Rabu, 11 September 2013

GLASS RELATIONSHIPS


Ada sepasang suami istri yang tinggal di Ibukota Jakarta. Mereka memiliki harta yang cukup bahkan berlebih dari hasil usaha jual-beli barang elektronik. Mulanya usaha tersebut dirintis oleh sang suami semenjak ia lajang, dan begitu menikah, sang istri pun diberi bagian untuk ikut andil mengembangkan usaha tersebut.
Belakangan, menurut beberapa karyawan mereka, sang istri justru lebih banyak berperan. Urusan menangani klien bermasalah, deal kontrak, nego-nego sampai urusan pinjam uang di bank dilakoni si istri. Dokumen-dokumen perusahaan pun mencantumkan nama si istri sebagai penanggungjawab. Sementara sang suami lebih concern ke urusan internal perusahaan. Sedikit pun tak ada dokumen perusahaan yang memakai nama si suami. Pendek kata, ia ‘bersih’ dari segala resiko yang mungkin saja menimpa perusahaan, misalkan dokumennya bermasalah dengan dinas perpajakan. Menurut bisik-bisik di kalangan karyawan, semua bermuara pada trauma sang suami yang pernah dikirim bermalam satu hari di hotel prodeo oleh seorang pegawainya yang sakit hati. Dugaan ini diperkuat oleh satu kejadian beberapa waktu lalu, di mana seorang pegawainya yang lain lagi juga memendam dendam karena diberhentikan sepihak hingga orang itu mengadu ke Dinas Ketenagakerjaan. Sang suami langsung menutup akses untuk orang lain menghubungi dirinya: menonaktifkan ponsel dan berpesan kepada semua karyawan untuk mengatakan dirinya tidak sedang di kantor jikalau ada yang menelpon. Sementara itu, sebagaimana telah biasa, sang istri lah yang menghadap ke kantor Dinas Ketenagakerjaan.

Kita menduga bagi si suami, istrinya adalah kesayangannya. Tidak hanya melahirkan anak-anaknya namun turut andil dalam memajukan perusahaan. Tidak, tidak. Kenyataannya tidak seindah itu. Istrinya justru jadi bulan-bulanan si suami. Sebagian karyawan yang melihat interaksi keduanya setiap hari menyimpulkan si istri dimanfaatkan habis-habisan oleh suaminya. Bagaimana tidak, jika pinjaman bank tidak turun atau mentok, si suami akan menyuruh si istri untuk meminjam ke orangtuanya.

Tidak sampai di situ. Jika si istri melakukan kesalahan, sudah barang tentu ia akan jadi sasaran cacian si suami. Hujatan ‘bodoh’ atau ‘goblok’ sudah sering dilontarkan si suami pada si istri. Beberapa di antaranya bahkan dilontarkan di depan karyawan dan, bahkan, di bank!

Sebenarnya, si suami tidak benar-benar antagonis. Beberapa karyawan bahkan justru lebih menghormati dirinya ketimbang istrinya. Karena memang sikap si suami terhadap karyawannya lebih berlogika; tak salah tak dimarahi, walau jika marah akan tetap keluar segala isi kebun binatang dari mulutnya. Berbeda dengan istrinya yang cerewet, rempong, labil dan gampang panik. Tak terhitung berapa kata hinaan yang dilontarkan para karyawan ke si istri. Beberapa karyawan yang sering melihat keseharian si istri mengatakan si istri bisa menjadi menjengkelkan seperti itu tak lepas dari tekanan si suami.

Di mata keluarga, keduanya adalah keluarga ideal dengan sepasang putra-putri yang sehat. Di mata karyawan, pernikahan mereka tak lebih dari status. Yang satu adalah karyawan bagi yang lain. Terkadang bahkan lebih mirip budak. Seorang karyawan yang telah lama bekerja menceritakan kalau dulu si istri pernah diusir dari rumah mereka karena melakukan kesalahan. Seorang karyawan lama yang lain lagi mengatakan si istri pernah ditendang si suami saat ia mengandung anak ke dua. Dan semua karyawan tahu, segala kesalahan yang dilakukan istrinya pasti selalu berkaitan dengan uang perusahaan. Semua karyawan berkata harta mereka mengalir lepas karena terlalu digenggam kuat. Uang seperti pasir, genggamlah secara wajar jika tak mau merosot keluar dari sela-sela jari.

Dan ternyata, ada yang lebih mengenaskan dari disia-siakan oleh orang yang harusnya paling mengasihi kita: mengetahui kenyataan bahwa si istri tak memiliki teman untuk berbagi. Hari-harinya sudah begitu sibuk untuk mengurusi pekerjaan. Anak-anak pun hanya sempat ia perhatikan sekali-sekali. Si istri begitu takut pada suaminya hingga ia mencambuk dirinya sendiri untuk bekerja keras. Tak sempat lagi berinteraksi sosial. Bahkan mengurusi wajahnya sendiri pun tak ada waktu. Padahal untuk urusan penampilan ini pun sering jadi bahan sindiran si suami padanya.

Dulu-dulu, jika si istri diomeli si suami, emosinya pun akan ikut naik. Karyawan di dekatnya pun tak urung kena getahnya. Tapi belakangan ini, si istri rupanya telah berlatih sangat baik untuk tidak menjalarkan emosinya kepada karyawan.

Dan kenyataan itu makin miris di mata karyawan-karyawan yang dibawahi si istri. Karyawan-karyawannya itu, seiring berjalannya waktu, melihat bagaimana si istri telah bermetamorfosa. Betapa si istri seolah sudah membiasakan diri dengan cacian yang  melukai perasaan. Seolah kata ‘goblok’ telah mengalami pegeseran makna dan jadi lebih halus dari seharusnya.

Semua karyawannya tahu, si istri berasal dari keluarga berada. Ia fasih berbahasa Inggris karena pernah kuliah di luar negeri. Ia paham istilah inflasi. Ia cepat menangkap permasalahan yang membutuhkan logika. Pun kemampuannya secara teknis komputer terbilang lumayan. Tapi di mata karyawan-karyawannya, ia tak ada harganya, karena suaminya sendiri pun tidak menghargainya. Sedikit pun tidak menerbitkan rasa iri, malah jatuh kasihan. Yang mengejutkan, si istri masih bertahan di samping si suami. Kali ini para karyawan yang mengatai si istri, “bodoh!”. Apa yang ia pertahankan? Membuat semua orang tak habis pikir. Apa? Anak-anak? Bisa jadi iya, tapi karyawan-karyawannya tahu si istri, karena urusan pekerjaan, jadi tak terlalu dekat dengan anak-anak. Lalu apa? Para karyawan gregetan, betapa bodohnya si istri, tidakkah dia menyadari perannya yang begitu dominan di perusahaan? Seharusnya si istri bisa lebih mengangkat dagu dan mengatakan si suami tak akan berkutik jika tanpa dirinya. Perusahaan mustahil maju jika si suami tetap bergeming dalam gelembungnya yang aman dan bebas resiko.

Teori saya begini, entah disengaja atau tidak oleh si suami, teror cacian yang dialamatkannya pada si istri menurunkan kepercayaan diri si istri sebagai individu. Si istri lama-lama akan melihat dirinya sebagai manusia bodoh, goblok, patut disalahkan dan ditendang. She’s nothing. Si istri dipenuhi rasa takut dan enggan melepaskan diri. Ia memilih bertahan karena percaya hanya si suami yang mau menerima dirinya dan kepribadiannya yang menyedihkan itu. Di luar sana tak mungkin ada yang mau menerima dirinya. Kepercayaan diri si istri sudah dalam tahap sangat rendah.

Sebuah rumah tangga yang terdiri dari bos dan karyawan. Di tengah-tengah mereka ada uang dengan sekelumit masalahnya yang sensitif. Semua karyawannya hanya bisa mengiba dan bertanya-tanya, apa yang membuat mereka—atau lebih spesifik, si istri—bertahan? Apakah bonus jalan-jalan ke luar negeri dari klien mengimpaskan segala penderitaan? Apakah benar melihat Eiffel, Colloseum, Venesia, The Great Wall, Jeju Island, Hokaido dan Patung Emas Budha, mampu mengobati luka hati?