Rabu, 23 Juli 2014

Menuju Istana part 1 (Survei yang Tertukar)

Selamat kepada Bapak Joko Widodo dan Bapak Jusuf Kalla yang terpilih sebagai pasangan Presiden-Wakil Presiden Indonesia 2014 - 2019.

Terpilih.

Saya menyebutnya terpilih, bukannya menang.
Karena menurut saya pilpres bukan pertandingan atau kompetisi, di mana kemenangan adalah hasil akhir dan piala adalah tujuan. Unggul dalam pilpres justru adalah awal dari sebuah perjalanan. Kursi kepresidenan bukan tujuan, tapi justru awal dari sebuah perjalanan. Jadi, Bapak Jokowi dan Bapak JK, ini adalah garis start Anda berdua untuk membangun Indonesia.

Sebetulnya uadah sejak lama niat nulis  profil kedua calon presiden Indonesia ini dari kacamata saya sendiri. Niatnya sebelum tanggal 9 Juli, lalu begitu 9 Juli terlewat, target diundur sebelum tanggal 22 Juli yang merupakan tenggat KPU menetapkan presiden yang unggul dalam pilpres. Tapi tak apa, bahkan ketika hari ini sudah masuk tanggal 23 Juli, tanda-tanda urusan pilpres sudah berakhir belum kelihatan. Urusan pilpres ini bisa jadi masih ada episode selanjutnya.

Sebelum tanggal 9 Juli, salah satu abang ipar saya update status di akun facebook-nya. Dia bilang ingin cepet-cepet tanggal 9 Juli karena udah ga tahan dengan perang komen dari masing-masing kubu capres. Yes, I agrees with him. Walaupun saya ga bosen ngikutin semua pemberitaan soal pilpres baik dari TV maupun media online, tapi rasanya pengen juga segala perbedaan ini segera berakhir. 

Tapi apa mau dikata, ternyata 9 Juli tidak menjadikan pilpres ini terang benderang. Hal ini dikarenakan muncul hasil quick count yang berbeda dari beberapa lembaga survei. Serius, waktu tanggal 9 Juli saya juga rada janggal, lihat di kebanyakan TV JKW-JK unggul, tapi kok di beberapa TV (yang pro Prabowo) nomor 1 yang unggul. Baru kali ini terjadi. Mengutip komentar salah satu netizen di kolom berita Kompas, pemilu presiden kali ini bakal diingat sebagai pemilu paling brutal dan kotor sepanjang sejarah Indonesia.

Berikut beberapa meme tentang stasiun TV yang menayangkan hasil quick count yang berbeda dari lembaga survei yang sudah lebih dulu mapan.
 



Dan karena waktu itu masih Piala Dunia, dan kebetulan TV One yang menyiarkan, meme perbedaan hasil quick count pilpres ini pun berbau hasil pertandingan World Cup.













Soalnya slogan TV One kan Memang Beda :)

Hal-hal beda dari TV One bisa juga dilihat dari gambar di bawah ini.











Dan ini hasil final perhitungan resmi KPU, yang dibandingkan dengan beberapa lembaga survei yang melakukan quick count.

Yang jelas sesumbar lembaga survei yang bilang akan membubarkan diri kalau hasil perhitungan mereka beda dengan perhitungan KPU harus ditagih ya. Soalnya kan mereka yang nantangin. Hayooo!!! Hahaha.