya mencoba mengingat-ingat, dan rasanya memang inilah yang saya rasakan sedekade lalu: perasaan takut dan khawatir tentang angka awal umur saya. Dulu saya bahkan terinspirasi menulis novel "Sebelum 30" yang sedikit banyak mencurahkan kegelisahan saya ketika akan menginjak umur kepala tiga tanpa pencapaian berarti. Sedihnya, sepuluh tahun kemudian, saya merasakan hal yang sama. Kegelisahan dan ketakutan yang sama. Atau bisa saja lebih buruk.
Sebetulnya, saya tidak terlalu yakin tentang apa yang saya inginkan dan putuskan hari ini akan masih saya inginkan di masa depan. Misalnya, usai sakit di kepala beberapa bulan lalu saya mengatakan kepada diri sendiri bahwa saya akan menyisihkan waktu dan uang untuk jalan-jalan paling tidak sekali dalam empat bulan. Tapi liat hari ini, saya masih merasa belum sepenting itu merencanakan trip selanjutnya. Selain, tentu saja, DARI MANA UANGNYAAAA???
Atau yang belum lama ini berputar di kepala saya, bahwa saya akan pergi ke Singapura atau Hongkong untuk jadi pembantu rumah tangga. Hari ini? Well, yah, saya masih menyimpan "keberanian" tersebut sebagai amunisi cadangan kalau-kalau keadaan memaksa saya begitu. Tapi hari ini saya berpikir, jika ada opsi lebih baik, tentu saya akan memilih hal lain saja.
Hal lain lagi adalah untuk mencari kontrakan dekat kantor. Usai sakit berturut-turut, saya sungguh ingin mewujudkannya. Dan ya, saya mau saja, tapi mengingat keterbatasan dana yang membuat pilihan tipe kontrakan turut menyempit, saya kira saya harus benar-benar menimbang dan memikirkannya seribu kali lagi.
Beberapa hari belakangan ini saya sedang berpikir, limitnya adalah Lebaran tahun depan. Ada semacam bursa kerja Asia di sekitaran Februari. Saya ingin mencobanya. Mungkin, dalam pikiran saya sekarang, itu adalah tembakan terakhir saya untuk tetap berada di dunia finansial perusahaan. Jika meleset, saya ingin keluar gelanggang saja, alias menyerah.
Saya sudah ada di lingkup ini belasan tahun, dan tidak atau belum ada kemajuan. Pernah satu kali, tapi setelah itu, alih-alih naik kelas, saya malah terguling jatuh lagi ke jenjang bawah. Saya merasa saya mampu dan sekarang sudah banyak belajar dari pengalaman untuk setidaknya menjabat posisi supervisor. Tapi kesempatan paling dekat, satu interview yang makan waktu―interview yang membuat saya harus mendengar cerita ayah si pewawancara selamat dari Covid hanya dengan berjemur dan minum herbal sedangkan mama saya pergi saat itu―sudah tiga minggu tak ada kabar lagi. Jabatannya supervisor, dan saya sudah membayangkan akan begini-begitu dengan nominal gaji yang bertambah. Dan oh, barangkali ini sedikit picik, tapi saya juga membayangkan pandangan seorang teman saya ketika akhirnya kam "setara" lagi.
Tapi bahkan untuk mengemban tugas akunting saja saya belum kebagian juga. Walhasil, saya mundur teratur di hadapan lowongan kerja sebagai akuntan. Tidak berani. Saya tidak bisa bilang saya bisa membuat laporan keuangan, neraca laba-rugi, atau budgeting. Saya mampu, walau saya juga sadar saya tidak sehebat itu. Faktornya, salah satunya, karena belum dapat kesempatan untuk membuktikan diri. Jujur, saya ingin menapak sampai ke posisi chief atau manager departemen keuangan. Tapi, melihat realita―kemampuan diri dan bagaimana pasar lowongan kerja sekarang ini―saya semakin ragu bisa mencapainya.
Jadi, awal tahun depan mungkin adalah batasnya. Saya sedang berpikir untuk nekat berhenti kerja. Hiatus. Menyerah. Melambaikan bendera putih pada dunia finance, accounting and tax.
Sedikit banyak saya merasa saya punya tendensi untuk bersikap impulsif dan mental "all or nothing". Saya sedang berpikir untuk berhenti kerja meski nantinya belum ada pengganti di tengah kondisi meningkatnya angka pengangguran seperti sekarang. Saya sedang berpikir untuk nekat dan mensabotase hidup sendiri. Lagipula, setelah belasan tahun bekerja korporat tanpa jeda, tidakkah saya berhak untuk hiatus sejenak? Yahh, walau siapa yang tahu berapa lama waktu "sejenak" itu. Mau apa saya setelah itu? Mau bagaimana caranya menghidupi diri sendiri? Self destruction.
Tahun depan, angka awal umur saya akan berubah jika Allah memberi saya umur. Saya membayangkan, sama halnya seperti kesempatan menapakai jenjang karier, kemungkinan membina rumah tangga pun semakin menipis. Tentu, jika saya mau menerima sembarang lelaki, minggu depan pun saya sudah pasti bisa duduk di depan penghulu. But, what's the point? Tindakan merusak diri tipe yang ini rasanya bukan yang akan saya lakukan.
Belakangan, hal-hal inilah yang memberatkan hati saya. Saya sedang berpikir untuk membanting karier yang tidak seberapa ini ke tanah manakala tak ada kesempatan untuk meningkatkannya. All or nothing. Tapi, sekali lagi, belajar dari pengalaman, saya tidak bisa terlalu yakin tentang yang saya inginkan hari ini masih akan saya inginkan di masa depan.
*sambil mendengar Hindia - Berdansalah, Karir Tak Ada Artinya

Tidak ada komentar:
Posting Komentar